Mediaistana.com || Kabupaten Bogor, Jabar
Konflik lahan antara warga dengan pihak perusahaan di kawasan kaki Gunung Salak kembali memanas. Warga Desa Sukajaya dan Sukaluyu mengaku resah setelah aktivitas perataan lahan disebut masih terus berlangsung di tengah proses sengketa yang dikabarkan belum selesai.
Keresahan warga mencuat melalui sejumlah unggahan di media sosial yang memperlihatkan aktivitas alat berat di lokasi sengketa. Dalam unggahan tersebut, warga menilai aktivitas dilakukan secara sepihak dan mengabaikan aspirasi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari lahan garapan di kawasan tersebut.
Selain mempersoalkan status lahan, warga juga menyoroti dugaan belum adanya izin dalam aktivitas perataan lahan yang dilakukan. Mereka meminta pemerintah dan instansi terkait segera turun tangan untuk memastikan legalitas kegiatan tersebut serta menghentikan aktivitas yang berpotensi memicu konflik lebih luas.
Menurut warga, persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan kepemilikan tanah, namun juga menyangkut keselamatan lingkungan di kawasan kaki Gunung Salak yang dikenal sebagai daerah resapan air penting. Mereka khawatir kerusakan lahan akibat pembukaan area secara masif dapat memperparah risiko bencana alam seperti banjir dan longsor, terutama saat musim hujan.
“Kalau kawasan resapan terus dirusak, dampaknya bukan hanya untuk warga sekitar, tapi juga wilayah lain yang bergantung pada aliran air dari kawasan ini,” ujar salah seorang warga dalam unggahan yang beredar.
Sementara itu, proses penyelesaian sengketa lahan dikabarkan masih terus berjalan. Pihak terkait disebut akan dimintai keterangan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) guna memperjelas status kepemilikan dan legalitas aktivitas di lokasi sengketa.
Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat segera mengambil langkah mediasi agar konflik tidak semakin meluas dan kondisi lingkungan di kawasan kaki Gunung Salak tetap terjaga.