BANYUWANGI – Ratusan warga memadati Lapangan Kali Andong, Dusun Sidomulyo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Kamis (21/5/2026), dalam kegiatan Deklarasi Kader Konservasi Hutan Swadaya Masyarakat yang digelar dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026.

Kegiatan bertema “Peran Masyarakat dalam Menjaga Keseimbangan Ekologi untuk Masa Depan Berkelanjutan” itu berlangsung meriah dan penuh antusiasme masyarakat. Hadir dalam kegiatan tersebut ADM Perhutani Banyuwangi Barat Muklisin, Camat Sempu, Kepala Desa Jambewangi, perwakilan Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, tokoh masyarakat Hari Suharto, aktivis Banyuwangi Desnin dan Mustolih, sejumlah awak media, hingga anggota DPRD Banyuwangi dari Fraksi PDI Perjuangan, Rohan.

Kehadiran berbagai elemen masyarakat, aktivis lingkungan, tokoh desa, media, hingga legislatif menunjukkan bahwa isu pelestarian hutan dan lingkungan hidup masih menjadi perhatian serius publik Banyuwangi.

Namun di balik ramainya kegiatan tersebut, ketidakhadiran Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani justru menjadi sorotan tajam dan memunculkan kekecewaan di tengah masyarakat.
Pasalnya, nama Bupati Banyuwangi tercantum dalam undangan resmi kegiatan bersama ADM Perhutani Banyuwangi Barat. Banyak warga berharap kehadiran langsung kepala daerah sebagai bentuk dukungan nyata terhadap gerakan konservasi lingkungan yang lahir dari masyarakat bawah.
“Yang hadir lengkap, mulai tokoh masyarakat, aktivis, DPRD, media, sampai ratusan warga. Tapi sangat disayangkan ibu bupati justru tidak hadir dalam kegiatan penting seperti ini,” ujar salah satu peserta kegiatan.
Kekecewaan warga bukan tanpa alasan. Menurut mereka, persoalan lingkungan, kawasan hutan, hingga ancaman kerusakan ekologi saat ini menjadi isu serius yang membutuhkan perhatian langsung pemerintah daerah, bukan sekadar seremoni dan slogan pelestarian lingkungan.
Tokoh masyarakat Hari Suharto dalam kesempatan itu juga mengingatkan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga kelestarian hutan. Ia menilai keberadaan kader konservasi harus benar-benar diperhatikan dan didukung secara nyata.
Sementara itu, aktivis Banyuwangi Desnin menilai gerakan konservasi tidak akan berjalan maksimal apabila pemerintah daerah tidak menunjukkan komitmen langsung di lapangan.
“Kalau bicara masa depan lingkungan hidup Banyuwangi, pemerintah jangan hanya hadir di baliho atau pidato. Masyarakat ingin melihat keberpihakan nyata,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan aktivis Mustolih yang menyebut kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat terhadap hutan sebenarnya masih sangat besar.
“Ini bukan acara kecil. Ratusan warga hadir dengan kesadaran sendiri. Mereka peduli pada hutan dan ekologi. Sangat ironis kalau justru pejabat tertinggi daerah tidak hadir,” katanya.
Dalam sambutannya, ADM Perhutani Banyuwangi Barat Muklisin menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan agar tetap lestari dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.
Ia menyebut tantangan kerusakan lingkungan saat ini tidak bisa dihadapi sendiri oleh pemerintah maupun Perhutani tanpa dukungan masyarakat.
“Kader konservasi harus menjadi ujung tombak menjaga keseimbangan ekologi. Hutan bukan hanya milik negara, tetapi sumber kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Sementara anggota DPRD Banyuwangi Fraksi PDI Perjuangan, Rohan, yang turut hadir dalam kegiatan itu menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga kawasan hutan dan lingkungan hidup di Banyuwangi.
Menurutnya, gerakan konservasi berbasis masyarakat harus mendapat perhatian serius dan dukungan kebijakan yang nyata dari pemerintah daerah.
Meski acara berlangsung tertib dan penuh semangat kebersamaan, absennya Bupati Banyuwangi tetap menjadi bahan perbincangan hangat di lokasi kegiatan. Banyak warga merasa kecewa karena momentum penting yang dihadiri masyarakat luas justru tidak dihadiri langsung oleh kepala daerah.
“Kalau masyarakat saja bisa hadir dan peduli menjaga hutan, seharusnya pemimpin daerah juga memberi contoh hadir bersama rakyat,” ucap salah satu warga dengan nada kecewa.
Kegiatan kemudian ditutup dengan deklarasi bersama kader konservasi hutan swadaya masyarakat sebagai bentuk komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekologi di Banyuwangi demi masa depan yang berkelanjutan.