Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Ilmu sering dipuja sebagai puncak kecerdasan manusia. Ia dijadikan kompas untuk memahami rahasia bumi, semesta, dan diri sendiri. Manusia menuntut ilmu dari berbagai bidang, melatih akalnya agar mampu menyingkap apa yang tersembunyi di balik kenyataan. Namun justru di sanalah paradoks itu lahir: ilmu adalah sekaligus bukti kepintaran dan kebodohan akal.
Akal bekerja dengan mengumpulkan, mengolah, dan menyimpulkan. Ia belajar dari guru, buku, pengalaman, dan sejarah. Tetapi tak satu pun guru yang benar-benar tuntas. Setiap detik, jarum jam melahirkan informasi baru, teori baru, sudut pandang baru. Apa yang hari ini dianggap mutlak, besok direvisi. Apa yang kemarin dipuja, hari ini ditinggalkan. Pikiran-pikiran besar saling meniadakan, saling memakan, hingga akhirnya tersapu oleh waktu dan ditelan oleh zaman.
Di situlah kebodohan akal tampak jelas. Ia berlari tanpa garis akhir. Semakin cepat akal bekerja, semakin banyak teknologi diciptakan, semakin hebat penemuan lahir—namun semua itu tetap sementara. Tak ada pengetahuan yang benar-benar abadi. Akal membangun menara di atas pasir waktu, lalu heran ketika ombak sejarah meruntuhkannya.
Lalu, jika demikian, apa arti kepintaran?
Kepintaran sejati bukan milik akal. Kepintaran sejati bernama kesadaran.
Akal bergerak seperti roda yang berputar: terus bekerja, terus mencari, tanpa pernah menemukan ujungnya. Ia lelah oleh pikirannya sendiri, menua oleh ambisinya sendiri. Sementara kesadaran tidak berlomba, tidak membangun, tidak membantah. Ia hanya menyaksikan. Dari jarak yang sunyi, kesadaran melihat kebodohan akal—bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami.
Dan ketika akal kelelahan, ketika ia tak lagi mampu memaksa dunia tunduk pada logikanya, kesadaran mengambil alih. Bukan dengan kekuasaan, tetapi dengan keheningan. Bukan dengan jawaban, tetapi dengan penerimaan.
Tulisan ini lahir dari kebodohan akal saya sendiri. Namun setidaknya, saat kata-kata ini ditulis, kesadaran duduk bersama saya—tidak meninggalkan akal, tidak memusuhinya, hanya menempatkannya pada tempat yang semestinya.
Karena mungkin, kebijaksanaan bukan tentang seberapa banyak yang kita tahu, melainkan seberapa sadar kita bahwa tidak semua harus diketahui.