Probolinggo, Mediaistana.com
Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin mengukuhkan Pengurus Badan Pengelola Masjid Agung Raudlatul Jannah Kota Probolinggo masa bakti 2026–2030, Jumat (10/4/2026).
Susunan pengurus tidak berubah dari periode sebelumnya. KH Abdul Aziz RM kembali dipercaya sebagai ketua, didampingi Andri Purwanto selaku sekretaris, dan Siswanto sebagai bendahara.
Ini bukan hanya kepercayaan dari Pemkot, tetapi juga dari seluruh masyarakat Kota Probolinggo. Kepengurusan sebelumnya sudah berjalan satu tahun dan kini dilanjutkan, artinya ada kepercayaan publik yang harus dijaga, kata Dokter Aminuddin.
Menurut wali kota, Masjid Agung Raudlatul Jannah yang berdiri sejak 1777 merupakan cerminan dinamika kegiatan ibadah dan sosial masyarakat. Karena itu, pengurus perlu menyusun strategi dan perencanaan matang agar masjid menjadi pusat kegiatan ibadah, pendidikan, hingga penggerak ekonomi warga.
Tanggung jawabnya tidak ringan selama empat tahun ke depan. Banyak tantangan, tapi insyaallah dengan kebersamaan semua bisa terlaksana. Kita berharap jemaah salat Subuh terus bertambah setiap harinya, ujar wali kota yang rutin salat Subuh di masjid tersebut.
Ia menekankan, kegiatan masjid tidak boleh hanya menyasar orang dewasa dan lansia. Aktivitas remaja juga perlu digalakkan. Pengaruh narkoba, pergaulan bebas, dan media sosial sangat membahayakan remaja. Masjid harus hadir sebagai benteng, tegasnya.
Terkait infrastruktur, Dokter Aminuddin menyebut rekonstruksi besar akan dimulai pada 2027. Rencananya, pengurus menjadikan Masjid Agung sebagai Masjid Emas Raudlatul Jannah. Jika terwujud, ini bukan sekadar simbol, tetapi tanda keberhasilan bersama, imbuhnya. Ia meminta pengurus segera merumuskan program kerja hingga 2030.
Usai pengukuhan, KH Abdul Aziz RM menyatakan siap melanjutkan amanah. Empat tahun ke depan menjadi tantangan bagi kami. Rencana 2027, masjid akan dipercantik menjadi Masjid Emas Raudlatul Jannah tanpa menghilangkan bangunan bersejarah yang ada, ujarnya.
KH Abdul Aziz berharap Masjid Agung semakin menjadi ikon kota dengan kegiatan keagamaan dan sosial yang lebih semarak. Ini masjid peninggalan leluhur yang dibangun sejak 1777, hampir 250 tahun lalu. Saatnya kita makmurkan dan kita ramaikan bersama. Masyarakat perlu memahami bahwa masjid ini diwariskan untuk umat, pungkasnya.