Editorial Oleh: Chairul Syam
Ada keputusan politik yang sekadar memenuhi kebutuhan organisasi, tetapi ada pula keputusan yang menyimpan harapan besar tentang masa depan. Penyerahan Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai NasDem kepada Nurcahaya Azis sebagai calon Ketua DPD Garnita Malahayati Kabupaten Buru patut dibaca sebagai langkah strategis yang memiliki makna lebih jauh daripada sekadar pengisian struktur kepengurusan.
Ini bukan hanya tentang siapa yang akan menduduki sebuah jabatan. Ini tentang bagaimana sebuah partai membaca potensi, mengenali kapasitas, dan memberikan ruang kepada figur perempuan yang dinilai memiliki peluang untuk membawa perubahan.
Menurut hemat saya, penunjukan Nurcahaya Azis merupakan langkah yang tepat.
Mengapa demikian?
Sebab organisasi perempuan tidak cukup hanya dipimpin oleh seseorang yang memiliki nama dalam struktur.
Garnita Malahayati membutuhkan figur yang mampu menghidupkan organisasi, membangun jaringan, merangkul berbagai kalangan, serta menerjemahkan semangat perjuangan perempuan menjadi kerja nyata di tengah masyarakat.
Organisasi tidak boleh berhenti pada papan nama, seremonial pelantikan, atau kegiatan yang hanya ramai dalam dokumentasi. Ia harus hadir di tengah persoalan masyarakat, mendengar suara perempuan, menyentuh kehidupan keluarga, memperjuangkan pemberdayaan ekonomi, dan membuka ruang bagi generasi perempuan yang ingin tumbuh serta mengambil bagian dalam pembangunan.
Di sinilah pentingnya kehadiran Nurcahaya Azis.
Penunjukan dirinya memberikan pesan bahwa regenerasi dan penguatan kader perempuan harus berjalan dengan keberanian memberikan kepercayaan kepada figur-figur yang memiliki semangat untuk berkembang.
Kepemimpinan tidak selalu harus lahir dari panjangnya perjalanan dalam struktur, tetapi juga dari kemauan belajar, kemampuan membangun komunikasi, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kesungguhan mengabdi.
Kita tentu tidak sedang mengatakan bahwa jalan yang akan dilalui Nurcahaya mudah. Justru sebaliknya, amanah tersebut menghadirkan tanggung jawab yang tidak ringan.
Ia harus mampu membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan bukanlah sebuah penghormatan tanpa konsekuensi. Ada pekerjaan organisasi yang harus dibangun, kader yang harus dirangkul, solidaritas yang harus diperkuat, dan kepercayaan masyarakat yang harus diperoleh melalui tindakan.
Garnita Malahayati harus menjadi rumah besar perempuan, bukan sekadar sayap organisasi yang bergerak ketika partai membutuhkan dukungan politik.
Perempuan Buru memiliki potensi yang luar biasa. Mereka hadir dalam dunia pendidikan, perdagangan, usaha kecil, birokrasi, kehidupan sosial, hingga ruang-ruang pengabdian masyarakat. Namun, potensi itu membutuhkan wadah, kesempatan, dan kepemimpinan yang mampu menghubungkan kemampuan individu menjadi kekuatan kolektif.
Karena itu, Garnita Malahayati Kabupaten Buru harus berani keluar dari pola organisasi yang hanya sibuk dengan urusan internal. Perlu ada gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan, pendampingan pelaku UMKM, pendidikan politik, penguatan kapasitas kepemimpinan, serta kegiatan sosial yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Jangan sampai perempuan hanya dipanggil ketika momentum politik tiba, tetapi dilupakan ketika kekuasaan dan jabatan telah dibagikan.
Perempuan bukan mesin pengumpul suara.
Mereka adalah kekuatan sosial, pemilik gagasan, penggerak ekonomi keluarga, sekaligus bagian penting dari proses pengambilan keputusan politik.
Di sisi lain, DPW Partai NasDem Maluku juga patut melihat penyerahan KTA kepada Nurcahaya sebagai awal dari proses penguatan organisasi yang lebih serius. Sebab, memberikan kepercayaan kepada seorang kader harus diikuti dengan dukungan politik, pembinaan, pendampingan, dan ruang yang cukup agar kader tersebut dapat bekerja.
Jangan hanya memberikan amanah, tetapi juga berikan kesempatan untuk membuktikan kemampuan.
Pada akhirnya, kualitas sebuah keputusan organisasi tidak diukur dari seberapa meriah proses penyerahannya, melainkan dari seberapa besar perubahan yang lahir setelah keputusan itu dibuat.
Nurcahaya Azis kini berada di depan sebuah tanggung jawab. Ia memiliki kesempatan untuk membangun Garnita Malahayati Kabupaten Buru menjadi organisasi perempuan yang hidup, progresif, inklusif, dan memiliki keberpihakan nyata kepada masyarakat.
Kepercayaan telah diberikan. Selanjutnya, pembuktian harus dilakukan.
Sebab, kepemimpinan perempuan tidak membutuhkan terlalu banyak slogan untuk membuktikan dirinya. Ia membutuhkan keberanian bekerja, keteguhan menjaga integritas, dan kemampuan menghadirkan manfaat.
Saya meyakini, apabila kepercayaan ini dikelola dengan kesungguhan dan didukung oleh seluruh kekuatan Partai NasDem, penunjukan Nurcahaya Azis bukan sekadar keputusan mengisi posisi Ketua DPD Garnita Malahayati Kabupaten Buru.
Lebih dari itu, ia dapat menjadi awal dari babak baru gerakan perempuan NasDem di Bumi Bupolo.
Sebuah langkah yang tepat, dengan harapan besar, dan tentu saja dengan pekerjaan nyata yang harus segera dimulai.
Karena perempuan tidak dilahirkan untuk sekadar berdiri di belakang perubahan. Perempuan juga berhak berada di garis depan, merancang arah, menentukan masa depan, dan menjadi bagian dari sejarah perubahan itu sendiri.