Media Istana, Berau
Beberapa Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi ( SPPG ) yang mengelola Program Makan Bergizi Gratis ( MBG ) di Kabupaten Berau, menjadi sorotan seperti di Kecamatan Sambaliung, setelah adanya laporan dari petugas dan hasil pemantauan yang menunjukkan ketidaksesuaian dengan standar komposisi giI dan higienitas makanan yang ditetapkan pemerintah. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan mengingat kasus keracunan MBG yang terjadi di beberapa daerah lainnya akhir tahun lalu.
Menurut informasi yang di peroleh, beberapa SPPG di Kecamatan Sambaliung dicurigai memiliki sejumlah masalah, antara lain:
* Higienitas yang tidak memenuhi    standar:
Terdapat indikasi pelanggaran Standar Operasional  Prosedur mulai dari tahap  pembelian hingga distribusi.  Beberapa laporan menyebutkan  bahwa bahan makanan dibeli  hingga empat hari sebelum di olah  ( Standar maksimal dua hari ),  penyimpanan bahan tidak  menggunakan peralatan pendingin  yang memadai dan waktu antara pemasakan hingga distribusi melebihi batas optimal empat jam. Bahkan terdapat kasus yang mencatat makanan dipersiapkan semalam sebelumnya.
* Komposisi gizi yang tidak  seimbang:
Menu MBG cenderung mengandalkan bahan non lokalseperti wortel dan melon yang tidak diproduksi secara memadai di Berau, sementara komoditas lokal potensial seperti ikan tongkol dan tuna yang produksinya mencapai sekitar 954 ton per tahun ( 89,95 % dari kebutuhan masyarakat ) jarang di gunakan. Selain itu ketersediaan lauk nabati seperti tahu dan tempe juga sangat terbatas karena ketergantungan pada bahan baku kedelai yang hanya tersedia sekitar 12 ton per tahun, jauh dibawah kebutuhan MBG yang mencapai 210 ton per tahun.
* Fasilitas yang belum optimal.
Meskipun sebagian peralatan masak telah memenuhi standar, seperti ditemukan saat kunjungan Bupati Berau Sri Juniarsih Mas ke SPPG Karang Ambun pada September 2025 lalu, masih terdapat beberapa aspek yang perlu disempurnakan, termasuk kebersihan area kerja dan sistem pengelolaan limbah.
KONDISI SPPG DI KECAMATAN SA
MBALIUNG.
Kecamatan Sambaliung merupakan salah satu wilayah yang menjadi fokus pembangunan SPPG di Berau. Sebagaimana di Sekda Berau Muhammad Said pada media September 2025 lalu, Pembangunan SPPG di kawasan ini masih dalam tahap proses dan uji coba bersama dengan wilayah Tanjung Redeb dan Teluk Bayur. Namun tantangan utama yang di hadapi adalah ketersediaan air bersih yang belum merata di beberapa kampung seperti Sambaliung, Pegat Bukur dan Rantau Panjang. Kekurangan air bersih berpotensi memengaruhi kebersihan proses pengolahan makanan di SPPG.
Pemkab Berau telah melakukan inspeksi langsung ke beberapa SPPG di wilayah ini dan menemukan beberapa poin yang perlu diperbaiki terkait dengan sistem pengolahan dan kebersihan.
Untuk mengantisipasi terjadinya masalah yang lebih serius, Pemkab Berau mengambil sejumlah kebijakan konkret berupa Kewajiban Sertifikasi di setiap SPPG harus memiliki Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi ( SLHS ) dan tenaga penjamah makanan harus mengikuti pelatihan resmi secara berkala.
Pembentukan Gugus Tugas khusus yang dibentuk dengan sekretariat di Dinas Pangan untuk memperkuat pengawasan dan menangani secara cepat jika terjadi kasus keracunan atau pelanggaran standar. Selain itu dilakukan pengawasan berjenjang dari Dinas Kesehatan Kabupaten hingga Puskesmas Kecamatan, mencakup pemeriksaan penyimpanan bahan baku, proses pengolahan hingga distribusi makanan ke sekolah.
Kepala Dinas Pangan Berau, Rahmadi Pasarakan menyatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan pendamping terhadap pengelola SPPG untuk memperbaiki sistem operasional dan memastikan kesesuaian dengan standar yang berlaku.
” Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa program MBG memberikan manfaat yang optimal bagi peserta didik di Berau. Okeh karena itu, setiap temuan masalah akan segera di tindak lanjuti dengan perbaikan yang konkret ” ujar Rahmadi.
Aroel mandang