Probolinggo, Mediaistana.com
Selama 2 hari, Rabu-Kamis 17-18 Juni 2026, guru dari Kecamatan Wonomerto dan Sumberasih kompak ngumpul. Mereka ikut diseminasi Pembelajaran Kelas Rangkap PKR lewat forum KKG Multigrade.
Kegiatan ini digas INOVASI – Kemitraan Indonesia-Australia bidang pendidikan. Hari pertama di Korwil Dikdaya Wonomerto, hari kedua pindah ke Korwil Dikdaya Sumberasih.
Total 21 peserta turun. Isinya pengawas, kepala sekolah, guru fase A-B-C dari 5 SD: Kedungsupit 2, Patalan 3, Sumberkare 3, Laweyan 3, dan Sumberbendo 1.
Hari pertama fokus ke hati guru. Materi parenting + Growth Mindset dari Pengawas Wonomerto Burhanudin. Lalu Iklim Belajar Kondusif dari Pengawas Sumberasih Maini Yudiningsih.
Peserta diajak refleksi lewat video, diskusi, sampai simulasi Power Walk. Tujuannya: sadar kalau murid beda-beda. Ada yang jauh rumahnya, ekonominya pas-pasan, budaya beda, sampai disabilitas.
Hari kedua masuk teknis. Unit 1: konsep dasar PKR. Lewat video, curah gagasan, diskusi kelompok, guru bedah definisi, urgensi, dan strategi ngajar 2-3 kelas sekaligus dalam 1 ruangan.
District Officer INOVASI Anwar Sutranggono bilang KKG Multigrade ini langkah strategis. Keterbatasan guru atau ruang bukan lagi tembok. Ini justru peluang bikin pembelajaran berpusat ke siswa, tegasnya.
PKR punya 3 dampak utama: proses belajar lebih efisien, guru antar sekolah jadi kolaboratif, dan siswa tumbuh mandiri lewat tutor sebaya. Kakak kelas bantu adik kelas, adik kelas termotivasi.
Pengawas Burhanudin menekankan kunci sukses PKR ada di kepala guru. Guru harus punya growth mindset. Yakin setiap anak bisa maju asal ada usaha + strategi tepat. Kelas inklusif wajib jadi budaya, ujarnya.
Senada, Pengawas Maini Yudiningsih bilang PKR bukan sekadar solusi darurat. Kalau dikelola kreatif, PKR justru melatih kemandirian, kemampuan sosial, dan capaian akademik murid lebih tinggi, ungkapnya.
Kegiatan ditutup dengan rencana aksi nyata. KKG Multigrade lanjut lagi 22 Juli 2026 di Wonomerto. Lalu 1 Agustus 2026 guru akan studi sharing ke sekolah multigrade di Sukapura.
Pesan terakhir dari guru: kelas boleh rangkap, tapi semangat dan kualitas belajar murid tidak boleh dirangkap. Satu kelas, banyak fase, satu tujuan: semua anak hebat.