Politisi Partai Gerindra sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Buru, Rustam Fadly Tukuboya, SH, angkat bicara menanggapi maraknya “pengamat dadakan” yang belakangan ramai menyerang pemerintahan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.
Menurut Tukuboya, kelompok ini tidak lebih dari barisan sakit hati (BSH)—barisan orang-orang yang secara politik sudah kalah, tetapi secara batin belum selesai menerima kenyataan.
“Mereka ini bukan pengamat, tapi barisan sakit hati yang belum sembuh. Kekalahan politik mereka masih membusuk di dalam kepala, berubah jadi najis batin. Akibatnya, mereka tidak lagi mampu membedakan mana kebenaran dan mana kebencian,” tegas Tukuboya, Senin, (19/1)
Ia menilai, klaim sebagai pengamat hanyalah kamuflase untuk melampiaskan dendam politik. Setiap kebijakan gubernur selalu dicari-cari celahnya, bukan untuk diperbaiki, tetapi untuk dihancurkan lewat opini dangkal dan tuduhan tanpa dasar.
“Kalau memang pengamat, mana data? Mana kajian? Mana solusi? Yang saya lihat hanya ocehan emosional, asumsi liar, dan kesimpulan yang lahir dari sakit hati, bukan dari nalar,” lanjutnya.
Tukuboya juga dengan keras membantah narasi yang menyebut Gubernur Hendrik Lewerissa sebagai sosok memimpin Maluku yang gagal dan terburuk dalam sejarah.
“Gubernur Hendrik Lewerissa itu bukan sosok bodoh seperti yang mereka bayangkan. Justru mereka sendiri—gagal memahami demokrasi, gagal memahami peran oposisi yang sehat, dan gagal memahami bahwa kekuasaan hari ini diraih secara sah,” ujarnya lugas.
Ia menegaskan bahwa kritik adalah bagian penting dalam demokrasi, tetapi kritik harus berdiri di atas kejujuran intelektual, bukan dendam politik.
“Demokrasi tidak memberi ruang bagi kritik yang lahir dari najis batin. Kalau kritik tidak berbasis data dan niat baik, itu bukan kritik—itu agitasi murahan,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Tukuboya mengingatkan bahwa masyarakat Maluku tidak sebodoh yang dibayangkan oleh para pengamat dadakan tersebut.
“Rakyat Maluku bisa menilai mana kritik yang tulus dan mana kebencian yang disamarkan. Gubernur boleh dikritik, tapi jangan hina akal sehat publik dengan analisis palsu. Luka politik kalian bukan urusan pemerintahan hari ini,” pungkasnya.