Oleh: Raja Regentscap Kaiely, Ibrahim Wael
Sebagai Raja Regentschap Kayeli, kegelisahan terbesar saya bukan semata tentang kekuasaan, melainkan tentang nasib rakyat—terutama para kepala soa, kepala adat pesisir, serta masyarakat kecil yang hingga kini masih berjuang mengantarkan anak-anak mereka ke bangku pendidikan tinggi. Pendidikan adalah jalan peradaban, namun jalan itu belum sepenuhnya dapat dilalui oleh semua anak negeri.
Saya teringat sosok orang tua saya, almarhum Raja Abas Wael, yang pada masanya masih mampu merangkul seluruh wilayah, dari Namlea Ilath hingga Waeapo, dalam satu ikatan kekeluargaan dan tanggung jawab adat. Kepemimpinan beliau bukan hanya memerintah, tetapi mengayomi—bukan hanya memimpin, tetapi merasakan denyut kehidupan rakyatnya.
Kini, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, saya terus bertanya pada diri sendiri: bagaimana menggali dan menghidupkan potensi yang tersimpan di dalam Regentschap Kakely? Potensi sumber daya manusia, potensi budaya, potensi alam, dan potensi persatuan yang selama ini menjadi kekuatan kita.
Sebagai Raja, saya menyadari bahwa saya tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan sinergi yang kuat dan tulus antara lembaga adat, pemerintah daerah, serta TNI dan POLRI, agar setiap kebijakan dan langkah yang diambil benar-benar menjawab kepentingan rakyat. Sinergi ini bukan sekadar formalitas, melainkan ikhtiar bersama demi keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.
Kondisi yang ada hari ini mengajarkan saya bahwa penghormatan terhadap adat harus diwujudkan secara nyata. Kepala soa dan kepala adat adalah penjaga nilai, penyangga harmoni, dan pelindung tatanan sosial. Sudah sepatutnya mereka memperoleh perhatian yang layak. Setidak-tidaknya, mereka harus menerima tunjangan bulanan yang manusiawi—sebesar satu juta rupiah—sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian mereka kepada masyarakat dan adat.
Adat tidak boleh hanya dipuja dalam upacara, tetapi harus dijaga dalam kebijakan. Rakyat tidak cukup hanya didengar, tetapi harus diberdayakan. Inilah panggilan nurani saya sebagai Raja Regentschap Kaiely: menjaga martabat adat, merajut masa depan generasi muda, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun anak negeri yang tertinggal karena kemiskinan dan keterbatasan.
Karena kekuatan sebuah negeri bukan diukur dari besarnya wilayah, melainkan dari sejauh mana pemimpinnya mampu berdiri bersama rakyatnya.
(Ahmad)