Probolinggo, Mediaistana.com
Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan belajar, diterima, dan berkembang sesuai potensinya. Semangat inilah yang diperkuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo bersama Program INOVASI, kemitraan Pemerintah Indonesia-Australia.
Melalui kegiatan sosialisasi pendidikan inklusif yang digelar di Aula TK Negeri Pembina II Kraksaan, Senin hingga Rabu (19-21/10/2026), Disdikdaya mengajak guru TK dan SD serta tindak lanjut untuk guru SMP membangun kesadaran bahwa pendidikan inklusif bukan hanya menerima keberagaman, tapi menghadirkan pembelajaran sesuai kebutuhan setiap anak.
Pada hari pertama, sebanyak 76 guru TK dari berbagai wilayah di Kabupaten Probolinggo mengikuti pembekalan untuk meningkatkan pemahaman dalam mendampingi anak dengan karakteristik dan kebutuhan belajar yang beragam.
Kegiatan dibuka resmi oleh Sekretaris Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Yunita Nur Laili didampingi Kabid Pembinaan Ketenagaan Eksi Wulandari, Analis Kebijakan Ahli Muda Massajo dan District Officer INOVASI Kabupaten Probolinggo Anwar Sutranggono.
Hadir sebagai narasumber Inclusive Education Specialist dan Fasilitator Inklusi INOVASI Jakarta Eni Martina, Kepala SDN Srandil Ponorogo Budi Cahyono serta tim Unit Layanan Disabilitas (ULD) Disdikdaya Kabupaten Probolinggo.
Dalam sambutannya, Yunita Nur Laili mengajak guru menjadikan pendidikan inklusif sebagai komitmen bersama. Ia menekankan setiap anak datang ke sekolah dengan harapan yang sama yakni diterima, memiliki teman dan merasakan keberhasilan dalam belajar.
Menurutnya, tidak semua anak berkembang dengan kecepatan yang sama. Ada yang butuh penjelasan berulang, waktu lebih panjang, atau pendekatan berbeda. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari cepatnya anak memahami pelajaran, tapi dari kesediaan sekolah mendampingi sesuai kebutuhan.
Yunita juga mendorong guru membangun budaya sekolah yang menghormati perbedaan, menggunakan bahasa yang baik dan tidak terburu-buru memberi label kepada anak. Guru diminta mengamati potensi, mendengarkan orang tua, serta berkoordinasi dengan pihak kompeten jika dibutuhkan.
Sementara District Officer INOVASI Kabupaten Probolinggo Anwar Sutranggono menyampaikan sosialisasi ini menjadi langkah positif untuk meningkatkan kompetensi pendidik PAUD, SD dan SMP dalam memberikan layanan yang adil, ramah dan sesuai kebutuhan setiap anak.
Materi yang diberikan mencakup konsep pendidikan inklusif, asesmen fungsional untuk mengenali potensi dan kebutuhan dukungan anak serta strategi pembelajaran melalui komunikasi adaptif, regulasi diri dan pemberian bantuan secara bertahap.
Dampak positif pembekalan ini dirasakan peserta. Guru TK Dharma Bhakti Desa Pajurangan Kecamatan Gending Ellyzabeth Evelyn mengaku mendapat wawasan baru. Dengan materi Safari Inklusif ini, kami punya bekal mendampingi siswa inklusi sehingga hak anak mendapat layanan pendidikan terpenuhi dengan baik, ungkapnya.
Guru TK Negeri Pembina Sumberasih Terza Travelancya DP menilai sosialisasi ini membuka pemahaman bahwa kebutuhan khusus tidak selalu terlihat dari fisik. Ia berharap pembekalan dilanjutkan pelatihan berkala dan dukungan Guru Pembimbing Khusus (GPK) bagi lembaga yang membutuhkan.
Melalui kolaborasi Disdikdaya dan Program INOVASI, pendidikan inklusif diharapkan semakin dipahami sebagai tanggung jawab bersama. Peningkatan kompetensi guru, penyesuaian metode pembelajaran dan keterlibatan orang tua menjadi kunci mewujudkan sekolah yang ramah bagi semua anak.
Terakhir, Yunita menegaskan kegiatan ini tidak boleh berhenti sebagai forum berbagi pengetahuan. Setiap sekolah perlu menindaklanjuti dengan langkah konkret mulai dari mengenali kebutuhan peserta didik hingga mengevaluasi perkembangan anak secara berkelanjutan.