Catatan Reflektif
Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Dulu, rumah saya sering didatangi banyak orang.
Mereka datang membawa cerita tentang politik, kekuasaan, jabatan, kepentingan, dan berbagai urusan yang membuat hari-hari terasa penuh. Rumah menjadi tempat bertemunya banyak kepentingan, banyak wajah, dan banyak percakapan tentang dunia yang seolah begitu penting.
Kini, suasananya berbeda.
Urusan yang datang ke rumah bukan lagi tentang siapa akan duduk di kursi mana, siapa akan menjadi apa, atau siapa berada di lingkaran kekuasaan.
Kini, urusannya adalah keripik pisang.
Dan anehnya, justru dari sekeranjang keripik pisang itu saya menemukan sesuatu yang selama ini mungkin terlalu jauh saya cari.
Saya menemukan manusia.Saya bertemu anak-anak di jalanan yang setiap hari berjuang mempertahankan hidup.
Mereka tidak membawa proposal, tidak membawa jabatan, tidak membawa kepentingan politik.
Mereka hanya membawa sekeranjang keripik pisang.
Dengan langkah kecil, mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Menawarkan dagangannya kepada siapa saja yang bersedia membeli.Di wajah mereka ada peluh.Di tangan mereka ada perjuangan.
Dan di mata mereka, ada sebuah kejujuran yang terkadang sulit ditemukan di tempat-tempat yang dipenuhi kepentingan.
Dari mereka saya belajar bahwa hidup tidak selalu tentang seberapa tinggi seseorang berdiri.
Kadang hidup justru tentang seberapa dalam seseorang mampu melihat.
Saya mulai memahami bahwa mungkin semua perubahan ini bukan sebuah kehilangan.
Ini adalah rahmat.
Rahmat yang mengajarkan saya untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan melihat lebih jauh ke dalam diri sendiri.
Sebab semakin lama kita berjalan, semakin kita sadar bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya manusia di sekitar kita.
Bukan pula tentang berapa banyak orang penting yang mengenal kita.
Pada akhirnya, hidup adalah tentang berapa banyak hati yang mampu kita sentuh tanpa meminta apa-apa sebagai balasan.
Keripik pisang itu sederhana.Tetapi dari kesederhanaan itu saya menemukan pelajaran yang besar.Saya belajar tentang cinta yang tidak bersyarat.
Tentang kasih yang tidak membutuhkan sebab.Tentang memberi tanpa menghitung kembali.Tentang membantu tanpa bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan?”
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan di tempat-tempat yang tinggi, sementara Tuhan justru menyembunyikan mutiara-Nya di tempat-tempat yang sederhana.
Di pinggir jalan.Di tangan seorang anak.Di sekeranjang keripik pisang.
Di senyum seorang pedagang kecil yang mungkin tidak pernah tahu bahwa perjuangannya telah mengajarkan seseorang tentang makna kehidupan.
Barangkali itulah cara Tuhan mendidik kita.Dia tidak selalu mengirim guru dalam bentuk manusia yang berilmu tinggi.
Kadang Dia mengirim seorang anak kecil dengan sekeranjang dagangan.
Tidak ada podium.Tidak ada mikrofon.Tidak ada tepuk tangan.Hanya sebuah jalan panjang dan perjuangan untuk bertahan hidup.
Namun dari sana kita belajar tentang ketabahan.Dari sana kita belajar tentang syukur.
Dari sana kita belajar bahwa martabat manusia tidak pernah ditentukan oleh apa yang ia miliki, melainkan oleh bagaimana ia menjalani hidupnya.
Dan perlahan saya mengerti…
Ar-Rahman dan Ar-Rahim bukan sekadar nama yang kita ucapkan di bibir.
Ia adalah rahmat yang hidup.Ia adalah kasih yang tidak memilih siapa yang pantas dikasihi.Ia adalah cinta yang tidak menunggu alasan.
Ia adalah kelembutan yang hadir bahkan kepada mereka yang mungkin tidak mampu memberikan apa-apa kepada kita.
Mungkin karena itu Tuhan sedang membawa saya ke jalan yang berbeda.
Dari percakapan tentang kekuasaan menuju percakapan tentang kehidupan.
Dari orang-orang yang mengejar jabatan menuju anak-anak yang mengejar sesuap rezeki.
Dari ruang-ruang yang penuh kepentingan menuju jalanan yang penuh ketulusan.Dan semakin saya melihat mereka, semakin saya sadar:
Boleh jadi yang sedang saya jual bukan sekadar keripik pisang.
Yang sedang saya beli adalah kesempatan untuk belajar menjadi manusia.Belajar melihat.Belajar merasa.Belajar mengasihi.
Dan akhirnya, belajar memahami bahwa rahmat Tuhan terkadang datang dalam bentuk yang sangat sederhana—bahkan dalam sekeranjang kecil keripik pisang yang dibawa seorang anak di tengah kerasnya kehidupan.
Di sanalah saya menemukan mutiara.Bukan mutiara dunia.Tetapi mutiara dari Ar-Rahman dan Ar-Rahim.Sebuah rahmat yang tidak berisik.Sebuah kasih yang tidak menuntut.
Dan sebuah cinta yang tidak membutuhkan sebab.
Mungkin inilah hidup yang sesungguhnya: ketika kita tidak lagi sibuk mencari Tuhan di tempat yang jauh, karena akhirnya kita menemukan jejak-Nya di wajah manusia yang sedang berjuang di hadapan mata kita.
(Sentul, 23 September 2026)