Mediaistana. com -Jakarta (4/7/02/2026). Kepercayaan masyarakat tidak dibangun oleh deretan slogan yang terpampang di setiap sudut kantor atau ruang publik. Kepercayaan lahir dari keteladanan, konsistensi, dan keberanian menjalankan aturan sebagaimana mestinya. Ketika tulisan seperti “Dilarang Parkir, Dilarang Buang sampah dan lain sebagai nya yang berselogan larangan seyogya nya harus dapat di patuhi oleh semua orang termasuk si pembuat selogan tersebut, dan itu bukan cuma sebatas selogan saja yang tertulis dan terpampang namun harus benar benar di patuhi.Apa bila terjadi ada nya sebuah pelanggaran maka harus juga benar benar bisa di tindak dengan ketegasan yang setegas tegas nya bukan lantas di biarkan atau di sengaja untuk benar benar di langgar.
Begitu juga di “Wilayah Bebas Korupsi”, atau “Bersih dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme” tidak sejalan dengan realitas yang masih ditemui sebagian masyarakat, maka yang dipertanyakan bukan lagi isi slogannya, melainkan komitmen untuk mewujudkannya.
Di sisi lain, kualitas sumber daya manusia merupakan aset penting bagi kemajuan bangsa. Pendidikan yang ditempuh dengan penuh perjuangan seharusnya menjadi dasar dalam menentukan kompetensi dan profesionalisme seseorang. Apabila kesempatan lebih banyak ditentukan oleh kedekatan, relasi, atau praktik yang tidak adil, maka semangat untuk berprestasi dapat terkikis. Meritokrasi bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang keadilan dan penghargaan terhadap kemampuan.
Negara hukum akan memperoleh kepercayaan apabila setiap aturan ditegakkan secara konsisten, tanpa membedakan jabatan, kedudukan, maupun latar belakang. Penegakan hukum yang adil memberikan kepastian, melindungi hak masyarakat, dan memperkuat keyakinan bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum. Sebaliknya, ketika penegakan hukum dipersepsikan tidak konsisten, kepercayaan publik dapat ikut tergerus.
Editorial ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi siapa pun, melainkan menjadi ruang refleksi bersama. Kritik yang disampaikan merupakan bentuk kepedulian agar berbagai slogan yang mengandung nilai-nilai luhur tidak berhenti sebagai hiasan dinding, tetapi benar-benar diwujudkan dalam pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, dan kehidupan bermasyarakat. Perubahan yang baik selalu diawali oleh keberanian mengevaluasi diri.
Pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya aturan yang disusun, tetapi oleh kesungguhan seluruh elemen bangsa dalam menjalankannya dengan integritas, profesionalisme, dan rasa tanggung jawab. Ketika teori mampu diwujudkan dalam praktik, kepercayaan publik akan tumbuh, keadilan semakin terasa, dan cita-cita membangun Indonesia yang lebih baik akan menjadi tujuan yang dapat diwujudkan bersama.
Penulis : Baka perdana Kusuma.
Latar belakang : Jurnalis/Pemerhati Lingkungan dan kebudayaan Masyarakat Lokal