Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Para peselancar sejati tidak menunggu laut tenang. Mereka justru hidup di tengah badai, bahkan ketika hari libur menjanjikan keteduhan. Di sanalah naluri diuji, di sanalah keberanian menemukan maknanya. Begitu pula sebuah bangsa. Fiskal bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan darah yang mengalir ke daerah—menentukan apakah kehidupan bergerak atau membeku.
Karena itu, yang harus dihidupkan bukan hanya neraca, melainkan cangkul di tangan petani, mesin di perahu nelayan, dan tanah yang lama tertidur oleh kebiasaan menunggu. Kekayaan kita bukan mitos: tambang, laut, ladang, dan UMKM adalah napas ekonomi yang nyata. Namun semua itu menuntut kejujuran, profesionalisme, dan keberanian untuk mengelola, bukan sekadar memiliki.
Semua memang membutuhkan uang. Tetapi uang, seperti dicatat kecil oleh Bambang Pacul, bukan soal seberapa kuat tenaga Anda, melainkan seberapa tajam cara berpikir Anda. Di sinilah “pemikiran Korea” menemukan relevansinya—bukan meniru wajahnya, tetapi menyerap etosnya: disiplin, inovatif, dan berani mengubah keterbatasan menjadi lompatan.
Jika ingin hanya menjadi pengguna, tetaplah menjadi pengguna. Namun jika ingin menjadi pencipta peluang, maka yang pertama harus diubah adalah pikiran. Sebab kemajuan tidak lahir dari menunggu badai reda, melainkan dari keberanian berselancar di atasnya.