Renungan Hidup oleh: Muhamad Daniel Rigan Ada satu masa dalam hidup ketika mata mulai berubah.
Huruf-huruf kecil yang dahulu terbaca jelas perlahan mengabur. Tangan refleks menjauhkan buku, layar ponsel, atau koran dari wajah agar semuanya kembali terlihat terang. Dokter menyebutnya presbiopia—rabun dekat—sebuah tanda bahwa usia sedang berjalan sebagaimana mestinya. Lensa mata menua, sebagaimana kulit mulai mengerut dan rambut perlahan memutih.
Namun mungkin, rabun dekat bukan sekadar persoalan mata.Ia adalah isyarat kehidupan.
Sejak muda manusia diajarkan untuk melihat jauh. Kita mengejar cita-cita, mimpi besar, nama, pencapaian, dan berbagai hal yang tampak gemilang di kejauhan. Kita terus berlari menuju masa depan, seolah kebahagiaan selalu berada di ujung jalan yang belum sampai. Dalam perjalanan itu, sering kali kita lupa memperhatikan apa yang berada tepat di depan mata: keluarga yang diam-diam menua bersama kita, sahabat yang setia menemani, hati sendiri yang lelah, dan waktu yang perlahan habis tanpa terasa.
Ironisnya, ketika usia mulai senja dan kesadaran hidup menjadi lebih jernih, barulah kita memahami bahwa banyak hal yang paling berharga ternyata selama ini begitu dekat. Kedamaian bukan berada di tempat yang jauh, melainkan dalam penerimaan. Kebahagiaan bukan selalu tentang memiliki lebih banyak, tetapi tentang menghargai apa yang telah ada.
Akan tetapi pada saat kesadaran itu datang, mata justru mulai sulit melihat yang dekat.
Mungkin hidup memang sedang mengajarkan sesuatu: bahwa manusia sering terlambat memahami apa yang sesungguhnya penting.
Karena itu, bagi mereka yang masih muda, belajarlah menghargai apa yang ada di depan matamu. Kenalilah dirimu dengan jujur.
Perhatikan orang-orang yang hidup bersamamu hari ini. Jangan terlalu sibuk memandang cakrawala hingga lupa merawat rumah tempat hatimu pulang. Sebab suatu hari nanti, ketika usia membuat penglihatanmu berubah, engkau mungkin hanya mampu melihat yang jauh, sementara yang dekat telah menjadi samar.
Dan pada titik itu, manusia perlahan berubah dari pelaku menjadi saksi.Ia tidak lagi sibuk menghakimi kehidupan, sebab ia mulai memahami bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling mengerti.
Rabun dekat dan rabun jauh pada akhirnya bukan hanya istilah medis.Ia adalah gambaran tentang tabiat manusia. Ada yang begitu mudah melihat kekurangan orang lain, tetapi buta terhadap dirinya sendiri dan keluarganya. Ada pula yang hanya sibuk dengan lingkaran kecilnya hingga lupa memahami dunia yang lebih luas.
Namun orang bijak tidak terjebak pada keduanya.
Ia melihat tidak hanya dengan mata, tetapi juga dengan hikmat. Ia mampu memandang yang dekat dengan kasih, dan melihat yang jauh dengan kebijaksanaan. Karena sejatinya, penglihatan terbaik bukanlah milik mata yang paling tajam, melainkan milik hati yang paling sadar.