
Tanah Nunumeu: Cermin Identitas, Jangan Sampai Pudar di Oinlasi
Catatan : Afret Dominggus Sefrianus Snae, S.Pd.K
Tanah bukan sekadar petak sawah atau kebun jagung di Oinlasi. Tanah Nunumeu adalah arsip hidup. Di sana tersimpan nama leluhur, jejak upacara adat, dan cara orang Oinlasi memaknai “cukup”. Dulu, seorang anak muda tahu dia dewasa bukan karena KTP, tapi karena sudah punya ladang sendiri dan tahu batas tanahnya tanpa harus sengketa. Itu pendidikan karakter paling jujur yang tidak diajarkan di kelas.
Masalahnya, kehidupan masyarakat Oinlasi hari ini sedang diuji. Anak muda makin banyak merantau ke Kupang, Atambua, bahkan Malaysia. Tanah Nunumeu ditinggal, lalu dijual cepat karena butuh biaya. Ladang berganti jadi lahan kosong. Ketika tanah berpindah tangan ke orang luar, yang hilang bukan hanya aset, tapi kosakata. Kosakata tentang musim tanam, tentang nunu api pertama, tentang pantangan menebang pohon tertentu. Bahasa itu mati pelan-pelan karena tidak ada lagi yang mempraktikkannya di ladang.
Saya percaya krisis Oinlasi bukan krisis ekonomi semata, tapi krisis narasi. Kita sibuk bicara “pertumbuhan” tapi lupa bertanya: tumbuh jadi apa? Kalau anak Oinlasi nanti hanya jadi buruh di tanah orang, siapa yang akan menjaga ume kbubu dan cerita Nunumeu? Teknologi dan pendidikan penting, tapi keduanya akan hampa kalau dipotong dari akar tanahnya sendiri.
Tanah Nunumeu tidak butuh dikasihani. Dia butuh diingat. Selama orang Oinlasi masih mau kembali, menanam, dan menyebut nama leluhur di atas tanahnya, maka identitas itu belum mati. Karena bangsa yang besar bukan yang punya gedung paling tinggi, tapi yang paling ingat dari tanah mana dia tumbuh.