Oleh: Onyong Wael (Imam adat petuanan negeri Kaiely)
Di tengah dinamika dan perbincangan publik yang kian ramai mengenai dualisme Raja Kayeli saat ini, kiranya kita semua perlu menarik napas sejenak dan menempatkan persoalan ini pada ruang yang jernih dan bijaksana. Tidak semua yang tampak di permukaan sesungguhnya menjadi kegelisahan bersama. Bahkan, bagi sebagian besar marga Wael, persoalan ini tidak terlalu menjadi beban pikiran, karena hakikat masalah raja sejatinya berada di dalam lingkup matarumah itu sendiri.
Oleh karena itu, menjadi penting untuk dipahami bahwa persoalan Raja Petuanan Kayeli bukanlah semata-mata urusan publik, melainkan lebih kepada urusan internal keluarga besar yang memiliki garis adat dan tanggung jawab sejarah. Jika akar persoalan berasal dari dalam matarumah, maka alangkah baiknya pula penyelesaiannya dimulai dari sana—dengan mengedepankan musyawarah, saling menghormati, dan kebesaran hati.
Dalam konteks ini, figur-figur tua dan yang dituakan dalam matarumah memiliki peran yang sangat penting. Sosok seperti Onyong Mansur Wael, Ibrahim Wael, dan Hasan Wael dipandang sebagai orang-orang tua yang memiliki kebijaksanaan, pengalaman, serta legitimasi moral untuk turun tangan. Kehadiran mereka bukan untuk memihak, melainkan untuk merangkul, menenangkan, dan menjahit kembali benang persaudaraan yang mungkin sempat kusut.
Apabila di dalam matarumah telah tercapai titik terang—damai dalam satu hati, satu pikiran, dan satu tujuan—maka hasil tersebut patut disampaikan kepada pihak-pihak terkait, agar penyelesaian dapat dilanjutkan secara terbuka, aman, dan bermartabat. Dengan demikian, tidak ada lagi ruang bagi konflik berkepanjangan yang justru dapat melukai persaudaraan dan merusak tatanan adat yang telah dijaga turun-temurun.
Pada akhirnya, kebesaran sebuah adat tidak diukur dari kerasnya perdebatan, melainkan dari kemampuan para pewarisnya untuk menyelesaikan perbedaan dengan kepala dingin dan hati yang lapang. Semoga semua pihak diberikan kebijaksanaan, agar Kayeli tetap berdiri dalam damai, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur.( Syam)