Maluku-Namlea.Kamis 4 Juni 2026.Wanadri Women Divers (WWD) Gelar Workshop Coral Restoration dan Beyong di Desa Jikumerasa kecamatan Lilialy Kabupaten Buru Provinsi Maluku
Kegiatan digelar dalam rangka melakukan upaya pemulihan, penanaman, atau perbaikan ekosistem terumbu karang yang rusak atau rusak parah agar bisa kembali tumbuh, berkembang, dan berfungsi seperti kondisi alaminya
Antara lain seperti transplantasi karang, pembibitan karang, pemasangan struktur buatan, dan perawatan karang muda, kegiatan tidak berhenti hanya pada “menanam karang”, tetapi mencakup hal-hal yang lebih luas dan mendalam.
Endah, selaku Ekspedisi Wanadri Women Divers, ketika diwawancarai wartawan media kami mengatakan bahwa materi workshop yang disampaikan adalah mengenai ekosistem terumbu karang. Dalam pemaparannya, peserta diajak memahami peran penting terumbu karang sebagai rumah bagi berbagai jenis biota laut sekaligus pelindung alami wilayah pesisir dari ancaman abrasi dan perubahan iklim.
Sementara materi berikutnya disampaikan oleh peneliti BRIN, Dr. Rita Rachmawati, yang mengupas lebih dalam mengenai kondisi terumbu karang, tantangan konservasi, serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut.
Peserta juga mendapatkan pembekalan teknis terkait metode transplantasi karang dan dasar-dasar teknik konservasi bawah laut yang dipandu oleh Zainal dari Ambon Dive Explorer. Sesi ini memberikan pemahaman praktis mengenai cara rehabilitasi terumbu karang sebagai langkah nyata pemulihan ekosistem yang mengalami kerusakan.
Dalam kegiatan workshop ini peserta mendapatkan berbagai materi penting yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dan komunitas lokal dalam menjaga kelestarian ekosistem laut, khususnya terumbu karang yang menjadi salah satu kekayaan alam pesisir Pulau Buru.
Kegiatan diawali dengan pengenalan organisasi Wanadri sebagai salah satu organisasi pencinta alam yang selama ini aktif dalam berbagai kegiatan konservasi lingkungan di Indonesia.
Membangun Kesadaran dari Tingkat Lokal
Workshop tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga bertujuan membangun kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya konservasi dalam konteks global maupun lokal.
Melalui kegiatan ini, masyarakat dan komunitas di Jiku Merasa diajak memahami bahwa pelestarian terumbu karang bukan semata-mata tugas pemerintah atau lembaga lingkungan, melainkan tanggung jawab bersama demi menjaga keberlanjutan sumber daya laut bagi generasi mendatang.
Selain itu, workshop menjadi momentum penting untuk memperkuat kelembagaan Komunitas Konservasi Karang Jiku Merasa agar mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem pesisir di wilayah tersebut.
Dukungan Tokoh Daerah dan Adat
Penguatan komunitas konservasi ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Buru, Ulfa, Raja Petuanan Lilialy, serta Kepala Desa Jiku Merasa
Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan bahwa upaya konservasi di Pulau Buru tidak hanya menjadi gerakan lingkungan, tetapi juga telah berkembang menjadi gerakan sosial yang melibatkan pemerintah, masyarakat adat, akademisi, dan komunitas lokal.
Menjaga Laut, Menjaga Masa Depan
Bagi masyarakat pesisir, terumbu karang bukan sekadar hamparan kehidupan di dasar laut.
Melalui workshop ini, Jiku Merasa tidak hanya menjadi lokasi kegiatan konservasi, tetapi juga menjadi simbol tumbuhnya kesadaran baru bahwa menjaga laut berarti menjaga masa depan Pulau Buru.
Dengan kolaborasi antara komunitas, pemerintah, lembaga riset, dan masyarakat adat, harapannya adalah untuk melihat terumbu karang Pulau Buru tetap lestari kini semakin nyata.