Di balik setiap langkah yang lahir dari ketulusan, selalu tersimpan makna yang melampaui kepentingan pribadi. Begitulah niat luhur yang diwujudkan oleh Ibrahim Wael, seorang anak keluarga yang memilih berjalan menyusuri jejak sejarah leluhurnya dengan penuh hormat dan tanggung jawab.
Puluhan tahun telah berlalu sejak sang bibi—kerabat dekat dari garis keluarga ayah—menghembuskan napas terakhir dan dimakamkan di Ambon, tepatnya di Ponogoro Atas. Waktu boleh terus bergerak, namun rasa bakti dan ingatan keluarga tidak pernah pudar. Atas dasar itulah muncul keinginan tulus untuk memindahkan makam tersebut ke negeri Asilulu, tanah yang menyimpan akar sejarah keluarga dan menjadi tempat bersemayamnya para leluhur.
Pemindahan makam ini bukanlah perkara ringan, apalagi sekadar urusan teknis. Ia adalah ikhtiar batin, yang dilakukan dengan penuh pertimbangan adat, nilai kekeluargaan, serta penghormatan kepada mereka yang telah lebih dahulu kembali ke hadirat Tuhan. Di Asilulu, perhatian tidak hanya tercurah pada makam sang bibi, tetapi juga pada pembuatan batu nisan bagi para raja dan keluarga raja—sebuah penegasan bahwa sejarah, martabat, dan silsilah keluarga harus dijaga dan dikenang dengan sebaik-baiknya.
Pada saat yang sama, pembangunan tembok makam keluarga pun dilakukan. Tembok ini bukan hanya struktur fisik, melainkan simbol penjaga kenangan, penanda persatuan darah dan jiwa, serta pernyataan bahwa ikatan keluarga tetap berdiri kokoh meski diterpa oleh zaman dan jarak.
Seluruh rangkaian ini dilandasi oleh satu tujuan mulia: memudahkan keluarga untuk berziarah. Dengan demikian, doa dapat terus mengalir, rasa hormat tetap terpelihara, dan hubungan batin antara yang hidup dan yang telah berpulang tidak pernah terputus. Ziarah bukan sekadar kunjungan, melainkan ruang perenungan, tempat menyatukan rasa syukur, kerinduan, dan pengingat akan asal-usul diri.
Apa yang dilakukan Ibrahim Wael adalah cermin nilai luhur tentang bakti kepada keluarga dan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan leluhur. Di tengah dunia yang kian cepat melangkah dan sering melupakan akar, tindakan ini menjadi pelajaran berharga: bahwa menghormati masa lalu bukanlah sikap mundur, melainkan fondasi kokoh untuk melangkah ke masa depan dengan jati diri yang utuh.(AS)