Gagasan pembangunan kawasan pengolahan emas terpadu di kawasan Gunung Botak dan sekitarnya kembali mengemuka. Ahli pencemaran lingkungan Universitas Pattimura sekaligus Kepala Pusat Studi Lingkungan Unpatti, Dr. Abraham Tulalessy, M.Si., mengungkapkan bahwa konsep tersebut telah ia perjuangkan sejak lebih dari satu dekade lalu sebagai solusi jangka panjang untuk menata aktivitas pengolahan emas rakyat di Kabupaten Buru.
Menurut Abraham, sejak melakukan pengamatan di kawasan DAS Anhoni sekitar tahun 2012, dirinya melihat bahwa salah satu persoalan utama dalam aktivitas pertambangan rakyat bukan hanya pada kegiatan penambangan, tetapi pada pengolahan emas yang berlangsung secara terpencar dan sulit diawasi.
Karena itu, ia mengusulkan agar seluruh aktivitas pengolahan emas seperti tromol, tong, rendaman, hingga fasilitas pengolahan lainnya ditempatkan dalam satu kawasan khusus yang dirancang secara terpadu.
“Tujuan utamanya adalah agar semua aktivitas pengolahan berada dalam satu lokasi yang terkontrol sehingga pengawasan, pengelolaan limbah, dan pengendalian dampak lingkungan dapat dilakukan secara lebih efektif,” kata Abraham.
Ia menjelaskan, konsep kawasan pengolahan terpadu tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan emas, tetapi juga menjadi pusat pengendalian lingkungan yang memungkinkan seluruh limbah cair, limbah padat, maupun emisi udara ditangani sesuai standar yang ditetapkan.
Selain aspek lingkungan, Abraham menilai kawasan terpadu juga dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi daerah.
Dengan seluruh aktivitas pengolahan berada dalam satu lokasi, pemerintah akan lebih mudah melakukan pendataan, pengawasan, serta penarikan kontribusi daerah yang sah. Kawasan tersebut juga berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), jasa pendukung pertambangan, hingga sektor perbankan.
“Kawasan terpadu bukan hanya soal lingkungan. Di dalamnya bisa tumbuh UMKM masyarakat lokal, layanan perbankan, serta berbagai aktivitas ekonomi yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat dan daerah,” ujarnya.
Abraham mengungkapkan bahwa gagasan tersebut pernah disampaikan kepada sejumlah pejabat daerah sejak masa Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buru Yus Latuconsina, dilanjutkan kepada Aji Hentihu, hingga kepada Bupati Buru Ramly Umasugi dalam berbagai kesempatan.
Namun usulan itu belum terealisasi karena kebutuhan investasi yang cukup besar serta belum adanya pihak yang bersedia membiayai pembangunan kawasan pengolahan terpadu tersebut.
Di sisi lain, banyak pelaku pengolahan emas pada masa itu lebih memilih menjalankan aktivitas secara terpisah dan tidak berada dalam sistem yang terpusat.
Kini, menurut Abraham, kondisi mulai berubah. Penataan kawasan Gunung Botak yang terus dilakukan pemerintah serta munculnya pihak swasta yang siap mendukung pembangunan fasilitas pengelolaan tailing dinilai menjadi peluang untuk mewujudkan gagasan yang selama ini tertunda.
Ia menyambut positif keterlibatan PT Global Emas Bupolo (GEB) yang merencanakan pengelolaan tailing di Kali Anhoni serta menggandeng Universitas Pattimura untuk melakukan kajian ilmiah dan pendampingan akademik.
Menurut Abraham, keterlibatan perguruan tinggi menjadi penting agar pembangunan kawasan pengolahan emas terpadu tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga memenuhi prinsip keberlanjutan lingkungan.
“Yang kita dorong adalah sistem yang tertata. Aktivitas pengolahan tidak lagi tersebar di banyak lokasi, tetapi berada dalam satu kawasan yang mudah diawasi, mudah dikendalikan, dan dampak lingkungannya dapat dikelola dengan baik,” tegasnya.
Ia berharap momentum penataan Gunung Botak saat ini dapat dimanfaatkan untuk membangun fondasi pengelolaan pertambangan rakyat yang lebih modern dan bertanggung jawab.
Bagi Abraham, pembangunan kawasan pengolahan emas terpadu bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan yang mendesak apabila Kabupaten Buru ingin menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi, perlindungan lingkungan, dan keberlanjutan sektor pertanian yang menjadi penopang kehidupan masyarakat di Dataran Waeapo dan sekitarnya.