
Goresan :Jitro Atti
Mahasiswa MPBI UNIKAMA.
Mediaistana, com. Malang, 19/04/2026.
Kami tak lahir dari benang yang sama,ada katun dari tanah Jawa, ada ulos dari pinggang Toba, ada tenun dari Timor, ada sutra dari Bugis yang dibawa angin.Warnanya tak akur,motifnya kadang bertengkar.
Tapi Ibu Pertiwi berbisik,
“Yang beda itu bahan.
Yang sama itu tujuan:
selimut.
Biar anak-anakku tak kedinginan
saat badai datang.”
Toleransi itu jarum pertama.
Sebelum menjahit, ia bertanya,
“Benangmu boleh lewat di sebelah benangku?”
Jawabnya bukan iya atau tidak.
Jawabnya: geser sedikit,
beri ruang,
lalu simpul pertama lahir tanpa paksa.
Maka kami duduk melingkar,
bukan untuk jadi sama,
tapi untuk merajut.
Yang dari Papua ajari simpul,
yang dari Aceh ajari sabar,
yang dari Bali ajari warna,
yang dari Dayak ajari akar.
Jarumnya satu: nama Indonesia.
Benangnya banyak: nama kita semua.
Lemnya satu: toleransi.
Masa depan itu bukan warisan,
ia tenunan.
Kalau ada yang menarik benang sendiri,
bolongnya kena kita semua.
Kalau ada yang tak mau toleran,
jahitannya lepas,
dinginnya sampai ke anak cucu.
NKRI itu bingkai,
bukan sangkar.
Bingkai tak pernah bilang lukisan harus satu warna.
Bingkai tugasnya satu:
jaga agar lukisan tak sobek
saat curiga dan benci memaksa masuk.
Dan penjaganya adalah kita,
dengan tangan yang rela geser gelas,
biar gelas orang lain bisa ikut di meja.
Maka jangan tanya,
“Apa untungku ikut merajut?”
Tanya:
“Apa jadinya kalau benangku putus karena tak ada yang toleran?”
Jawabnya sunyi,
seperti rumah tanpa tikar,
seperti lagu tanpa suara rendah.
Mari,
ulurkan tanganmu yang beda.
Aku ulurkan tanganku yang beda.
Kita ikat jadi simpul,
kita namai: saudara.
Karena masa depan tak bisa dijahit sendiri,
toleransi tak bisa jalan sendiri,
dan NKRI terlalu indah
untuk dibiarkan bolong.
#Inspirasi# UNIKAMA# Dr. SITI Maf’ulah# Pluralisme dan Multikulturalisme# UNIKAMA#Dr.