Oleh: Rustam Fadly Tukuboya, SH.
(Politisi Gerindra/Anggota DPRD Buru)
Memasuki satu tahun kepemimpinan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dan Wakil Gubernur Abdullah Vanath (Lawamena), 20 Februari 2026, banyak pihak mulai menyoroti arah kebijakan dan program kerja yang telah dijalankan. Namun, penting diingat bahwa keberhasilan sebuah pemerintahan tidak bisa diukur hanya dalam tempo satu tahun. Proses pembangunan dan perubahan sosial-ekonomi memerlukan waktu, konsistensi, dan kesabaran.
Kepemimpinan dalam konteks pemerintahan bukan hanya soal pencapaian instan, melainkan juga visi jangka panjang yang mampu menata fondasi bagi kemajuan daerah. Berbagai program, mulai dari penguatan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi lokal, membutuhkan evaluasi yang objektif dan pemahaman terhadap dinamika lapangan.
Mengkritik pemerintah adalah bagian dari demokrasi. Namun, kritik yang bijak dan konstruktif akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan kritik yang bersifat emosional atau dangkal. Masyarakat dan media memiliki peran penting untuk mendorong akuntabilitas, tetapi tetap harus melihat konteks, tantangan, dan kompleksitas yang dihadapi pemerintahan baru.
Satu tahun mungkin terasa singkat, tetapi momentum ini adalah kesempatan untuk refleksi: menilai capaian yang sudah ada, memperbaiki strategi, dan merancang langkah-langkah ke depan. Kepemimpinan yang baik bukan hanya tentang popularitas, tetapi tentang konsistensi, transparansi, dan keteguhan dalam menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama.
Harapan terbesar bagi Maluku adalah agar kepemimpinan ini terus membawa arah yang jelas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan membangun Maluku menjadi provinsi yang mandiri dan maju, dengan kepala daerah yang terbuka terhadap masukan namun tetap tegas dalam mengambil keputusan yang berpihak pada rakyat.