Jakarta, Mediaistana.Com — Suasana hangat Halal Bihalal yang digelar Barisan Rakyat Indonesia Kawal Demokrasi 98 (BARIGADE 98) di Restoran Tjikini Lima, Jakarta, Senin (13/4/2026), berubah menjadi forum refleksi serius tentang arah demokrasi Indonesia, Mengusung tema “Kawal Demokrasi, Jaga Indonesia”, acara ini tak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga panggung kritik terhadap dinamika kebangsaan yang dinilai kian mengkhawatirkan.

Ketua Umum BARIGADE 98, Benny Ramdhani, dalam sambutannya menyampaikan pandangan tegas mengenai situasi politik nasional,Ia menyoroti meningkatnya keterlibatan militer aktif dalam jabatan sipil yang dinilai berpotensi mengaburkan prinsip supremasi sipil dalam sistem demokrasi.
Menurutnya, bangsa Indonesia saat ini berada di persimpangan penting,Ia mempertanyakan apakah negara tetap berjalan dalam koridor demokrasi yang menjunjung tinggi kekuatan sipil, atau justru bergerak menuju konsentrasi kekuasaan yang dapat menggerus nilai-nilai demokrasi itu sendiri,“Ini bukan sekadar dinamika biasa, tetapi pertaruhan besar arah bangsa ke depan,” ujarnya di hadapan para tokoh dan aktivis pergerakan yang hadir.

Tak hanya itu, Benny juga menyinggung kebijakan yang dinilai cenderung berorientasi pada penguasaan sumber daya alam dan pengelolaan anggaran negara tanpa keberpihakan yang jelas kepada rakyat,Ia mengingatkan bahwa seluruh sumber daya tersebut sejatinya berasal dari rakyat dan harus dikelola untuk kesejahteraan bersama.
Dalam forum yang juga diisi diskusi kritis tersebut, Benny mengungkapkan keprihatinannya atas apa yang ia sebut sebagai “anomali negara,” Ia menyoroti adanya tekanan terhadap kebebasan berekspresi, termasuk kasus-kasus kriminalisasi terhadap aktivis serta pembungkaman kritik publik.
Isu kekerasan oleh oknum aparat turut menjadi sorotan, termasuk kasus yang menimpa Andi Yunus, Benny menilai tindakan tersebut mencederai nilai-nilai luhur yang seharusnya dijunjung tinggi oleh aparat negara, seperti Sapta Marga dan Sumpah Prajurit,“Kesetiaan prajurit adalah kepada negara dan rakyat, bukan kepada kekuasaan,” tegasnya.

Acara ini juga menghadirkan sejumlah tokoh senior pergerakan yang memberikan pandangan kritis mereka terhadap kondisi bangsa saat ini, Diskusi berlangsung dinamis di bawah panduan Mustakim, dengan penegasan isu oleh Febri.
Menutup kegiatan, Benny menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir sekaligus mengajak masyarakat untuk tidak kehilangan harapan, Ia menegaskan bahwa di tengah berbagai tantangan, rakyat tetap memiliki peran dan kekuatan untuk menjaga arah demokrasi Indonesia.

“Ketika kita merasa negara tidak baik-baik saja, justru di situlah rakyat harus hadir menjaga demokrasi,” pungkasnya, seraya menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin dalam semangat Idulfitri.