Probolinggo, Mediaistana.com
Inovasi layanan kesehatan bertajuk GITA CEKATAN (Gizi Balita Kurang Tanggap Cek TBC Anak) yang dikembangkan UPT Puskesmas Pajarakan terbukti efektif meningkatkan deteksi Tuberkulosis (TBC) pada anak sekaligus memperbaiki status gizi balita.
Program ini menjadi terobosan pengendalian TBC anak dengan mengintegrasikan skrining kesehatan dan pemantauan gizi dalam satu layanan terpadu. Pada skrining yang digelar Jumat (10/4/2026), sebanyak 41 balita menjadi sasaran pemeriksaan. Mereka terdiri dari balita gizi kurang, gizi buruk, serta balita dengan berat badan stagnan atau menurun selama dua bulan berturut-turut.
Kegiatan dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Pajarakan Dian Sudarmono, Kepala Puskesmas Pajarakan dr. Maulida Rachmani, serta jajaran tenaga kesehatan Puskesmas Pajarakan.
Skrining dilakukan secara kolaboratif oleh Pelaksana Program TBC Sumiyati dan Pelaksana Program Gizi Ika Melinatini. Kegiatan ini menjadi bagian dari percepatan eliminasi TBC 2030 sekaligus upaya penanganan stunting.
Ketua TP PKK Kecamatan Pajarakan Dian Sudarmono menegaskan dukungannya. Menurutnya, penanganan balita gizi kurang akan lebih optimal jika penyebab utama, termasuk kemungkinan TBC, dapat terdeteksi dan diobati sejak dini.
Balita sehat, bebas TBC dan bebas stunting menjadi harapan kita bersama. Kami akan terus mengedukasi para ibu untuk aktif melakukan skrining di posyandu maupun puskesmas, ujarnya.
Kepala Puskesmas Pajarakan dr. Maulida Rachmani mengimbau orang tua tidak ragu memeriksakan anak, terutama bila berat badan tidak naik dalam dua kali penimbangan berturut-turut. Segera lakukan skrining ke puskesmas, khususnya skrining TBC, agar jika terdeteksi bisa langsung ditangani dan kondisi anak kembali normal, ungkapnya.
Pelaksana Program TBC Puskesmas Pajarakan Sumiyati menjelaskan, GITA CEKATAN sudah dijalankan rutin sejak 2025 dengan pendekatan terpadu antara deteksi TBC dan pemantauan gizi. Ini langkah strategis untuk percepatan eliminasi TBC 2030 sekaligus penanganan stunting. Kami menyasar balita berisiko agar intervensi tepat sasaran, katanya.
Hasilnya signifikan. Pada 2025, capaian penemuan kasus TBC anak melampaui target. Dari target 18 kasus, ditemukan 19 kasus atau 106 persen. Angka ini meningkat drastis dibanding 2024 yang hanya 7 kasus atau 41 persen dari target, jelasnya.
Program ini juga berdampak pada perbaikan gizi balita. Seluruh pasien TBC anak yang ditangani mengalami kenaikan berat badan minimal 10 persen dari berat awal, dan sebagian berhasil kembali ke status gizi normal. Deteksi dini sangat penting. Semakin cepat ditemukan penyebabnya, penanganan lebih mudah dan hasilnya lebih optimal, tambahnya.
Melalui GITA CEKATAN, Puskesmas Pajarakan berharap penanggulangan TBC anak berjalan lebih efektif sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan balita di Kabupaten Probolinggo secara berkelanjutan.