29.8 C
Jakarta
Beranda blog Halaman 191

Perguruan Pencak Silat Tri Susila Indonesia Torehkan Prestasi Gemilang

0

PURWOREJO | Mediaistana.com – Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh pesilat-pesilat dari Perguruan Pencak Silat Tri Susila Indonesia, dalam ajang Al Falah Pencak Silat Championship 2 yang digelar selama dua hari Sabtu-Minggu (17-18 Januari 2026, di GOR Gembira Jalan Pemuda No.3 Kebumen, Jawa Tengah.

Dalam ajang tersebut beberapa nama dari Perguruan Tri Susila Indonesia sukses memborong juara diantaranya Hasna Adzkiya meraih Juara 1 kelas E putri pra remaja dan menjadi pesilat terbaik putri kategori SMP, Khumaira Ari Riandhani meraih Juara 2 kelas G putri pra remaja, Hanif Darmawan Juara 2 kelas H putra pra remaja dan Imron Setio Wibowo Juara 2 kelas H putra Remaja.

Selain menjadi ajang bergengsi acara tersebut juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya di bidang pencak silat.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti nyata bahwa pesilat-pesilat Perguruan Tri Susila Indonesia memiliki semangat tinggi untuk berprestasi. Semangat juang, kedisiplinan dalam latihan, serta kekompakan tim menjadi fondasi penting dalam meraih pencapaian luar biasa itu.

Ketua Umum Seni Beladiri Perguruan Pencak Silat Tri Susila Indonesia, Eko Satyawan SP mengucapkan, terima kasih atas perjuangan dan ketekunan pesilat-pesilat Tri Susila Indonesia yang sudah berhasil memberikan prestasi terbaik kepada perguruan.

“Tetap semangat dan tetap haus dengan prestasi untuk lebih lagi. Yang paling utama pesilat harus punya adab dan tawadhu kepada semua gurunya baik di sekolah maupun di perguruan,” kata Iwan saat dikonfirmasi di Perguruan Pencak Silat Tri Susila Indonesi, Kelurahan Cangkrep Kidul, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Senin (19/01/2026).

Lebih lanjut, Iwan menegaskan, bahwa ke depan, Tri Susila Indonesia berkomitmen untuk terus mencetak pesilat-pesilat unggulan yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, sportivitas, dan keberanian, serta mengharumkan nama Perguruan Tri Susila Indonesia.

“Tentunya capaian ini bisa menjadi kebanggaan bagi seluruh keluarga besar Tri Susila Indonesia. Prestasi ini diharapkan dapat menginspirasi pesilat-pesilat lain untuk meraih juara,” tegasnya.

Iwan berpesan kepada seluruh pesilat dari Perguruan Pencak Silat Tri Susila Indonesia untuk tetap jalin kekompakan dimanapun berada

“Semoga penerapan selama latihan rutin untuk menjadi bekal pertandingan kedepan dan yang paling penting ojo wedi susah lan ojo kokean bungah (jangan takut susah dan jangan terlalu senang), Jaya Tumitis Styaning Ati,” pesannya.

Sementara itu, Hasna Adzkiya pesilat TSS Indonesia yang meraih Juara 1 kelas E putri pra remaja dan menjadi pesilat terbaik putri kategori SMP, mengatakan, dirinya tidak menyangka bisa meraih juara.

“Rasanya senang, campur aduk yang pasti bahagia bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Perguruan Tri Susila Indonesia,” ucapnya. (Joko)

Mutasi Jabatan Satuan Reserse Narkoba Polres Purworejo Resmi di Jabat AKP Amirudin Zulkarnain, S.H

0

PURWOREJO | Mediaistana.com – Tongkat estafet kepemimpinan Satuan Reserse Narkoba (Satnarkoba) Polres Purworejo resmi berpindah tangan. Kapolres Purworejo, AKBP Windy Syafutra, S.H., S.I.K., M.Med.Kom., memimpin langsung upacara serah terima jabatan (sertijab) yang berlangsung khidmat di Gedung Auditorium Tri Brata Polres Purworejo, Senin (19/01) pagi.

Mutasi jabatan ini dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Kapolda Jawa Tengah tertanggal 18 Desember 2025. Pejabat lama, AKP Primadhana Bayu Kuncoro, S.Pd., M.A.P., kini mengemban amanah baru sebagai Kasat Narkoba Polres Karanganyar. Sementara itu, posisi Kasat Narkoba Polres Purworejo kini diisi oleh AKP Amirudin Zulkarnain, S.H., yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Pasar Kliwon, Polresta Surakarta.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Pejabat Utama (PJU) Polres Purworejo, Kapolsek jajaran, personel Polres Purworejo, serta perwakilan Bhayangkari Cabang Purworejo.

Dalam sambutannya, Kapolres Purworejo menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dedikasi AKP Bayu selama bertugas di Purworejo. Kapolres menilai, selama masa jabatan tersebut, situasi kamtibmas di bidang pemberantasan narkotika berjalan sangat kondusif tanpa kendala berarti.

“Untuk AKP Bayu, terima kasih atas pengabdian terbaiknya. Saya berpesan agar ilmu-ilmu dan pengalaman positif yang didapat di Purworejo jangan lupa ditularkan kepada AKP Amirudin. Bawalah semangat itu ke tempat tugas yang baru,” ungkap AKBP Windy Syafutra.

Kapolres juga memberikan ucapan selamat datang kepada AKP Amirudin Zulkarnain dan berharap agar pejabat baru segera beradaptasi dengan dinamika masyarakat di Purworejo.

“Jabatan ini adalah amanah sekaligus ladang pengabdian. Segeralah menyatu dengan ritme di sini. Teruskan apa yang sudah baik, dan ciptakan inovasi baru untuk melindungi masyarakat Purworejo dari bahaya narkoba. Mari kita bekerja dengan hati untuk Polri yang lebih dicintai masyarakat.” pesan Kapolres Purworejo pada Kasat Narkoba baru. (Joko)

Tragedi di Balik Lembaran Rupiah: Ketidaksanggupan Menahan Amarah Berujung Petaka

0

CILACAP–Mediaistana.com – Suasana siang yang tenang di kawasan Pasar Sampang, Cilacap, seketika berubah mencekam pada Jumat (16/01/2026).
Sebuah insiden kekerasan yang melibatkan dua rekan sejawat pecah di tengah hiruk-pikuk pasar, meninggalkan luka mendalam baik secara fisik maupun sosial.

​Peristiwa naas ini bermula sekitar pukul 12.00 WIB, dipicu oleh sengketa pengelolaan uang parkir antara dua juru parkir yang telah lama saling mengenal, yakni saudara A dan S.

Berdasarkan keterangan di lapangan, perselisihan memuncak saat S diduga merampas hak pendapatan milik A secara sepihak.

Meski sempat dilerai oleh para pedagang sekitar, termasuk seorang penjual es campur yang berusaha meredam situasi, api amarah rupanya belum sepenuhnya padam.

Saat korban (A) hendak melangkah pulang menuju kediamannya, pelaku (S) justru melakukan serangan mendadak dari arah belakang di depan Gang Dulang Mas.

Serangan senjata tajam tersebut mengakibatkan korban menderita luka serius di bagian kepala dan tangan.

Ironi menyelimuti tragedi ini, melalui unggahan di media sosial pribadinya pasca-kejadian, korban mengungkapkan rasa kecewa yang mendalam.

Keduanya diketahui bukan sekadar rekan kerja, melainkan sahabat lama yang telah melalui berbagai fase kehidupan bersama—mulai dari masa lajang, membina rumah tangga, hingga mengalami perceraian di waktu yang hampir bersamaan.

​”Saya hanya meminta jawaban dan pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan,” tulis A dalam unggahannya, menggambarkan sebuah pengkhianatan dari seseorang yang selama ini dianggap sebagai saudara seperjuangan.

​Jika menilik dari sisi ekonomi, nilai yang diperebutkan sungguh tidak sebanding dengan nyawa atau kebebasan.
Dengan tarif parkir yang berkisar antara Rp1.000 hingga Rp2.000, pendapatan harian seorang juru parkir di lokasi strategis tersebut sejatinya cukup signifikan.
Namun, ketika logika dikalahkan oleh emosi sesaat, lembaran rupiah yang tidak seberapa itu justru berubah menjadi pemicu pertumpahan darah.

​Kini, korban tengah menjalani perawatan medis. Sementara itu, pihak kepolisian setempat dikabarkan telah bergerak melakukan penyelidikan mendalam guna memastikan proses hukum berjalan seadil-adilnya bagi kedua belah pihak.

​Kasus ini menjadi refleksi kelam bagi masyarakat tentang betapa pentingnya mengelola kontrol diri, karena seringkali, amarah yang tak terkendali menghancurkan apa yang telah dibangun selama bertahun-tahun dalam hitungan detik.

Rustam Fadly Tukuboya, SH: Kritik Palsu Kepada Gubernur Tak Akan Menenggelamkan Kebenaran

0

Politisi Partai Gerindra sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Buru, Rustam Fadly Tukuboya, SH, angkat bicara menanggapi maraknya “pengamat dadakan” yang belakangan ramai menyerang pemerintahan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.

Menurut Tukuboya, kelompok ini tidak lebih dari barisan sakit hati (BSH)—barisan orang-orang yang secara politik sudah kalah, tetapi secara batin belum selesai menerima kenyataan.

“Mereka ini bukan pengamat, tapi barisan sakit hati yang belum sembuh. Kekalahan politik mereka masih membusuk di dalam kepala, berubah jadi najis batin. Akibatnya, mereka tidak lagi mampu membedakan mana kebenaran dan mana kebencian,” tegas Tukuboya, Senin, (19/1)

Ia menilai, klaim sebagai pengamat hanyalah kamuflase untuk melampiaskan dendam politik. Setiap kebijakan gubernur selalu dicari-cari celahnya, bukan untuk diperbaiki, tetapi untuk dihancurkan lewat opini dangkal dan tuduhan tanpa dasar.

“Kalau memang pengamat, mana data? Mana kajian? Mana solusi? Yang saya lihat hanya ocehan emosional, asumsi liar, dan kesimpulan yang lahir dari sakit hati, bukan dari nalar,” lanjutnya.

Tukuboya juga dengan keras membantah narasi yang menyebut Gubernur Hendrik Lewerissa sebagai sosok memimpin Maluku yang gagal dan terburuk dalam sejarah.

“Gubernur Hendrik Lewerissa itu bukan sosok bodoh seperti yang mereka bayangkan. Justru mereka sendiri—gagal memahami demokrasi, gagal memahami peran oposisi yang sehat, dan gagal memahami bahwa kekuasaan hari ini diraih secara sah,” ujarnya lugas.

Ia menegaskan bahwa kritik adalah bagian penting dalam demokrasi, tetapi kritik harus berdiri di atas kejujuran intelektual, bukan dendam politik.

“Demokrasi tidak memberi ruang bagi kritik yang lahir dari najis batin. Kalau kritik tidak berbasis data dan niat baik, itu bukan kritik—itu agitasi murahan,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Tukuboya mengingatkan bahwa masyarakat Maluku tidak sebodoh yang dibayangkan oleh para pengamat dadakan tersebut.

“Rakyat Maluku bisa menilai mana kritik yang tulus dan mana kebencian yang disamarkan. Gubernur boleh dikritik, tapi jangan hina akal sehat publik dengan analisis palsu. Luka politik kalian bukan urusan pemerintahan hari ini,” pungkasnya.

Polres Bogor Gelar Upacara HUT Satpam ke-45 Tahun 2026 di Mako Polres Bogor

0

Polres Bogor Gelar Upacara HUT Satpam ke-45 Tahun 2026 di Mako Polres Bogor

Bogor –mediaistana.com

Polres Bogor menggelar Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Satuan Pengamanan (Satpam) ke-45 Tahun 2026 tingkat Kabupaten Bogor, yang dilaksanakan pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, bertempat di Markas Komando (Mako) Polres Bogor.

Upacara tersebut dipimpin oleh Wakapolres Bogor, Kompol Rizka Fadhila, S.H., S.I.K., dan dimulai pada pukul 07.30 WIB. Kegiatan berlangsung khidmat serta diikuti oleh perwakilan satuan pengamanan dari berbagai instansi dan perusahaan di wilayah Kabupaten Bogor.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Kasat Binmas Polres Bogor AKP Nimrod, S.H., Kanit Obvit Sat Samapta Polres Bogor IPTU Agus Budiyanto, S.H., M.M., serta KBO Binmas Polres Bogor IPDA Sigit Wahyudi, A.Md.Kep., S.E., M.M., bersama para perwakilan Satpam se-Kabupaten Bogor.

Rangkaian upacara diawali dengan persiapan pasukan, dilanjutkan dengan masuknya Komandan Upacara dan Inspektur Upacara ke lapangan, penghormatan pasukan, laporan Komandan Upacara, serta pembacaan Prinsip-Prinsip Satpam sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas pengamanan.

Pada kesempatan tersebut, juga dilaksanakan pemberian penghargaan kepada Satpam berprestasi sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi dalam membantu tugas Kepolisian menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Dalam amanatnya, Wakapolres Bogor menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh anggota Satpam atas pengabdian dan peran aktifnya dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan kondusif di tengah masyarakat.

Lebih lanjut disampaikan bahwa Satpam memiliki peran strategis sebagai mitra Polri dalam menjaga keamanan di lingkungan kerja, perusahaan, maupun pemukiman. Oleh karena itu, profesionalisme, disiplin, dan peningkatan kompetensi diharapkan terus ditingkatkan seiring perkembangan tantangan kamtibmas.

Wakapolres Bogor juga mengajak seluruh elemen Satpam untuk terus memperkuat sinergi dan kerja sama dengan Polri serta stakeholder terkait, guna mewujudkan situasi keamanan yang aman, nyaman, dan berkelanjutan di wilayah Kabupaten Bogor.

Upacara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Mars Satpam, pembacaan doa, laporan akhir Komandan Upacara, serta penghormatan pasukan. Kegiatan berakhir pada pukul 07.50 WIB dan selama berlangsungnya upacara, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Polres Bogor berharap momentum HUT Satpam ke-45 Tahun 2026 dapat menjadi semangat baru bagi seluruh Satpam dalam meningkatkan peran serta kontribusinya sebagai mitra strategis Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Mediaistana reporter Maulana

PCNU Banyuwangi Kubu Sultan Gelar Pertemuan Tertutup dengan Pj Ketua Umum PBNU

0

Mediaistana.com
BANYUWANGI, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi kubu Sultan, yang berada dalam garis Pro Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dan Sekjen PBNU KH Saifullah Yusuf, menggelar pertemuan khusus dengan Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa. Pertemuan berlangsung tertutup di salah satu ruangan Warung Sate Bagong, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, Minggu sore (18/1/2026).

Pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit itu hanya dihadiri tiga perwakilan PCNU Banyuwangi, yakni KH Ainur Rofiq, KH Saiful Waton, dan Abdul Aziz. Sementara belasan pengurus lainnya menunggu di luar ruangan.

KH Saiful Waton menjelaskan, pertemuan tersebut telah direncanakan sebelumnya, bertepatan dengan agenda KH Zulfa Mustofa yang mengisi pengajian di halaman Kantor MWC NU Cluring.
“Kami memang sudah berjanji bertemu beliau sejak dalam perjalanan dari Surabaya,” ujarnya.

Ra Waton, sapaan akrab KH Saiful Waton, menyebut dalam pertemuan tertutup itu pihaknya menyampaikan berbagai hal terkait dinamika internal yang terjadi di tubuh PCNU Banyuwangi. Di sisi lain, KH Zulfa Mustofa juga memaparkan perkembangan dan dinamika di tingkat PBNU serta PWNU di sejumlah daerah.

“Kami saling bertukar informasi. Bahkan sambil berseloroh, Kiai Zulfa sempat bertanya, ‘Kubu sebelah sudah konferensi, tinggal yang Sultan ini kapan?’,” tutur Ra Waton.

Sementara itu, KH Ainur Rofiq mengaku bersyukur mendapat kesempatan bertemu langsung dan khusus dengan Pj Ketua Umum PBNU tersebut. Selain menerima banyak informasi strategis, ia juga menyampaikan sejumlah hal penting kepada tokoh yang selama ini menjadi panutannya.

“Tentu ada informasi yang bisa dikonsumsi publik, ada pula yang sifatnya internal. Alhamdulillah, semuanya bisa kami sampaikan, sekaligus beliau memberikan sejumlah masukan,” kata KH Ainur Rofiq.

Hal senada disampaikan Abdul Aziz. Ia mengaku bersyukur bisa ikut dalam pertemuan tersebut, sekaligus menjalankan amanah Sekjen PBNU KH Saifullah Yusuf atau Gus Ipul untuk menyampaikan salam dan arahan kepada KH Zulfa Mustofa.

“Gus Sekjen menyarankan agar saya dan teman-teman menemui KH Zulfa Mustofa yang kebetulan sedang memiliki agenda di Banyuwangi,” ujarnya.

Aziz menambahkan, setelah menerima arahan dari Gus Ipul, pengurus PCNU Banyuwangi kubu Pro Rais Aam dan Sekjen PBNU kemudian berbagi tugas.

“Kiai Muhdhor Atim, Ustadz Shodiq, dan teman-teman mendampingi Kiai Zulfa saat pengajian. Sebagian lainnya mengikuti pertemuan ramah tamah di Warung Sate Bagong,” pungkasnya.

“Pengamat Dadakan dan Kebencian yang Menyamar Jadi Kritik”

0

Editorial Redaksi

Di ruang publik kita hari ini, ada fenomena yang menggelitik sekaligus memprihatinkan: segelintir orang yang tiba-tiba menjelma menjadi “pengamat.” Ada pengamat politik, pengamat kebijakan publik, bahkan pengamat segala hal—lahir bukan dari proses keilmuan, melainkan dari kekecewaan yang tak kunjung sembuh.

Akar persoalannya sederhana: jagoan politik mereka tumbang di gelanggang pilkada. Kekalahan yang seharusnya diterima dengan kedewasaan justru diolah menjadi amarah, lalu disalurkan lewat narasi kebencian kepada pemerintahan yang sah, khususnya kepada gubernur Hendrik Lewerissa. Sejak itu, setiap kebijakan dibaca dengan kacamata dendam, setiap langkah dimaknai sebagai kesalahan, dan setiap keberhasilan diabaikan seolah tak pernah ada.

Yang lebih ironis, mereka datang membawa klaim besar: atas nama masyarakat Maluku. Masyarakat Maluku yang mana? Apakah masyarakat Maluku adalah satu suara, satu pikiran, satu rasa? Ataukah nama besar itu sekadar tameng untuk melegitimasi opini pribadi yang rapuh?

Kritik, dalam demokrasi, adalah kebutuhan. Namun kritik menuntut prasyarat: data, nalar, dan itikad baik. Tanpa itu, kritik berubah rupa menjadi cercaan; tanpa metodologi, analisis menjadi asumsi; tanpa kejujuran intelektual, pengamatan menjelma agitasi. Mengaku sebagai pengamat tanpa landasan keilmuan yang jelas bukanlah keberanian, melainkan kemalasan berpikir yang dibungkus retorika.

Mereka berbicara lantang, tetapi miskin rujukan. Menuding keras, namun absen angka. Menggugat kebijakan, tetapi tak pernah menunjukkan alternatif. Yang tersisa hanyalah kalimat-kalimat emosional, berulang, dan penuh prasangka—kebencian yang disulap menjadi “kritik.”

Masyarakat Maluku tidak membutuhkan pengamat dadakan yang berteriak paling keras. Yang dibutuhkan adalah suara jernih, kritik berkelas, dan keberanian untuk adil: mengakui yang salah tanpa menutup mata pada yang benar. Demokrasi bukan panggung pelampiasan luka politik, melainkan ruang adu gagasan yang bertanggung jawab.

Jika kritik tak sanggup berdiri di atas data, maka ia bukan lagi kritik. Ia hanyalah gema kekalahan yang enggan mengaku kalah.

Dugaan Penggelapan Mobil di Aceh Timur, Nama Adira Finance Dicatut Debt Collector Ilegal

0

 

Aceh Timur —mediaistana.com

Seorang warga Gampong Alubu Jalan, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Kamaluzzaman alias Dek Gam, diduga menjadi korban penggelapan satu unit mobil Colt Diesel BL 8736 AS yang melibatkan sejumlah oknum yang mengatasnamakan debt collector perusahaan pembiayaan Adira Finance Cabang Langsa. Peristiwa tersebut diduga terjadi pada Selasa, 30 Desember 2025.

Atas kejadian itu, Kamaluzzaman secara resmi membuat laporan polisi ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Aceh Timur pada Senin, 5 Januari 2026, dengan nomor laporan LP/GAR/B/01/I/2026/SPKT/POLRES ACEH TIMUR/POLDA ACEH.

Kepada awak media, Kamaluzzaman menjelaskan bahwa mobil tersebut memang masih dalam status kredit di Adira Finance dan menunggak angsuran sekitar 10 bulan. Namun, dugaan praktik melawan hukum bermula sejak Maret 2025, saat tunggakan baru berjalan sekitar dua bulan.

Saat itu, Kamaluzzaman dihubungi seorang pria bernama Saifullah yang mengaku sebagai debt collector Adira Finance Cabang Langsa. Saifullah meminta uang sebesar Rp10.000.000 dengan iming-iming kendaraan tidak akan ditarik meskipun menunggak.

Merasa awam dan takut kehilangan kendaraan, Kamaluzzaman menyetujui permintaan tersebut. Sekitar 27 Maret 2025 malam, keduanya bertemu di sebuah kafe di Kecamatan Idi Rayeuk. Dalam pertemuan itu, Kamaluzzaman mentransfer uang Rp10 juta ke rekening yang diarahkan Saifullah atas nama Cut Liana.

Setelah penyerahan uang tersebut, Kamaluzzaman mengaku tidak lagi didatangi atau ditelepon pihak penagih hingga November 2025. Setiap kali ada pihak yang menghubungi atau mendatangi rumahnya, Kamaluzzaman hanya menghubungi Saifullah, dan pihak-pihak tersebut kemudian tidak melanjutkan penagihan.

Permasalahan kembali muncul pada 22 November 2025, ketika Saifullah menghubungi Kamaluzzaman dan menyatakan kendaraan tersebut “sudah bermasalah” serta menyarankan pengurusan pelunasan. Kamaluzzaman lalu mengusulkan agar mobil dijual untuk melunasi sisa kredit, dan Saifullah mengaku siap membantu mencarikan pembeli.

Pada 29 Desember 2025 malam, mobil diantarkan ke rumah Saifullah di Gampong Pertamina, Kecamatan Ranto Peureulak. Keesokan harinya, 30 Desember 2025, Kamaluzzaman bersama sopirnya, Zunaidi, bertemu Saifullah di halaman Masjid Gampong Beusa, Kecamatan Peureulak Timur.

Setelah menunggu, datang tiga orang yang diperkenalkan Saifullah sebagai calon pembeli. Mereka melakukan pengecekan kendaraan dan meminta STNK. Namun, salah seorang di antaranya tiba-tiba mengaku berasal dari pihak Adira Finance cabang Langsa dan menyebut kendaraan tersebut telah berstatus write off (WO).

Perdebatan pun terjadi.
Di tengah adu argumen itu, salah seorang dari tiga orang tersebut langsung menghidupkan mobil dan membawa kabur kendaraan dari lokasi tanpa persetujuan pemilik.

Dua orang lainnya masih beradu argumen dengan Kamaluzzaman. Salah satunya diketahui bernama Afdal, yang informasinya diduga merupakan perangkat Gampong Punti Payung, Kecamatan Ranto Peureulak. Bahkan, para oknum tersebut sempat meminta sejumlah uang agar mobil tidak dibawa, namun permintaan itu tidak dipenuhi.

Usai kejadian, Saifullah mengajak Kamaluzzaman ke Kota Langsa dengan alasan mengecek keberadaan mobil di gudang Adira Finance. Namun, Kamaluzzaman mengaku tidak diperbolehkan masuk ke area gudang dan hanya melihat Saifullah berbincang singkat dengan petugas keamanan di pagar.

Upaya pencarian kembali dilakukan pada 2 Januari 2026, namun keberadaan kendaraan tetap tidak diketahui. Kamaluzzaman mengaku semakin merasa dimanfaatkan karena Saifullah tidak menunjukkan tanggung jawab pascakejadian.

Kasat Reskrim Polres Aceh Timur AKP Novrizaldi, S.H., saat dikonfirmasi, membenarkan adanya laporan tersebut.

“Benar, kami telah menerima laporan dugaan tindak pidana penggelapan sebagaimana yang dilaporkan oleh saudara Kamaluzzaman. Saat ini perkara masih dalam tahap penyelidikan dan penyidik akan memanggil pihak-pihak terkait untuk dimintai keterangan,” kata Novrizaldi.

Ia menegaskan bahwa penanganan perkara dilakukan secara profesional dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Adira Finance Tegaskan Tidak Terlibat

Sementara itu, Apri, Kepala Bidang Write Off (WO) PT Adira Finance Cabang Langsa, dalam keterangannya kepada media pada Sabtu, 17 Januari 2026, menegaskan bahwa Saifullah dan Afdal bukan karyawan maupun mitra resmi perusahaan.

“Kami tegaskan, Adira Finance Cabang Langsa tidak pernah menerbitkan surat keputusan atau surat tugas penarikan kendaraan tertanggal 30 Desember 2025. Nama-nama tersebut bukan bagian dari tim kami,” ujar Apri.

Apri menyatakan pihaknya mengapresiasi langkah Kamaluzzaman yang telah membuat laporan polisi secara resmi dan menegaskan kesiapan perusahaan untuk mendukung proses hukum.

“Kami siap memenuhi panggilan penyidik jika dibutuhkan. Perusahaan juga merasa dirugikan, apalagi nasabah kami,” katanya.

Menurut Apri, perusahaan juga merasa dirugikan dalam peristiwa ini. “Bukan hanya nasabah, kami sebagai perusahaan juga dirugikan karena nama baik kami dicatut.”

Ia menegaskan bahwa Adira Finance memiliki SOP yang tegas, tidak pernah membenarkan mitra penagihan atau pihak ke 3 menerima uang angsuran, tunggakan, atau imbalan dalam bentuk apapun dari Nasabah.
Nasabah wajib menyelesaikan tunggakan di kantor, tugas mitra penagihan hanya mengingatkan dan mendampingi penyelesaian tunggakan di kantor.

Setiap mitra penagihan adira, debekali dengan surat tugas/kuasa yang masih berlaku, data riwayat pembayaran nasabah, serta mitra yang diberi kuasa memiliki sertifikasi penagihan LSPPI

“Kami mengimbau para nasabah agar tidak mudah percaya kepada oknum yang mengatasnamakan debt collector Adira Finance. Seluruh proses penagihan dilakukan sesuai prosedur resmi,” pungkasnya.(MN) 

Tokoh Peduli Generasi Merah Putih Minta Kemendagri Desak Pemkab Aceh Tenggara Lunasi TULAH Perangkat Desa

0

Tokoh Peduli Generasi Merah Putih Agara Minta Kemendagri Desak Pemkab Aceh Tenggara Lunasi TULAH Perangkat.

Aceh Tenggara,MEDIA ISTANA COM.Senin 19 Januari 2025 —
Tokoh Peduli Generasi Merah Putih Bela Negara yang mewakili 11 etnis di Kabupaten Aceh Tenggara meminta Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia melalui Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, agar mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara untuk segera melunasi TULAH (Tunjangan Lelah) Kepala Desa dan Perangkat Desa se-Kabupaten Aceh Tenggara.

TULAH tersebut hingga kini belum dibayarkan kepada perangkat desa yang tersebar di 385 desa, 16 kecamatan, dan 51 kemukiman. Sudah empat bulan hak mereka belum diterima, dan apabila pada bulan ini juga belum dicairkan, maka keterlambatan akan mencapai lima bulan, atau hampir setengah tahun mereka tidak menerima gaji.

Ironisnya, tunggakan tersebut merupakan hak tahun 2025, sementara saat ini sudah memasuki tahun 2026. Berdasarkan pantauan salah satu Tokoh Peduli Generasi Merah Putih Aceh Tenggara, Ahmad Selian (Mimi Petir), kondisi seperti ini hampir terjadi setiap tahun. Hal ini memunculkan kecurigaan di tengah masyarakat bahwa pihak keuangan daerah diduga lebih memprioritaskan pembayaran proyek fisik atau infrastruktur dibandingkan TULAH perangkat desa.

Padahal, baik anggaran proyek maupun TULAH telah dibahas dan disahkan bersama di DPRK Aceh Tenggara. Namun, dalam pelaksanaannya terkesan terjadi perlakuan timpang antara proyek fisik dan hak perangkat desa. Padahal, perangkat desa merupakan pondasi birokrasi paling dasar dalam menjalankan roda pemerintahan. Ibarat pepatah, jika pondasi goyang, maka sekuat apa pun bangunan akan ikut goyang. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada menurunnya kinerja pemerintahan daerah akibat melemahnya semangat kerja perangkat desa karena hak mereka tertahan.

Apabila sumber pembayaran gaji berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka sudah sepatutnya BPK RI, KPK RI, Kejaksaan Agung RI, Mabes Polri, dan Mabes TNI menurunkan Tim Satgas Khusus Gabungan dari pusat ke Kabupaten Aceh Tenggara. Tim tersebut diharapkan dapat memeriksa secara menyeluruh pengelolaan keuangan daerah, khususnya di Kantor Badan Pengelola Keuangan Daerah, agar publik mengetahui akar persoalan sebenarnya, termasuk penyebab macetnya PAD di setiap dinas terkait.

Masalah ini hampir terjadi setiap tahun, sehingga dinas-dinas dengan potensi PAD besar seharusnya mampu menjaga, mengelola, dan meningkatkan sumber pendapatan daerah secara serius demi kesejahteraan ekonomi masyarakat Aceh Tenggara.

Memang, bagi pejabat atau masyarakat ekonomi atas, TULAH perangkat desa mungkin dianggap tidak seberapa. Namun bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah, TULAH tersebut sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Keterlambatan pembayaran satu hingga dua bulan saja sudah sangat memengaruhi perputaran roda ekonomi masyarakat.

Jika satu desa memiliki sekitar 15 kepala keluarga perangkat desa, dikalikan 385 desa, maka terdapat ribuan kepala keluarga dan puluhan ribu jiwa yang terdampak secara ekonomi. Terlebih lagi, Kabupaten Aceh Tenggara juga merupakan salah satu daerah yang terdampak bencana banjir bandang. Pelunasan gaji perangkat desa tentu akan sangat membantu meringankan beban mereka, khususnya bagi korban bencana yang tercatat di BPBD dan Dinas Sosial.

Kabupaten Aceh Tenggara yang dikenal dengan julukan “Sepakat Segenep”, serta dihuni oleh 11 etnis dan menjadi miniatur Indonesia di Provinsi Aceh, seharusnya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah provinsi dan pusat.

Apabila hak perangkat desa dibayarkan, maka dana tersebut akan dibelanjakan untuk kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, ikan, cabai, tomat, dan kebutuhan lainnya. Hal ini secara langsung akan menggerakkan roda perekonomian daerah dan memberikan dampak positif bagi para pedagang kecil karena barang dagangan mereka menjadi lebih laku.

Oleh karena itu, harapan dan keluhan masyarakat Aceh Tenggara saat ini adalah adanya perhatian serius dari pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat, agar permasalahan keterlambatan pembayaran TULAH perangkat desa tidak terus berulang setiap tahun.

(AR/SE)

Diusulkan penambahan rute penerbangan Yogjakarta – Balikpapan – Berau

0

Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud terus mendorong penguatan konektivitas udara di Bumi Etam. Salah satunya melalui pembukaan rute penerbangan langsung Balikpapan – Maratua ( Berau ) serta Yogyakarta.

Dorongan itu disampaikan Gubernur Kaltim saat transit di Bandara Kalimarau, Berau. Ia berbincang santai bersama para pemangku kepentingan penerbangan di ruang VVIP, usai terbang dari Balikpapan menuju Pulau Maratua.

Menurut Rudy, penerbangan langsung Balikpapan–Maratua akan memberi dampak besar bagi pariwisata Kalimantan Timur. Balikpapan dinilai tepat sebagai hub utama karena memiliki konektivitas luas, baik domestik maupun internasional.

“Dengan rute Balikpapan – Maratua, wisatawan akan lebih mudah waktu perjalanan lebih singkat dan biaya juga lebih efisien,” ujarnya.

Maratua dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan Kaltim. Keindahan laut dan ekosistem bawah airnya telah mendunia. Namun, akses yang terbatas masih menjadi tantangan utama.

Selain rute ke Maratua, Gubernur Rudi Mas’ud juga meminta agar penerbangan Yogyakarta–Tanjung Redeb kembali dibuka. Rute tersebut sempat berhenti beroperasi saat pandemi Covid-19.

Ia menilai jalur itu sangat strategis. Bukan hanya untuk pariwisata, tetapi juga untuk mendukung mobilitas pelaku usaha, investasi, dan pelayanan publik.

“Yogyakarta memiliki ikatan kuat dengan Kalimantan Timur. Banyak mahasiswa, pelaku usaha, dan wisatawan yang membutuhkan akses langsung,” kata Rudi Mas’ud.

Harapan senada disampaikan Bupati Berau Sri Juniarsih. Ia menegaskan pentingnya keberlanjutan seluruh rute penerbangan menuju dan dari Berau, termasuk Tanjung Redeb–Maratua.

Menurutnya, akses udara yang stabil akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.

“Konektivitas adalah kunci. Pariwisata dan ekonomi lokal akan bergerak lebih cepat jika akses penerbangan terjamin,” ujarnya.

sejumlah pejabat dan perwakilan maskapai. Di antaranya Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Ferdinan Nurdin, Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Kualitas Wings Air Capt. Iyus Susianto, serta jajaran manajemen Lion Group.

Hadir pula Kepala Bandara Maratua Sunartopo dan Area Manager Lion Group Kaltim-Kaltara Mohammad Helmi.

Dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Gubernur didampingi Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Ujang Rachmad, Kepala Bappeda Muhaimin, Kepala Dinas Perhubungan Yusliando, serta Kepala Diskominfo Muhammad Faisal.

Aroel Mandang