
Rekonstruksi Glokal ELT di Era Digital: Menuju Pembelajaran Bahasa Inggris yang Berbasis Budaya dan Teknologi.
Oleh : Teguh Sulistyo1, Jitro Jeremia Atti2, Rizky Lutviana3, Ananda Ayu Salsabila dan Selina
Universitas Kanjuruhan Malang
A. Pendahuluan
Keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris seringkali diukur dari kemampuan mahasiswa untuk menguasai aspek-aspek bahasa yang meliputi kemampuan berbicara, menulis, kosa kata atau tata bahasa. Bahkan ketika seorang mahasiswa mampu berbicara bahasa Inggris dianggap sebagai orang yang mahir berbahasa asing. Hal ini tidak mengherankan karena kemampuan berbicara seringkali dianggap sebagai tolok ukur utama kemampuan berbahasa. Namun demikian, dalam praktik pembelajaran, penulis sering menemukan mahasiswa yang mampu berbicara dalam bahasa Inggris, namun belum sepenuhnya memahami makna budaya yang melekat dalam penggunaan bahasa tersebut (Sulistyo, 2025). Contoh, ketika seorang mahasiswa berkata “Who is your name?” menunjukkan bahwa dia terpengaruh oleh bahasa ibu (Indonesia). Hal ini dikarenakan dalam bahasa Indonesia kita bertanya pada seseorang dengan “Siapa namamu?”. Nampaknya, dia melakukan penerjemahan secara langsung dari “Siapa namamu?” menjadi “Who is your name?”. Padahal dalam bahasa Inggris menanyakan nama seseorang menggunakan what bukan who, sehingga ungkapan yang benar adalah “What is your name?”.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Inggris belum sepenuhnya mengintegrasikan dimensi budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penggunaan bahasa (Widiastuti dkk., 2026). Budaya dalam konteks ini tidak hanya berorientasi pada konsep global tetapi juga memadukan unsur global dan lokal (glokal), dan menempatkan keduanya dalam hubungan yang dinamis dan saling mengisi (Lease & Texas, 2023; Park, 2014). Perpaduan antara budaya penutur asli dan budaya mahasiswa perlu didiskusikan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Hal ini dilakukan agar mahasiswa memahami bahwa ketika ada dua budaya atau lebih bertemu, akan ditemukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan. Ini menunjukkan bahwa mempelajari bahasa asing berarti harus mempelajari pula budaya penutur asli (Siswantara, 2021). Topik ini perlu disampaikan agar ketika mahasiswa berbicara dalam bahasa Inggris mereka memperhatikan tidak hanya struktur kalimat tapi juga kultur sehingga menciptakan ungkapan yang dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh pendengar.
Dalam salah satu sesi pembelajaran, penulis menemukan bahwa mahasiswa mampu berbicara dalam bahasa Inggris dengan cukup lancar, namun mengalami kesulitan dalam memahami makna budaya yang terkandung dalam ujaran tersebut. Misalnya, ungkapan “Do as what Romans do while you are in Rome” diterjemahkan menjadi “Lakukan seperti apa yang orang Roma lakukan ketika kamu di kota Roma”. Hal ini menunjukkan budaya berperibahasa di budaya bahasa Inggris berbeda dengan yang ada di Indonesia. Seharusnya ungkapan tersebut dicarikan padanan yang paling dekat dengan budaya Indonesia, yaitu “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Contoh kasus ini menunjukkan bahwa di kelas penulis masih sering terjadi bukan hanya kesalahan tapi cultural transfer atau pragmatic failure.
Sementara itu, pembelajaran bahasa Inggris dewasa ini cenderung memanfaatkan peran teknologi digital dalam penyampaian materi pembelajaran. Penggunaan media sosial yang merupakan kegiatan mahasiswa sehari-hari dapat dimanfaatkan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran (Ertan Özen & Duran, 2019; Liontas & Mannion, 2021). Penulis percaya bahwa teknologi digital bukan lagi sebatas alat bantu belajar, tetapi sudah menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari ekosistem proses pembelajaran bahasa itu sendiri. Teknologi memungkinkan mahasiswa mengakses sumber belajar yang tidak terbatas. Mereka dapat mempelajari budaya penutur asing dari cara mengucapkan suatu ungkapan maupun gestur tubuh dengan jelas melalui multimedia yang dapat mereka peroleh dengan mudah di dunia maya. Dengan demikian, mereka dapat mempelajari budaya penutur asing tanpa kehilangan ruh maupun identitas budaya lokal.
Pengalaman penulis ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah pembelajaran bahasa Inggris selama ini sudah cukup mengintegrasikan aspek budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penggunaan bahasa? Rekonstruksi konsep glokal dalam pembelajaran bahasa Inggris tidak hanya dimaknai sebagai upaya mengintegrasikan unsur global dan lokal, tetapi juga sebagai proses membekali mahasiswa agar mampu memahami, merefleksikan, dan menerapkan makna lintas budaya secara kritis di tengah arus digitalisasi yang semakin kompleks. Oleh sebab itu, tulisan ini tidak hanya membahas integrasi budaya dalam ELT, tetapi juga menawarkan kerangka glokal berbasis digital sebagai pendekatan pedagogis yang kontekstual di Indonesia. Diharapkan dengan mendiskusikan peran budaya dalam pembelajaran bahasa di era digital, mahasiswa mampu berpikir secara bijak dengan berwawasan global dan berperilaku lokal (glokal).
B. Bahasa dan Budaya: Dua Sisi Mata Uang yang Tak Terpisahkan
Dalam konteks Indonesia sebagai negara multikultural dan multilingual, relasi antara bahasa dan budaya merupakan hal yang lumrah. Multikulturalisme merupakan konsep hidup bagi bangsa Indonesia yang memiliki multibahasa (Wasino, 2013). Namun demikian, bahasa Inggris sebagai bahasa global sudah berinteraksi antara nilai-nilai global dan nilai-nilai lokal yang telah mengakar kuat dalam masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan English Language Teaching (ELT) di Indonesia tidak cukup hanya berorientasi pada standar global, tetapi perlu mengadopsi perspektif glokal. Oleh sebab itu, ELT wajib mengintegrasikan nilai global dan konteks lokal yang saling melengkapi. Konsep ini menegaskan bahwa pembelajaran bahasa harus mempertimbangkan ‘dunia baru’, yaitu ruang integrasi antara budaya lokal dan budaya target atau penutur asing. Dalam konteks Indonesia, integrasi ini mengupayakan agar mahasiswa menggunakan bahasa Inggris tanpa kehilangan identitas keindonesiaannya. Menurut Solehuddin dan Budiman (2019), interaksi antar kelompok masyarakat seharusnya lebih terbuka pada perbedaan. Hal ini bertujuan agar tercipta kondisi saling memahami bahwa seseorang tidak boleh menilai orang lain yang berasal dari budaya yang berbeda menggunakan sudut pandang budayanya sendiri.
Sementara itu, praktik ELT di Indonesia selama ini masih sering terjebak dalam paradigma native-speakerism. Hal ini berarti standar keberhasilan hanya diukur berdasarkan kemiripan dengan penutur asli. Contohnya, mahasiswa dianggap hebat apabila bisa berbicara seperti penutur asli dalam hal kelancaran, dialek, intonasi maupun gaya berbicara lainnya. Padahal di masyarakat global, kita sering menemui seseorang mampu berbicara di suatu forum yang dihadiri banyak audien dengan beraneka latar belakang budaya dari beragam negara. Contohnya, Presiden Indonesia Prabowo tetap setia dengan dialek khas Indonesia, dan audien sangat memahami apa yang dibicarakannya. Oleh sebab itu, komunikasi dianggap baik apabila ada pemahaman antara yang berbicara dan pendengar sehingga pesan dapat tersampaikan dengan utuh. Pendekatan ini lebih sesuai karena 1) mengabaikan identitas pembicara, 2) menerima keanekaragaman berbahasa, dan 3) relevan dengan realitas komunikasi global yang bersifat multikultural. Oleh sebab itu, pendekatan berbasis Intercultural Communicative Competence (ICC) menjadi lebih relevan. Dalam konteks ELT di Indonesia, mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana berbicara dengan ungkapan yang benar, tetapi juga sesuai dengan budaya pembicara maupun pendengar. Implikasinya adalah pembelajaran dan praktik perlu memadukan dua unsur budaya: budaya penutur asli bahasa Inggris yang global dan budaya lokal mahasiswa Indonesia. Praktik ini tidak hanya baik tetapi juga menyenangkan bagi mahasiswa yang dapat memotivasi mereka untuk terus belajar (Romero dkk., 2012).Penulisan Bunga Rampai tersusun dari 2500-3000 kata.
C. Memahami Konsep Glokal dalam Pembelajaran Bahasa Inggris di Era Digital
Kemajuan teknologi yang demikian pesat membuat dunia ini semakin sempit. Apa yang terjadi di suatu wilayah tertentu dapat diakses pada saat itu juga dari belahan dunia lainnya. Hal ini menciptakan globalisasi di mana kita dapat mudah sekali berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lainnya tanpa batas. Selain itu, perkembangan dunia digital memudahkan mahasiswa mengakses informasi tanpa batas dan dapat berinteraksi dengan orang lain melalui dunia maya (Abderrahim & Plana, 2021). Dalam pembelajaran bahasa Inggris, fakta ini memotivasi mahasiswa untuk belajar secara mandiri untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi mereka secara lintas budaya bahkan negara. Platform digital modern telah membuka gerbang akses tak terbatas terhadap materi pembelajaran bahasa Inggris. Teknologi augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) membawa revolusi dalam cara mempromosikan budaya lokal.
melalui pembelajaran bahasa Inggris. Aplikasi seperti Google Arts & Culture memungkinkan siswa melakukan virtual tour ke museum dan situs bersejarah Indonesia sambil belajar kosakata terkait warisan budaya dalam bahasa Inggris. Di lain pihak, pengembangan aplikasi seperti “Indonesian Culture in English” dapat menjadi jembatan efektif untuk mengenalkan kearifan lokal kepada dunia internasional. Selain itu, gamifikasi pembelajaran melalui aplikasi yang mengintegrasikan cerita rakyat Indonesia dengan pembelajaran bahasa Inggris menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Mahasiswa dapat belajar grammar sambil menjelajahi legenda Nyi Roro Kidul atau sejarah Majapahit dalam format digital interaktif. Dalam konteks glokal ELT, media sosial telah mengubah cara mahasiswa berinteraksi dengan penutur asli bahasa Inggris dari negara lain (Alqautsar, 2022). Platform seperti Instagram dan TikTok menjadi platform yang mudah untuk berbagi konten budaya lokal dalam bahasa Inggris. Hal ini menciptakan kontenkonten viral yang dapat meningkatkan kebanggaan mahasiswa sebagai bangsa Indonesia. Penggunaan media sosial tersebut dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa sekaligus mendorong mereka untuk berinteraksi dalam bahasa Inggris melalui dunia maya (Escalante dkk., 2023). Artificial Intelligence telah menghadirkan chatbot pembelajaran seperti ELSA Speak yang memberikan umpan balik secara cepat terhadap pronunciation dan conversation practice (Marhaban dkk., 2025). Platform seperti Grammarly dan ProWritingAid membantu mereka meningkatkan kemampuan menulis karena mereka mendapatkan umpan balik yang cepat dan (cenderung) tepat.
D. Rekonstruksi Konsep
Glokal dalam ELT Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai representasi nilai, norma, dan cara pandang suatu komunitas (Susetyo & Dzarna, 2024). Dengan demikian, penggunaan bahasa selalu terkait dengan konteks sosial dan budaya tertentu. Sejalan dengan perspektif Sociocultural Theory, pembelajaran bahasa pada dasarnya merupakan proses sosial yang terjadi melalui interaksi dan negosiasi makna (Wibowo dkk., 2025). Bahasa dipelajari melalui konteks kehidupan nyata yang sarat dengan praktik budaya. Oleh karena itu, memahami bahasa tanpa memahami budaya yang melingkupinya berpotensi menghasilkan pemahaman yang tidak utuh (Nababan dkk., 2024).
Di lain pihak, konsep ICC menekankan bahwa kemampuan berbahasa tidak hanya mencakup aspek linguistik, tetapi juga kemampuan untuk memahami, menafsirkan, dan memahami perbedaan budaya (Nababan dkk., 2024). Kompetensi ini mencakup sikap terbuka, pengetahuan tentang budaya lain, serta keterampilan untuk menjembatani perbedaan makna dalam komunikasi lintas budaya . Dalam konteks ini, mahasiswa tidak cukup hanya “mampu berbicara,” tetapi juga perlu memahami kapan, bagaimana, dan mengapa suatu ungkapan digunakan dalam konteks tertentu.
Saat ini, mahasiswa memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai sumber belajar bahasa dan budaya melalui platform digital seperti video daring, media sosial, dan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Akses terhadap budaya global tidak lagi terbatas pada ruang kelas, melainkan hadir dalam kehidupan mahasiswa sehari-hari (Manalu, 2019). Namun, tingginya potensi akses tersebut tidak selalu diiringi dengan kemampuan untuk memahami dan merefleksikan makna budaya secara kritis. Kemampuan untuk mengakses informasi secara digital perlu diimbangi dengan kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan memaknai informasi tersebut secara bijak (Jayanta, 2025). Tanpa pendampingan pedagogis yang memadai, mahasiswa berpotensi menjadi konsumen budaya global yang pasif. Melalui pendekatan glokal, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada budaya global, tetapi juga diajak untuk merefleksikan, membandingkan, dan menegosiasikan makna budaya tersebut dengan konteks lokal yang mereka miliki (lihat Gambar 1).
Gambar 1 menunjukkan apa yang penulis terapkan dalam proses belajar-mengajar bahasa Inggris di kelas. Model ini merupakan hasil refleksi penulis terkait dengan kondisi nyata di kelas dan harapan yang ingin dicapai di masa depan dalm konteks pembelajaran bahasa Inggris. Model pembelajaran glokal ELT di zaman digital adalah sebuah pola yang terintegrasi dan dinamis. Elemen global dan lokal tidak diletakkan sebagai dua hal yang saling bertentangan, melainkan sebagai kekuatan yang saling melengkapi untuk membentuk pembelajar bahasa yang komprehensif. Pembelajaran glokal dirancang melalui tiga kompetensi utama, yaitu kompetensi linguistik, kepekaan interkultural, dan mediasi digital, yang berfungsi secara sinergis. Proses pembelajaran terjadi melalui tahap eksplorasi, refleksi kritis, negosiasi makna, hingga produksi bahasa dalam situasi nyata.
Tentu saja ini harus didukung oleh teknologi digital dan AI sebagai pendorong. Di sisi kiri, elemen global memberikan paparan terhadap bahasa dan budaya internasional. Sementara di sisi kanan, konteks lokal menjamin relevansi dengan identitas, nilai, dan pengalaman mahasiswa. Kombinasi keduanya menciptakan pembelajaran yang tidak hanya meningkatkan keterampilan komunikasi. Integrasi keduanya menghasilkan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan.
Materi pembelajaran bahasa Inggris yang efektif harus mencerminkan realitas dunia mahasiswa sambil menambah cakrawala global. Dosen dapat merancang aktivitas membaca menggunakan teks tentang festival internasional seperti Christmas atau Halloween, kemudian membandingkannya dengan tradisi lokal seperti Lebaran atau Nyepi. Pendekatan ini membantu mahasiswa memahami keragaman budaya sekaligus menghargai kekayaan tradisi mereka sendiri. Digital storytelling juga menjadi alat ampuh untuk mengintegrasikan konten glokal (Buendgens-Kosten, 2021; Yiğit, 2020). Mahasiswa dapat bercerita tentang tokoh inspiratif Indonesia dalam bahasa Inggris, atau menulis blog tentang kuliner daerah mereka masing-masing dengan struktur teks bahasa Inggris yang baik. Mereka mungkin juga dapat melakukan reportase terkait perjalanan mereka ke Jalur Lintas Selatan (JLS) Kabupaten Malang untuk menikmati beberapa pantai yang indah di daerah tersebut. Kegiatan semacam ini memberikan kesempatan belajar yang kontekstual sambil menumbuhkan kecintaan mereka pada nuansa lokal. Intinya, mereka menyampaikan sesuatu yang berskala global dengan konten lokal (Glokal).
E. Tantangan terhadap Implementasi Glokal ELT di Era Digital
Pendekatan glokal dalam pembelajaran bahasa Inggris menawarkan berbagai keunggulan dalam mengintegrasikan aspek linguistik, budaya, dan teknologi. Namun, implementasinya tidak terlepas dari sejumlah tantangan yang perlu dikaji secara kritis. Salah satu tantangan utama adalah kondisi di mana mahasiswa hanya mengenal budaya lain pada luarnya saja tanpa memahami nilai, konteks, dan makna yang lebih mendalam (Sulistyo, 2025). Dalam konteks ini, penggunaan media sosial dan platform digital sering kali hanya menghadirkan representasi budaya yang terfragmentasi dan tidak utuh, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman lintas budaya (Yılmaz, 2016). Selain itu, dominasi budaya global dalam ruang digital juga menjadi tantangan tersendiri. Banyaknya konten-konten dari budaya Barat yang secara tidak langsung dapat memarginalkan budaya lokal (Farah & Sumarsono, 2025; Saripudin dkk., 2021). Akibatnya, tanpa pendampingan pedagogis yang tepat, mahasiswa berpotensi menjadi konsumen pasif budaya global daripada agen yang mampu merepresentasikan identitas lokalnya secara kritis dalam bahasa Inggris. Hal ini menunjukkan bahwa akses terhadap teknologi tidak secara otomatis menghasilkan pemahaman budaya yang mendalam.
Tantangan berikutnya berkaitan dengan penggunaan Artificial Intelligence dalam pembelajaran bahasa. Meskipun berbagai aplikasi berbasis AI seperti Grammarly atau ELSA Speak memberikan kemudahan dalam meningkatkan aspek linguistik, teknologi ini belum tentu sesuai dengan konteks lokal pengguna (Widiastuti dkk., 2026). Dengan demikian, terdapat risiko bahwa mahasiswa akan menginternalisasi standar bahasa dan budaya yang kurang sesuai dengan keberagaman kontekssosial-budaya mereka. Di sisi lain, kesiapan dosen juga menjadi faktor krusial dalam implementasi pendekatan glokal. Tidak semua pendidik memiliki literasi digital dan kompetensi interkultural yang memadai untuk merancang pembelajaran yang mengintegrasikan ketiga aspek tersebut secara seimbang. Hal ini menuntut adanya pengembangan profesional berkelanjutan agar dosen mampu berperan sebagai fasilitator yang tidak hanya mengajarkan bahasa. Mereka juga wajib membimbing mahasiswa dalam memahami menegosiasikan makna budaya secara kritis.
Dengan demikian, pendekatan glokal dalam ELT tidak dapat dipandang sebagai solusi instan, melainkan sebagai proses pedagogis yang kompleks dan kontekstual. Diperlukan kesadaran kritis, desain pembelajaran yang matang, serta peran aktif dosen dalam memastikan bahwa pendekatan glokal dan digital benar-benar menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Selain itu, pemerintah juga wajib menyediakan sarana pendukung agar pembelajaran glokal berbasis teknologi dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan capaian pembelajaran yang sudah ditentukan kurikulum.
F. Penutup
Pendekatan glokal dalam pengajaran bahasa Inggris menghasilkan generasi yang mampu berkomunikasi secara internasional tanpa melupakan akar budayanya. Konsep ini menunjukkan bahwa kita tidak perlu memilih antara menjadi warga dunia dan mempertahankan identitas lokal; keduanya dapat berkembang bersamaan dan saling melengkapi. Teknologi digital bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan pandangan global dengan kearifan lokal. Dalam konteks ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk mempelajari bahasa Inggris sekaligus meningkatkan kebanggaan mereka terhadap budaya Indonesia. Di lain pihak, dosen diharapkan dapat menjembatani upaya mahasiswa menginterasikan konsep glokal berbasis teknologi dalam pembelajaran yang dinamis, menyenangkan, dan kontekstual. Kini saatnya bagi para pendidik untuk mulai mengintegrasikan strategi glokal ke dalam kurikulum mereka. Mereka dapat memanfaatkan cerita rakyat Indonesia dalam pelajaran bahasa Inggris atau mendiskusikan isu global dari perspektif lokal.
Model pembelajaran glokal bahasa Inggris ini diharapkan dapat memberikan dampak besar dalam jangka panjang. Mahasiswa diharapkan tidak hanya fasih berbahasa Inggris, tetapi juga memiliki karakter kuat dengan identitas budaya yang tetap melekat. Masa depan pendidikan bahasa Inggris ada di tangan kita. Jadi, mari wujudkan pembelajaran yang bermakna dan relevan untuk generasi Indonesia dengan pendekatan bernuansa glokal.
Daftar Pustaka
Abderrahim, L., & Plana, M. G.-C. (2021). A theoretical journey from social constructivism to digital storytelling. The EuroCALL Review, 29(1), 38. https://doi.org/10.4995/eurocall.2021.12853
Alqautsar, M. (2022). Transformasi tradisi lisan sebagai sarana dakwah: Kajian historis dan tantangan era digital. Journal of Community Development, 1(1), 56–63. https://journal.nabest.id/index.php/jcd/article/view/29%0A https://journal.nabest.id/index.php/jcd/article/download/29/ 48.
Buendgens-Kosten, J. (2021). Digital storytelling: multimodal meaning making. Innovative Language Pedagogy Report, 2021, 103–108. https://doi.org/10.14705/rpnet.2021.50.1243
Ertan Özen, N., & Duran, E. (2019). Digital Storytelling in Secondary School Turkish Courses in Turkey. International Journal of Education and Literacy Studies, 7(4), 169. https://doi.org/10.7575/aiac.ijels.v.7n.4p.169
Escalante, J., Pack, A., & Barrett, A. (2023). AI-generated feedback on writing: insights into efficacy and ENL student preference. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 20(1), 20–57. https://doi.org/10.1186/s41239-023-00425-2
Escalante, J., Pack, A., & Barrett, A. (2023). AI-generated feedback on writing: insights into efficacy and ENL student preference. International Journal of Educational Technology in Higher Education, 20(1), 20–57. https://doi.org/10.1186/s41239-023-00425-2
Farah, R. R., & Sumarsono, P. (2025). Navigating Western and Islamic Cultural Values in English Education : A Narrative Case Study of Teachers at International Islamic Boarding School. Indonesian Journal of English Language Teaching and Applied Linguistics, 10(May), 57–72.
Jayanta, I. N. L. (2025). Digital Learning Innovation : Gamification-Based Smart System Adaptive Mobile Learning Needs Analysis Using the Tri Kaya Parisudha Approach for English Language Learning. 9(2), 392–414.
Lease, K., & Texas, A. (2023). Think Globally, Travel Locally: Doctoral Program Travel for Inquiry, Equity, and Social Justice. March, 79–85.
Liontas, J. I., & Mannion, P. (2021). Voices Heard, Voices Seen: From Classroom Praxis to Digital Stories Worth Sharing. Iranian Journal of Language Teaching Research, 9(2), 73–84. https://doi.org/10.30466/ijltr.2021.121046
Manalu, B. H. (2019). Students� Perception of Digital Texts Reading: A Case Study at the English Education Department of Universitas Kristen Indonesi. JET (Journal of English Teaching), 5(3), 191. https://doi.org/10.33541/jet.v5i3.1312
Marhaban, S., Sulistyo, T., & Widiastuti, O. (2025). Artificial intelligent: Students’ writing competencies and voices. JEEL (Journal of English Education and Linguistics Studies), 12(1), 403–425. https://doi.org/DOI: 10.30762/jeels.v12i1.3927
Nababan, W. R., Rahmadani, N., Tamba, W. O. V., & Hidayat Nst, T. K. (2024). Tantangan Bahasa di Era Digital Terhadap Kesalahan Berbahasa Dalam Komunikasi Media Sosial. Jurnal Bahasa Daerah Indonesia, 1(3), 1–9. https://doi.org/10.47134/jbdi.v1i3.2602
Park, S. (2014). Cultural relativism and the theory of relativity. Filosofija, Sociologija, 25(1), 44–51.
Romero, D. M., Bernal, L. M. T., & Olivares, M. carrero. (2012). Using songs to encourage sixth graders to develop English speaking skills. PROFILE: Issues in Teachers’ Professional Development, 14(1), 11–28.
Saripudin, D., Komalasari, K., & Anggraini, D. N. (2021). Value-based digital storytelling learning media to foster student character. International Journal of Instruction, 14(2), 369–384. https://doi.org/10.29333/iji.2021.14221a
Siswantara, Y. (2021). Kesadaran Digital Sebagai Pengembangan Karakter Kebangsaan Di Abad 21. Linggau Journal Science Education, 1(1). https://jurnal.lp3mkil.or.id/index.php/ljse/article/view/41
Solehuddin, M., & Budiman, N. (2019). Multicultural competence of prospective preschool teachers in predominantly Muslim country. Cakrawala Pendidikan, 38(3), 438–451. https://doi.org/10.21831/cp.v38i3.25033
Susetyo, A. M., & Dzarna, D. (2024). Ideologi dan Kekuasaan Berita Pelarangan Transaksi di Tiktok Shop : Analisis Wacana Kritis Theo Van Leeuwen. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 10(4), 3679–3692.
Wasino. (2013). Indonesia: From Pluralism To Multiculturalism. Paramita – Historical Studies Journal, 23(2), 148–155. https://doi.org/10.15294/paramita.v23i2.2665
Wibowo, S., Wangid, M. N., Firdaus, F. M., & Info, A. (2025). The relevance of Vygotsky ’ s constructivism learning theory with the differentiated learning primary schools. Journal of Education and Learning (EduLearn), 19(1), 431–440. https://doi.org/10.11591/edulearn.v19i1.21197
Widiastuti, O., Sulistyo, T., Marhaban, S., & Kuala, U. S. (2026). Leveraging Technology-Speaking Tasks to Promote Indonesian EFL Students ’ Communicative Performance. Studies in English Language and Education, 13(1), 114–131. https://doi.org/https://doi.org/10.24815/siele.v13i1.147 Copyright
Yiğit, E. Ö. (2020). Digital Storytelling Experiences of Social Studies Pre-Service Teachers. International Journal of Technology in Education, 3(2), 70. https://doi.org/10.46328/ijte.v3i2.25
Yılmaz, F. (2016). Multiculturalism and multicultural education: A case study of teacher candidates’ perceptions. Cogent Education, 3(1). https://doi.org/10.1080/2331186X.2016.1172394
INSPIRASI# Book Chapter# Bersama Dr. Teguh Sulistyo #Dies Natalies Unikama ke-69#