26.4 C
Jakarta
BerandaInfoMerawat Keadilan, Tukuboya Apresiasi Kerja Humanis Kapolres Buru di Gunung Botak

Merawat Keadilan, Tukuboya Apresiasi Kerja Humanis Kapolres Buru di Gunung Botak

Editorial Redaksi

Sorotan publik adalah bagian tak terpisahkan dari demokrasi. Kritik dibutuhkan agar kekuasaan tetap berjalan di rel yang benar. Namun, kritik yang adil menuntut kejujuran, kelengkapan perspektif, dan niat membangun—bukan sekadar menunjuk satu pihak sebagai sasaran empuk.

Dalam konteks pengamanan kawasan tambang emas ilegal Gunung Botak, sorotan sepihak yang hanya diarahkan kepada Kapolres Buru, AKBP Sulastri Sukidjang, SH, S.I.K, MM, patut dipertanyakan. Seperti ditegaskan politisi Gerindra sekaligus anggota DPRD Kabupaten Buru, Rustam Fadly Tukuboya, pengamanan Gunung Botak bukanlah kerja tunggal Polres Buru. Di sana ada kerja kolektif lintas instansi: Polri, TNI, dan Satpol PP bahkan pemuda adat yang bersama-sama menjaga delapan Pos Pengamanan. Fakta ini tidak bisa dihapus begitu saja demi membangun narasi yang menyudutkan satu institusi.

Gunung Botak bukan sekadar lokasi tambang ilegal. Ia adalah simpul persoalan kompleks—ekonomi masyarakat, ketergantungan hidup, potensi konflik sosial, hingga persoalan hukum dan lingkungan. Menyederhanakan kompleksitas sebesar itu dengan menyalahkan satu figur atau satu institusi bukan hanya tidak adil, tetapi juga menyesatkan opini publik.

Lebih dari itu, publik justru perlu melihat sisi lain yang kerap luput dari perhatian: upaya penertiban dan pengosongan kawasan Gunung Botak yang dilakukan secara humanis. Di bawah kepemimpinan AKBP Sulastri Sukidjang, langkah-langkah penegakan hukum tidak dijalankan dengan pendekatan kekerasan, melainkan dengan dialog, pengendalian situasi, dan pertimbangan kemanusiaan. Menghadapi ribuan penambang dengan latar belakang ekonomi yang rentan, pendekatan persuasif adalah pilihan yang tidak mudah—namun itulah yang ditempuh.

Keberhasilan menertibkan hingga mengosongkan Gunung Botak tanpa gejolak besar adalah capaian yang layak diapresiasi, bukan diabaikan. Ini menunjukkan bahwa negara hadir tidak hanya dengan kekuatan, tetapi juga dengan nurani.

Kritik tentu tetap diperlukan. Evaluasi harus terus dilakukan. Namun, kritik yang baik adalah kritik yang berimbang, berbasis fakta, dan menyasar persoalan secara menyeluruh. Bukan kritik yang mencari kambing hitam, apalagi melemahkan aparat yang sedang bekerja di garis depan dengan segala keterbatasan dan risiko.

Sudah saatnya publik bersikap lebih dewasa: adil dalam menilai, jernih dalam melihat persoalan, dan bijak dalam menyampaikan kritik. Karena menjaga keamanan dan ketertiban di Gunung Botak bukan tanggung jawab satu orang, satu jabatan, atau satu institusi—melainkan tanggung jawab kita bersama.(Tim)

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!