Probolinggo, Mediaistana.com
Setiap anak berhak merasa diterima, memiliki teman dan mendapat kesempatan belajar sesuai kemampuannya. Untuk mewujudkan hal tersebut, sekolah perlu membangun lingkungan yang menghargai keberagaman sekaligus menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan setiap peserta didik.
Semangat itu diperkuat melalui sosialisasi pendidikan inklusif dalam Safari Inklusif yang digelar Unit Layanan Disabilitas (ULD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo berkolaborasi dengan Program INOVASI, kemitraan Pemerintah Indonesia-Australia.
Kegiatan yang diikuti 120 guru Sekolah Dasar (SD) di ruang pertemuan SDN Pabean Kecamatan Dringu, menghadirkan narasumber Inclusive Education Specialist dan Fasilitator Inklusi INOVASI Jakarta Eni Martina, Kepala SDN Srandil Ponorogo Budi Cahyono serta tim ULD Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Selasa (20/10/2026).
Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono menekankan pentingnya perubahan cara pandang dalam menerapkan pendidikan inklusif. Sekolah tidak cukup hanya menerima anak dengan kebutuhan yang beragam, tetapi juga harus mampu memberikan dukungan agar mereka dapat belajar dan berkembang.
Sekolah hebat bukan hanya yang membanggakan anak yang cepat pintar, tapi yang mau mendampingi anak yang butuh penjelasan berulang, yang memberi ruang bagi yang belum berani bicara dan yang menghargai kemajuan kecil dengan perjuangan besar, jelasnya.
Untuk mendukung perubahan tersebut, Hary menyampaikan lima langkah yang perlu diperkuat di sekolah. Meliputi membangun budaya saling menghormati, mengenali potensi anak tanpa memberikan label, menyesuaikan metode pembelajaran, menjaga kesinambungan pendampingan antar jenjang serta memastikan adanya tindak lanjut setelah pelatihan.
Ia juga meminta setiap satuan pendidikan menyusun rencana aksi sederhana yang berisi kebutuhan prioritas, langkah perbaikan, penanggung jawab dan waktu pelaksanaan. Dengan demikian, materi yang diperoleh guru tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Sementara Inclusive Education Specialist INOVASI Jakarta Eni Martina menjelaskan, pelatihan tersebut mencakup tiga materi utama meliputi asesmen fungsional untuk pembelajaran, Universal Design for Learning (UDL) serta modifikasi kurikulum dan penyusunan modul ajar.
Yang kita upayakan adalah meningkatkan kapasitas guru dalam menyediakan pembelajaran sehari-hari yang sesuai dengan kebutuhan seluruh anggota kelas, tetapi juga memenuhi kebutuhan pembelajaran anak yang memiliki hambatan fungsional, ujarnya.
Menurut Eni, melalui asesmen fungsional, guru dibekali pemahaman untuk mengenali kekuatan, kondisi dan kebutuhan dukungan setiap peserta didik. Ia mengapresiasi antusiasme 120 guru yang tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif dalam praktik observasi dan mencatat hasil pengamatan.
Kebutuhan akan pengetahuan dan pendampingan dirasakan oleh Suar Piyadi, guru fase A di sekolah multigrade SDN Wonokerto II Kecamatan Sukapura. Di sekolahnya, terdapat dua anak berkebutuhan khusus yang masih memerlukan pemahaman lebih lanjut mengenai karakteristik dan potensi masing-masing.
Kegiatan ini memberikan tambahan wawasan mengenai metode dan langkah yang dapat dilakukan untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus. Awalnya kami belum mengetahui metodenya seperti apa dan langkah apa yang harus dilakukan, ungkapnya.
Melalui kolaborasi Disdikdaya, ULD dan INOVASI, pendidikan inklusif di Kabupaten Probolinggo diharapkan semakin nyata dalam praktik pembelajaran. Sekolah yang ramah bagi semua anak bukan hanya sekolah yang membuka pintu bagi setiap peserta didik, tetapi juga sekolah yang berupaya memahami kebutuhan dan memberi kesempatan kepada setiap anak untuk berkembang.