STITBA Babussalam Aceh Tenggara Gelar Wisuda Angkatan IV, Kukuhkan 97 Lulusan Sarjana
.
Aceh Tenggara KALIBER ACEH.Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Babussalam (STITBA) Aceh Tenggara kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi keagamaan yang berkomitmen mencetak sumber daya manusia unggul dan berkarakter. Hal tersebut ditandai dengan pelaksanaan Wisuda Sarjana Angkatan IV yang mengukuhkan 97 orang lulusan, bertempat di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tenggara,
Sabtu (24/2), mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.
Prosesi wisuda berlangsung khidmat dan penuh makna, dihadiri pimpinan yayasan, sivitas akademika STITBA, perwakilan Kopertais Wilayah V Aceh, tokoh pendidikan, serta para orang tua dan keluarga wisudawan. Momentum ini tidak hanya menjadi puncak pencapaian akademik mahasiswa, tetapi juga refleksi keberhasilan institusi dalam menjalankan amanah pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam sambutan resminya, Ketua STITBA Babussalam Aceh Tenggara,
Harli Selian, M.Ag, menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab pengabdian yang lebih luas. Para lulusan, menurutnya, dituntut hadir sebagai agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah, khususnya di sektor pendidikan dan pembinaan generasi muda.
Ia menekankan bahwa tantangan ke depan tidak semakin ringan, melainkan semakin kompleks, sehingga lulusan harus memiliki ketangguhan mental, integritas moral, serta komitmen keilmuan yang berkelanjutan.
“Kesuksesan tidak pernah lahir dari jalan yang mudah. Ia ditempa oleh proses panjang dan penuh rintangan. Karena itu, lulusan STITBA harus memiliki mental yang kuat, akhlak yang kokoh, dan kesiapan untuk terus belajar,” ujar Harli Selian.
Sementara itu, Ketua Yayasan Perguruan Babussalam Aceh Tenggara, H. Muhammad Rifa’i Matondang, S.Pd, dalam sambutannya menyoroti dinamika perubahan zaman yang begitu cepat, terutama di era Society 5.0. Ia menilai kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi, nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama yang tidak boleh ditinggalkan.
Moralitas agama, menurutnya,
merupakan penyangga utama agar kemajuan teknologi tidak menggerus nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam orasi ilmiah, Dr. Syadidul Kahar, M.Pd, menyampaikan bahwa tantangan terbesar di era industri dan masyarakat 5.0 bukan hanya soal adaptasi teknologi, tetapi juga kesiapan mental dan spiritual. Ia mengingatkan bahwa perubahan zaman sering kali datang lebih cepat dari kesiapan manusia.
“Ketika kita merasa tertinggal oleh perubahan, iman dan amal harus menjadi jangkar utama. Di situlah letak kekuatan manusia agar tidak hanyut oleh arus zaman,” ungkapnya.
Apresiasi dan Catatan Kritis dari sekjen KALIBER Aceh
Di sisi lain, sekjen Lembaga Swadaya Masyarakat KALIBER Aceh, sadikin atau yang akrab disapa patra, turut memberikan pandangannya terkait pelaksanaan wisuda dan peran strategis perguruan tinggi keagamaan di Aceh Tenggara.
Sadikin patra menyampaikan apresiasi atas konsistensi STITBA Babussalam Aceh Tenggara dalam mencetak lulusan sarjana yang berorientasi pada penguatan moral dan pendidikan masyarakat. Menurutnya, kehadiran perguruan tinggi seperti STITBA menjadi sangat penting di tengah tantangan degradasi nilai dan krisis keteladanan di ruang publik.
“STITBA Babussalam tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga diharapkan mampu melahirkan generasi pendidik yang punya integritas, keberanian moral, dan kepekaan sosial.
Ini modal penting untuk membenahi dunia pendidikan dan kehidupan sosial di Aceh Tenggara,” sadikin patra Agara.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa tanggung jawab lulusan tidak berhenti pada gelar akademik semata. Menurutnya, para sarjana harus berani hadir di tengah masyarakat, membawa nilai kejujuran, keberpihakan pada kepentingan publik, serta semangat pengabdian yang tulus.
“Gelar sarjana bukan sekadar simbol prestasi, tetapi amanah. Jika ilmu tidak diabdikan untuk kepentingan masyarakat, maka ia kehilangan maknanya. Karena itu, lulusan harus berani bersikap dan tidak apatis terhadap persoalan sosial,” lanjutnya.
Sadikin patra juga mendorong perguruan tinggi keagamaan untuk terus menjaga independensi moral dan tidak larut dalam pragmatisme. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang pembentukan karakter kritis dan etis, bukan sekadar pabrik ijazah.
Wisuda Sarjana Angkatan IV ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk karakter bangsa. STITBA Babussalam Aceh Tenggara menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas akademik, relevansi kurikulum, serta pembinaan moral mahasiswa agar lulusannya mampu menjadi agen perubahan yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat dan daerah.
Sementara itu, Koordinator Kopertais Wilayah V Aceh yang diwakili oleh Sekretaris Kopertais, Dr. Bustami, M.Hum,
Kembali menegaskan komitmen Kopertais V Aceh dalam melakukan pembinaan dan peningkatan mutu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS).
Ia menjelaskan bahwa peningkatan mutu PTKIS harus mencakup tiga aspek utama, yakni kualitas input, proses, dan output pendidikan. Dalam kesempatan tersebut, ia juga memaparkan empat tugas utama Kopertais, meliputi:
Pengawasan PTKIS
Peningkatan mutu kelembagaan dan akademik.
Pembinaan berkelanjutan
Pemberdayaan sumber daya manusia dan institusi
Dengan terselenggaranya wisuda ini, diharapkan para lulusan STITBA Babussalam Aceh Tenggara.
Mampu menjadi pendidik, intelektual, dan pelayan masyarakat yang berpegang teguh pada nilai keislaman, keilmuan, serta tanggung jawab sosial.
(AR/SE)