Kota Bogor, Jawa Barat || Mediaistana.com
Utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) kembali menjadi sorotan setelah pemerintah melakukan restrukturisasi dengan tenor pelunasan yang disebut mencapai 80 tahun. Rabu, 09/09/2026.
Panjang tenor tersebut menjadi perhatian karena membuat kewajiban pembiayaan proyek Whoosh harus ditanggung dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun memberikan tanggapan bernada santai ketika menanggapi panjangnya masa pelunasan utang tersebut.
“Kita sudah mati, santai saja,” ujar Purbaya.
Pernyataan tersebut sontak menjadi perhatian publik lantaran disampaikan dalam konteks pembahasan utang proyek kereta cepat yang memiliki nilai investasi sangat besar.
Restrukturisasi utang dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah mengatur kembali beban pembayaran proyek Whoosh agar lebih sesuai dengan kemampuan keuangan dan struktur pembiayaan yang ada.
Dengan tenor hingga 80 tahun, kewajiban pembayaran utang proyek tersebut secara praktis akan berlangsung lintas generasi.
Whoosh sendiri merupakan proyek kereta cepat yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Proyek ini dibangun melalui kerja sama Indonesia dan China serta dioperasikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Pernyataan Menkeu Purbaya mengenai tenor 80 tahun tersebut pun berpotensi memicu kembali perdebatan mengenai besarnya beban utang, skema pembiayaan, hingga manfaat ekonomi proyek Whoosh bagi Indonesia.
Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan restrukturisasi tersebut tidak justru menimbulkan persoalan fiskal baru di masa mendatang. Transparansi mengenai nilai utang, bunga, skema pembayaran, serta siapa yang menanggung kewajiban tersebut menjadi penting agar publik dapat memahami kondisi sebenarnya.
Dengan tenor mencapai 80 tahun, pertanyaan besarnya kini bukan hanya kapan utang Whoosh lunas, tetapi juga siapa yang akan menanggung kewajiban tersebut hingga puluhan tahun ke depan.