MEDIAISTANA.COM | Banyuwangi – Insiden kericuhan yang terjadi dalam gelaran Piala PSSI Kabupaten Banyuwangi menuai kecaman keras dari berbagai pihak. Salah satu suara paling lantang datang dari pentolan Desi Banteng FC yang menilai panitia pelaksana telah gagal menjalankan tugas pokoknya dalam menjamin keamanan, ketertiban, dan kenyamanan selama pertandingan berlangsung.
Menurutnya, sepak bola seharusnya menjadi ajang hiburan rakyat, sarana mempererat persaudaraan, dan wadah pembinaan atlet. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kericuhan yang berujung pada bentrokan antarpendukung dinilai telah mencoreng nama baik sepak bola Banyuwangi serta menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat yang datang untuk menikmati pertandingan.
“Kami sangat menyayangkan insiden ini. Sepak bola adalah hiburan, bukan arena konflik. Ketika masyarakat datang membawa keluarga untuk menonton, yang mereka harapkan adalah tontonan yang aman dan nyaman, bukan suasana mencekam yang berpotensi membahayakan keselamatan penonton,” tegasnya.
Pihak Desi Banteng FC menilai terdapat sejumlah kelemahan dalam penyelenggaraan pertandingan yang harus dievaluasi secara menyeluruh. Mulai dari sistem pengamanan, pengaturan suporter, pengawasan di area stadion, hingga langkah antisipasi terhadap potensi konflik yang seharusnya sudah dapat dipetakan sejak awal.
Kericuhan yang terjadi dianggap bukan sekadar persoalan emosional antarpendukung, melainkan juga menjadi indikator adanya dugaan kelalaian dalam manajemen pertandingan. Karena itu, pihaknya mendesak panitia pelaksana untuk tidak menutup mata dan segera mengambil tanggung jawab moral maupun administratif atas kejadian tersebut.
Desi Banteng FC juga meminta adanya evaluasi total terhadap seluruh unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan kompetisi, termasuk panitia pelaksana, koordinator suporter, perangkat pertandingan, hingga pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam pengamanan kegiatan.
“Jangan sampai setiap kali terjadi kericuhan, yang disalahkan hanya suporter. Semua pihak harus berani bercermin. Jika ada kelemahan dalam penyelenggaraan, maka harus diakui dan diperbaiki. Jangan mencari kambing hitam,” ujarnya.
Selain evaluasi menyeluruh, pihaknya juga mendorong agar laga final dipertimbangkan untuk dipindahkan ke venue netral atau dilaksanakan tanpa penonton apabila kondisi keamanan dinilai belum kondusif. Langkah tersebut dianggap perlu demi menghindari terulangnya insiden serupa yang berpotensi menimbulkan korban lebih besar.
Tidak hanya itu, mereka juga meminta agar dilakukan investigasi independen terhadap rangkaian peristiwa yang menyebabkan kericuhan. Jika ditemukan adanya unsur kelalaian atau pelanggaran prosedur dalam penyelenggaraan pertandingan, maka langkah hukum harus ditempuh sesuai ketentuan yang berlaku.
“Keselamatan masyarakat adalah prioritas. Jika ada pihak yang lalai sehingga menyebabkan situasi menjadi tidak terkendali, maka harus ada pertanggungjawaban yang jelas. Jangan sampai kejadian ini berlalu begitu saja tanpa evaluasi dan tanpa konsekuensi,” tambahnya.
Masyarakat pecinta sepak bola Banyuwangi juga diimbau untuk tetap menjaga kondusivitas dan tidak terprovokasi oleh berbagai informasi yang beredar di media sosial. Semua pihak diminta menahan diri serta memberikan ruang bagi proses evaluasi dan penelusuran fakta yang sedang berlangsung.
Insiden ini menjadi alarm serius bagi dunia sepak bola Banyuwangi. Kompetisi yang seharusnya menjadi panggung prestasi dan pembinaan pemain muda justru tercoreng oleh kericuhan yang tidak diharapkan. Publik kini menanti langkah konkret dari panitia dan pihak terkait untuk mengungkap penyebab insiden, mengevaluasi penyelenggaraan, serta memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Hiburan seharusnya menghadirkan kegembiraan, bukan ketakutan. Sepak bola harus menjadi ruang persatuan, bukan arena yang mempertaruhkan keselamatan masyarakat.”
Publik Banyuwangi kini menunggu: apakah insiden ini akan menjadi momentum perbaikan besar dalam tata kelola kompetisi sepak bola daerah, atau hanya menjadi catatan kelam yang berlalu tanpa pertanggungjawaban yang jelas.