Direktur Perum DAMRI, Senator ARK Sampaikan Sejumlah Aspirasi Strategis untuk Pelayanan Bus Bagi Kabupaten Kota Di Papua Barat Daya
Mediaistana com — JAKARTA — Sorong Papua Barat Daya.Rapat bersama Direktur Perum DAMRI Senator DPD RI asal Papua Barat Daya, Agustinus R. Kambuaya S.IP.SH (ARK), untuk menyampaikan sejumlah catatan dan aspirasi strategis terkait penguatan transportasi publik, konektivitas antardaerah, serta pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat di Provinsi Papua Barat Daya Rabu 7 Oktober 2026
Kegiatan rapat bersama tersebut Dilakukan pada Rabu 07/09/2026.
Dalam pertemuan tersebut, ARK menekankan bahwa pembangunan transportasi tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan mobilitas masyarakat, tetapi harus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi daerah, khususnya dalam menghubungkan kawasan wisata, sentra produksi masyarakat, dan pusat pertumbuhan ekonomi.
Dua Potensi Besar Pariwisata Papua Barat Daya
Menurut ARK, Papua Barat Daya memiliki sedikitnya dua karakter utama potensi wisata yang perlu diintegrasikan melalui sistem transportasi yang baik.
Pertama, wisata pantai dan laut, terutama kekayaan bahari Raja Ampat dan kawasan pesisir lainnya
Kedua, wisata pegunungan, hutan, sungai atau kali, yang tersebar di wilayah Sorong Selatan, Tambrauw, Maybrat dan daerah lainnya.
“Bagaimana kita mengintegrasikan transportasi laut dan darat sehingga wisatawan dapat menikmati Papua Barat Daya secara utuh? Dari pegunungan, hutan, sungai, spot burung, kemudian terkoneksi sampai ke laut,” kata ARK dalam menyampaikan gagasannya.
Menurutnya, konsep tersebut dapat dikembangkan menjadi Papua Barat Daya Tourism dan Ecotourism, yakni sebuah jaringan destinasi wisata yang didukung konektivitas transportasi darat dan laut.
Jika transportasi tersedia dengan baik, wisatawan tidak hanya berhenti pada satu destinasi, tetapi dapat melakukan perjalanan dari kawasan pegunungan dan hutan menuju sungai, kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah pesisir dan laut.
“Kalau transportasi kita bagus, turis habis berwisata di spot burung, gunung dan hutan serta sungai, bisa langsung terkoneksi menuju laut,” ujarnya.
DAMRI Diharapkan Hadir sebagai Penyeimbang Transportasi
Selain pariwisata, ARK juga menyoroti kondisi transportasi publik di Papua Barat Daya yang saat ini masih banyak didominasi oleh operator swasta.
Menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan moda transportasi publik yang dapat memberikan pilihan, kepastian akses dan keseimbangan harga bagi masyarakat.
Kehadiran angkutan perintis DAMRI dinilai dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk menjawab persoalan tersebut, terutama di wilayah yang akses transportasinya masih terbatas.
“Transportasi publik di Papua Barat Daya masih didominasi swasta. Penyeimbang harga belum ada, dan Perda tarif juga belum ada. Karena itu, DAMRI melalui angkutan perintis dapat hadir memberikan alternatif harga sekaligus menciptakan keseimbangan akses transportasi,” jelas ARK.
Menurut ARK, transportasi publik yang terjangkau bukan hanya memberikan manfaat bagi masyarakat umum, tetapi juga berdampak langsung terhadap petani dan pelaku ekonomi kampung.
Petani Harus Mudah Membawa Hasil Kebun ke Sorong
ARK juga mendorong agar pengembangan trayek DAMRI memperhatikan jalur-jalur ekonomi masyarakat.
Petani di kampung-kampung harus memiliki akses transportasi yang memungkinkan hasil kebun, hasil pertanian dan produk lokal dibawa menuju pusat perdagangan dan pasar yang lebih besar, termasuk Kota Sorong sebagai salah satu connecting area di Papua Barat Daya.
Dengan konektivitas yang semakin baik, biaya distribusi dapat ditekan, waktu perjalanan menjadi lebih efisien, dan produk masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke pasar.
“Petani harus dengan mudah membawa hasil kebunnya menuju Sorong sebagai connecting area. Jangan sampai hasil produksi masyarakat ada, tetapi transportasinya tidak tersedia,” tegasnya.
Transportasi sebagai Penghubung Pariwisata dan Ekonomi Rakyat
ARK menilai pembangunan transportasi di Papua Barat Daya harus dirancang dalam satu ekosistem yang menghubungkan pariwisata, masyarakat kampung, petani, pelaku UMKM, pelabuhan, kawasan perkotaan dan pusat perdagangan.
Menurutnya, Papua Barat Daya tidak cukup hanya memiliki destinasi wisata yang indah. Keindahan tersebut harus ditopang oleh akses transportasi yang aman, terjangkau, terintegrasi dan berkelanjutan.
Konsep ini sekaligus dapat membuka peluang baru bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam rantai ekonomi pariwisata, mulai dari jasa transportasi, penginapan, kuliner, kerajinan, hasil pertanian hingga jasa pemandu wisata.
“Papua Barat Daya Selalu di Hati”
Menutup gagasannya, ARK menggambarkan Papua Barat Daya sebagai satu kesatuan wilayah yang memiliki kekayaan alam dari laut hingga pegunungan.
“Papua Barat Daya selalu di hati. Karena hati kita su tatinggal di laut biru Raja Ampat, sungai yang sejuk di Sorong Selatan, hutan hijau Tambrauw dan urat gunung Maybrat.”
Menurut ARK, konektivitas transportasi harus mampu menyatukan seluruh potensi tersebut menjadi satu jaringan pembangunan yang saling terhubung.
“Transportasi bukan sekadar mengantar orang dari satu tempat ke tempat lain. Transportasi adalah urat nadi yang menghubungkan manusia, hasil bumi, pariwisata dan masa depan ekonomi Papua Barat Daya,” pungkasnya.
Aspirasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan perhatian dan tindak lanjut dalam pengembangan layanan transportasi DAMRI di Papua Barat Daya, terutama untuk memperkuat konektivitas penumpang barang dan jasa antarkawasan, mendukung pariwisata berbasis ekowisata, serta membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di wilayah Kabupaten kota Sorong, Maybrat Sorong Selatan.
Penulis: Alfius Kambu.Daya. — Rapat bersama Direktur Perum DAMRI dimanfaatkan Senator DPD RI asal Papua Barat Daya, Agustinus R. Kambuaya (ARK), untuk menyampaikan sejumlah catatan dan aspirasi strategis terkait penguatan transportasi publik, konektivitas antardaerah, serta pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat di Provinsi Papua Barat Daya
Kegiatan rapat bersama tersebut Dilakukan pada Rabu 07/09/2026.
Dalam pertemuan tersebut, ARK menekankan bahwa pembangunan transportasi tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan mobilitas masyarakat, tetapi harus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi daerah, khususnya dalam menghubungkan kawasan wisata, sentra produksi masyarakat, dan pusat pertumbuhan ekonomi.
Dua Potensi Besar Pariwisata Papua Barat Daya
Menurut ARK, Papua Barat Daya memiliki sedikitnya dua karakter utama potensi wisata yang perlu diintegrasikan melalui sistem transportasi yang baik.
Pertama, wisata pantai dan laut, terutama kekayaan bahari Raja Ampat dan kawasan pesisir lainnya
Kedua, wisata pegunungan, hutan, sungai atau kali, yang tersebar di wilayah Sorong Selatan, Tambrauw, Maybrat dan daerah lainnya.
“Bagaimana kita mengintegrasikan transportasi laut dan darat sehingga wisatawan dapat menikmati Papua Barat Daya secara utuh? Dari pegunungan, hutan, sungai, spot burung, kemudian terkoneksi sampai ke laut,” kata ARK dalam menyampaikan gagasannya.
Menurutnya, konsep tersebut dapat dikembangkan menjadi Papua Barat Daya Tourism dan Ecotourism, yakni sebuah jaringan destinasi wisata yang didukung konektivitas transportasi darat dan laut.
Jika transportasi tersedia dengan baik, wisatawan tidak hanya berhenti pada satu destinasi, tetapi dapat melakukan perjalanan dari kawasan pegunungan dan hutan menuju sungai, kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah pesisir dan laut.
“Kalau transportasi kita bagus, turis habis berwisata di spot burung, gunung dan hutan serta sungai, bisa langsung terkoneksi menuju laut,” ujarnya.
DAMRI Diharapkan Hadir sebagai Penyeimbang Transportasi
Selain pariwisata, ARK juga menyoroti kondisi transportasi publik di Papua Barat Daya yang saat ini masih banyak didominasi oleh operator swasta.
Menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan moda transportasi publik yang dapat memberikan pilihan, kepastian akses dan keseimbangan harga bagi masyarakat.
Kehadiran angkutan perintis DAMRI dinilai dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk menjawab persoalan tersebut, terutama di wilayah yang akses transportasinya masih terbatas.
“Transportasi publik di Papua Barat Daya masih didominasi swasta. Penyeimbang harga belum ada, dan Perda tarif juga belum ada. Karena itu, DAMRI melalui angkutan perintis dapat hadir memberikan alternatif harga sekaligus menciptakan keseimbangan akses transportasi,” jelas ARK.
Menurut ARK, transportasi publik yang terjangkau bukan hanya memberikan manfaat bagi masyarakat umum, tetapi juga berdampak langsung terhadap petani dan pelaku ekonomi kampung.
Petani Harus Mudah Membawa Hasil Kebun ke Sorong
ARK juga mendorong agar pengembangan trayek DAMRI memperhatikan jalur-jalur ekonomi masyarakat.
Petani di kampung-kampung harus memiliki akses transportasi yang memungkinkan hasil kebun, hasil pertanian dan produk lokal dibawa menuju pusat perdagangan dan pasar yang lebih besar, termasuk Kota Sorong sebagai salah satu connecting area di Papua Barat Daya.
Dengan konektivitas yang semakin baik, biaya distribusi dapat ditekan, waktu perjalanan menjadi lebih efisien, dan produk masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke pasar.
“Petani harus dengan mudah membawa hasil kebunnya menuju Sorong sebagai connecting area. Jangan sampai hasil produksi masyarakat ada, tetapi transportasinya tidak tersedia,” tegasnya.
Transportasi sebagai Penghubung Pariwisata dan Ekonomi Rakyat
ARK menilai pembangunan transportasi di Papua Barat Daya harus dirancang dalam satu ekosistem yang menghubungkan pariwisata, masyarakat kampung, petani, pelaku UMKM, pelabuhan, kawasan perkotaan dan pusat perdagangan.
Menurutnya, Papua Barat Daya tidak cukup hanya memiliki destinasi wisata yang indah. Keindahan tersebut harus ditopang oleh akses transportasi yang aman, terjangkau, terintegrasi dan berkelanjutan.
Konsep ini sekaligus dapat membuka peluang baru bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam rantai ekonomi pariwisata, mulai dari jasa transportasi, penginapan, kuliner, kerajinan, hasil pertanian hingga jasa pemandu wisata.
“Papua Barat Daya Selalu di Hati”
Menutup gagasannya, ARK menggambarkan Papua Barat Daya sebagai satu kesatuan wilayah yang memiliki kekayaan alam dari laut hingga pegunungan.
“Papua Barat Daya selalu di hati. Karena hati kita su tatinggal di laut biru Raja Ampat, sungai yang sejuk di Sorong Selatan, hutan hijau Tambrauw dan urat gunung Maybrat.”
Menurut ARK, konektivitas transportasi harus mampu menyatukan seluruh potensi tersebut menjadi satu jaringan pembangunan yang saling terhubung.
“Transportasi bukan sekadar mengantar orang dari satu tempat ke tempat lain. Transportasi adalah urat nadi yang menghubungkan manusia, hasil bumi, pariwisata dan masa depan ekonomi Papua Barat Daya,” pungkasnya.
Aspirasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan perhatian dan tindak lanjut dalam pengembangan layanan transportasi DAMRI di Papua Barat Daya, terutama untuk memperkuat konektivitas penumpang barang dan jasa antarkawasan, mendukung pariwisata berbasis ekowisata, serta membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di wilayah Kabupaten kota Sorong, Maybrat Sorong Selatan.
Red : David E SE/ Penulis: Alfius Kambu.