Editorial Redaksi
Ada kalanya sebuah jabatan bukan sekadar amanah administratif, melainkan panggilan sejarah. Ia tidak hanya berbicara tentang kewenangan, tetapi juga tentang ikatan batin dengan tanah kelahiran, dengan leluhur, dan dengan masyarakat yang tumbuh bersama dalam satu ruang kehidupan.
Pelantikan Muhammad Fadly Bessy, A.Md sebagai Penjabat Kepala Desa Jikumerasa oleh Bupati Buru, Ikram Umasugi, di Aula Pendopo Bupati Buru, Senin (8/6/2026), dapat dimaknai dalam perspektif yang lebih luas daripada sekadar pengisian jabatan pemerintahan desa.
Fadly Bessy bukanlah orang asing bagi Jikumerasa. Ia adalah putra daerah, putra Raja Petuanan Lilialy, yang lahir dan tumbuh dari rahim budaya yang sama dengan masyarakat yang kini akan dipimpinnya. Ia mengenal setiap jejak sejarah kampungnya, memahami nilai-nilai adat yang hidup di tengah masyarakat, serta mengetahui harapan dan cita-cita yang selama ini tumbuh di hati warga Jikumerasa.
Karena itu, penunjukan dirinya sebagai Penjabat Kepala Desa dapat dipandang sebagai langkah yang tepat. Sebab membangun desa bukan hanya soal kemampuan mengelola administrasi pemerintahan, tetapi juga tentang memahami karakter masyarakat dan merawat identitas budaya yang menjadi akar kehidupan mereka.
Sebagai anak negeri, Fadly Bessy memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Ia bukan hanya membawa nama keluarga besar Petuanan Lilialy, tetapi juga membawa harapan masyarakat yang menginginkan Jikumerasa terus tumbuh menjadi desa yang maju tanpa kehilangan jati dirinya.
Harapan itu semakin besar karena Jikumerasa bukan desa biasa. Di hadapannya terbentang laut biru yang menyimpan kekayaan alam luar biasa. Pantai-pantai yang indah, terumbu karang yang memikat, serta kehidupan masyarakat pesisir yang unik merupakan modal besar bagi pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kelautan.
Belakangan ini, nama Jikumerasa semakin dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki potensi wisata bahari menjanjikan di Kabupaten Buru. Berbagai kegiatan konservasi laut, restorasi terumbu karang, hingga ekspedisi ilmiah nasional menjadikan wilayah ini semakin mendapat perhatian.
Di sinilah tantangan besar itu berada.
Kepemimpinan Fadly Bessy diharapkan mampu menjembatani antara pembangunan dan pelestarian. Antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan perlindungan lingkungan. Antara modernisasi desa dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang diwariskan para leluhur.
Menjadi putra raja bukanlah privilese untuk dihormati, melainkan amanah untuk melayani. Sejarah kerajaan-kerajaan adat di Maluku mengajarkan bahwa seorang pemimpin sejati diukur bukan dari kebesaran gelarnya, tetapi dari kemampuannya menjaga rakyat dan tanah yang diwariskan kepadanya.
Usai dilantik, Muhammad Fadly Bessy menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Bupati Buru, Ikram Umasugi, atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin Desa Jikumerasa sebagai Penjabat Kepala Desa.
“Saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati Buru, Ikram Umasugi, atas kepercayaan dan amanah yang diberikan kepada saya. Ini bukan sekadar jabatan, tetapi tanggung jawab besar untuk mengabdi kepada masyarakat dan membangun desa kelahiran saya. Saya berharap dukungan seluruh masyarakat Jikumerasa agar kita dapat bersama-sama membawa desa ini menjadi lebih maju, sejahtera, dan tetap menjaga nilai-nilai adat serta kelestarian lingkungan yang menjadi kebanggaan kita bersama,” ujar Fadly.
Karena itu, pelantikan Muhammad Fadly Bessy sesungguhnya menghadirkan harapan baru. Harapan bahwa putra terbaik negeri kembali pulang untuk mengabdi. Harapan bahwa Jikumerasa akan semakin maju sebagai desa wisata bahari yang dikenal luas. Dan harapan bahwa laut yang indah, adat yang luhur, serta masyarakat yang ramah akan tetap menjadi identitas yang dijaga dari generasi ke generasi.
Kini amanah itu telah berada di pundaknya.
Dan seperti laut Jikumerasa yang setiap hari menyapa pantai dengan ombak yang setia, masyarakat pun menaruh harapan agar pengabdian Muhammad Fadly Bessy menjadi pengabdian yang tulus, membawa kemajuan bagi desa, serta menghadirkan kebanggaan bagi Petuanan Lilialy dan Kabupaten Buru secara keseluruhan