JAKARTA, Mediaistana.com — Teror dalam film horor ternyata tak selalu membutuhkan sosok makhluk gaib. Film “Hasut” mencoba mengguncang penonton melalui ketakutan yang lahir dari pikiran, kecurigaan, dan hubungan antarmanusia.
Tuta Films memperkenalkan official teaser trailer dan poster film tersebut sebagai penanda debut penyutradaraan Ilya Sigma, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis.
Cerita berpusat pada empat sahabat yang diperankan Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova. Mereka memasuki kawasan hutan untuk menjalani meditasi dengan harapan menemukan jalan keluar dari luka masing-masing.

Namun, proses penyembuhan perlahan berubah menjadi situasi penuh tekanan, Upaya untuk membantu orang lain justru berkembang menjadi keinginan mengendalikan, sementara suara-suara misterius memicu kecurigaan di antara mereka.
Ketika rasa percaya mulai runtuh, persoalan yang lebih mengerikan muncul: mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya lahir dari prasangka?
Teaser poster turut memperkuat misteri tersebut, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova terlihat terkulai, sementara Karina Salim menjadi satu-satunya sosok yang tampak masih sadar.
Ilya Sigma menyebut “Hasut” tidak hanya berbicara mengenai ketakutan, tetapi juga sisi personal tentang luka, kepercayaan, dan keinginan menyembuhkan orang yang dicintai.
Sementara Karina Salim menilai kekuatan film justru terletak pada cara membangun ketegangan tanpa mengandalkan kemunculan hantu secara langsung.
Menurutnya, suara dari alat komunikasi seperti HT dapat menjadi sumber teror tersendiri dan membuat penonton terus mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Hasut” diproduksi Tuta Films dengan Putrama Tuta dan Siera Tamihardja sebagai produser, Film ini dijadwalkan hadir di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.
Dengan menggeser sumber ketakutan dari dunia gaib menuju konflik psikologis dan rapuhnya kepercayaan, “Hasut” berpotensi menghadirkan horor yang lebih dekat dengan ketakutan manusia sehari-hari: ketika orang yang ingin menolong justru berubah menjadi ancaman.