Media Istana
Tanjung Redeb, 30 Juli 2026
Kekayaan alam Tanah Batiwakkal tidak hanya terlihat dari luasnya hutan dan pesisir pantai, namun juga mulai tergali dari beragam jenis tanaman yang bisa tumbuh subur di tanah setempat. Salah satunya adalah tanaman yang belakangan mulai ramai dibicarakan para petani dan pecinta tanaman obat, yaitu kentang udara. Tanaman yang secara ilmiah dikenal dengan nama Dioscorea bulbifera ini juga kerap disebut sebagai ubi tembaga atau ubi torak di sejumlah wilayah Kalimantan, dan belakangan mulai dikembangkan warga di beberapa kecamatan di Berau karena kemudahan penanamannya serta beragam manfaat yang dimilikinya.
Berbeda dengan kentang biasa yang umbinya tertanam di dalam tanah, tanaman ini memiliki ciri khas unik berupa umbi-umbian kecil yang tumbuh menggantung di ketiak daun pada batang yang merambat, sehingga masyarakat setempat menyebutnya sebagai “kentang udara”. Tanaman ini sebenarnya sudah lama tumbuh secara liar di kawasan semak belukar atau pinggir hutan di Berau, namun baru dalam beberapa tahun terakhir mulai dibudidayakan secara sengaja setelah banyak warga menyadari nilai guna dan nilai ekonominya yang cukup menjanjikan. Tanaman ini ternyata sangat mudah beradaptasi dengan kondisi tanah dan iklim di Berau, bisa tumbuh di lahan kering maupun agak lembap, tidak membutuhkan perawatan yang rumit, dan relatif tahan terhadap serangan hama serta perubahan cuaca yang tidak menentu.
Secara turun-temurun, sebagian masyarakat adat di Berau sudah mengenal tanaman ini sebagai bahan pengobatan tradisional untuk membantu meredakan beberapa keluhan kesehatan ringan, meskipun penggunaannya harus tetap memperhatikan cara pengolahan yang tepat agar aman dikonsumsi. Selain itu, kandungan zat aktif yang terdapat pada umbi kentang udara kini juga mulai menjadi bahan kajian lebih lanjut di dunia kesehatan, sementara sebagian petani mulai meliriknya sebagai peluang usaha baru karena proses panennya yang cukup mudah dan permintaan pasar yang perlahan meningkat.
Saat ini, sejumlah kelompok tani dan warga perorangan di Kecamatan Talisayan, Sambaliung, hingga Kecamatan Derawan mulai mencoba mengembangkan tanaman ini dalam skala kecil hingga menengah. Mereka memanfaatkan lahan pekarangan maupun lahan tidur yang belum tergarap, mengingat tanaman ini tidak membutuhkan lahan yang luas dan bisa tumbuh merambat pada tiang penyangga atau tanaman lain tanpa mengganggu tanaman pokok yang sudah ada. Hasil panennya sebagian dijual secara langsung kepada konsumen yang membutuhkan, sebagian lagi diolah secara sederhana menjadi bahan jamu atau keripik khas, sehingga memberikan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan hanya dijual dalam bentuk mentah.
Meskipun potensinya cukup besar, pengembangan kentang udara di Berau masih menghadapi tantangan berupa kurangnya pemahaman masyarakat luas mengenai cara penanaman yang benar serta standar pengolahan yang aman untuk dikonsumsi. Pihak terkait pun diharapkan dapat turut memberikan pendampingan dan penyuluhan, sehingga tanaman ini dapat menjadi salah satu komoditas unggulan baru yang mampu menambah pendapatan masyarakat, sekaligus melestarikan kekayaan hayati asli daerah yang selama ini belum banyak tergarap secara maksimal. Dengan sentuhan pengelolaan yang tepat, kentang udara berpeluang besar menjadi alternatif komoditas pertanian yang menguntungkan sekaligus ramah lingkungan bagi warga Kabupaten Berau.