Mediaistana.com || Kabupaten Bogor, Jabar
Isu bahwa perkebunan kelapa sawit boros air dan menjadi biang banjir kerap beredar di tengah masyarakat. Namun, benarkah anggapan tersebut sepenuhnya tepat?
Penelitian dari IPB University justru memberikan perspektif berbeda. Guru Besar Kehutanan, Hendrayanto, menyebut bahwa tanaman kelapa sawit tidak seburuk yang selama ini dituduhkan.
Dalam riset hidrologi jangka panjang yang dilakukan, ditemukan bahwa konsumsi air kelapa sawit tidak lebih boros dibandingkan dengan tanaman lain seperti karet, mahoni, maupun akasia. Artinya, dari sisi penggunaan air, sawit masih berada dalam batas wajar jika dibandingkan dengan komoditas tanaman kehutanan dan perkebunan lainnya.
Menurut Prof. Hendrayanto, persepsi negatif terhadap sawit sering kali muncul akibat generalisasi tanpa melihat konteks pengelolaan lahan. Ia menegaskan bahwa faktor utama yang memengaruhi banjir bukan semata jenis tanaman, melainkan bagaimana tata kelola lahan dilakukan.
“Banjir lebih banyak dipicu oleh perubahan tata guna lahan yang tidak memperhatikan aspek konservasi tanah dan air, seperti pembukaan lahan tanpa perencanaan, minimnya vegetasi penutup tanah, serta sistem drainase yang buruk,” ujarnya.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sistem perakaran kelapa sawit masih mampu membantu penyerapan air ke dalam tanah, selama kebun dikelola dengan baik. Dengan praktik yang tepat, seperti mempertahankan vegetasi penutup dan menghindari pembukaan lahan secara ekstrem, risiko limpasan air dapat ditekan.
Meski demikian, para peneliti tetap menekankan pentingnya pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan. Sawit tetap bisa berdampak negatif jika dikembangkan tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan, terutama jika terjadi deforestasi besar-besaran.
Kesimpulannya, anggapan bahwa kelapa sawit adalah penyebab utama banjir dan boros air tidak sepenuhnya benar. Faktor kunci justru terletak pada cara pengelolaan lahan dan komitmen terhadap praktik ramah lingkungan.
Dengan pemahaman yang lebih utuh, diharapkan masyarakat dapat melihat isu ini secara lebih objektif, tidak hanya berdasarkan asumsi, tetapi juga pada data dan hasil penelitian ilmiah.