Oleh: Muz Latuconsina
Gunung Botak bukan sekadar bentang alam yang menjulang di cakrawala. Ia adalah ruang hidup, tempat harapan ribuan masyarakat bergantung. Hari-hari yang berlalu tanpa aktivitas kerja telah meninggalkan sunyi yang panjang—sunyi yang tidak hanya terasa di lereng gunung, tetapi juga di dapur-dapur rumah warga.
Kini, harapan itu tertuju pada sepuluh koperasi pemegang Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Masyarakat menunggu dengan penuh harap agar koperasi-koperasi tersebut segera beroperasi. Bukan semata demi aktivitas tambang, melainkan demi kembalinya roda kehidupan yang sempat terhenti. Ketika koperasi berjalan, pekerjaan hadir. Ketika pekerjaan hadir, martabat dan kesejahteraan masyarakat pun kembali ditegakkan.
Operasional koperasi yang legal dan tertata di Gunung Botak diharapkan menjadi jawaban atas kerinduan akan kerja yang aman, adil, dan berkelanjutan. Masyarakat tidak meminta kemewahan—mereka hanya ingin kesempatan untuk bekerja, menghidupi keluarga, dan menatap masa depan dengan lebih pasti.
Sudah saatnya semua pihak bergerak seirama. Pemerintah, pengelola koperasi, dan masyarakat perlu bergandengan tangan agar Gunung Botak tidak lagi menjadi simbol penantian, melainkan lambang kebangkitan ekonomi rakyat. Sebab di balik setiap koperasi yang beroperasi, ada harapan yang kembali menyala dan kehidupan yang perlahan menemukan jalannya.(AS)