25.2 C
Jakarta
Beranda blog Halaman 194

Data Lamban, Derita Korban Banjir Makin Berat, Kepala Daerah Harus Bertanggung Jawab

0

 

ACEH -Mediaistana.com 

Sabtu 17 Januari 2026
Lambannya proses pendataan terhadap korban terdampak banjir, menunjukkan lemahnya kinerja birokrasi dan tata kelola pemerintah ditingkat gampong dan daerah sangat buruk

Ketua Aliansi Pers Kawal Rehab Rekon Pasca Banjir Aceh, Masri, sangat menyayangkan atas lambannya proses pendataan terhadap korban yang terdampak, lambannnya kerja pemerintah gampong dan daerah ikut memperpanjang penderitaan korban bencana banjir.

“Ini sudah 50 hari pasca banjir, akan tetapi data saja masih belum siap, seharusnya pemerintah sudah bisa menyalurkan bantuan dana panik yang sangat dibutuhkan oleh para korban, ini menunjukkan betapa bobroknya birokrasi dan tata kelola pemerintahan ditingkat gampong dan daerah,” kata Masri.

Menurut Masri, Selain terlambat dalam proses pendataan, banyak keluhan korban banjir yang memdapatkan perlakuan diskrimimatif, adanya tebang pilih dari petugas pendataan ditingkat gampong.

“Ada beberapa laporan dari warga, mengeluh karena mendapatkan perlakuan diskriminatif dari petugas yang melakukan pendataan di tingkat gampong, bahkan proses pendataan dilakukan di atas meja tanpa turun langsung melihat kondisi kerusakan rumah, sehingga ada beberapa korban yang mengalami rumahnya rusak parah, namun dalam pendataan rusak sedang dan ringan atau sebaliknya,,” ujar Masri

Masri juga menambahkan, lambatnya pendataan ada indikasi terjadinya praktek manipulasi data korban, sehingga dikhawatirkan penerima bantuan tidak tepat sasaran.

“Tidak tertutup kemingkinan adanya indikasi terjadinya praktek manipulasi data korban, dan ini yang paling kita khawatirkan, sebab berpotensi terjadi konflik di masyarakat,” tambah Masri.

Masri menegaskan, akibat Lambannya pendataan secara valid terhadap data korban, Keuchik, Kepala Daerah Bupati/Walikota harus bertanggung jawab, sebab itu menyangkut nasib korban banjir.

“Atas keterlambatan data korban, Keuchik, Bupati/walikota, dan Camat harus bertanggung jawab,” tegas Masri

Aliansi Pers berharap kepada Aparat Penegak Hukum(APH) menindak tegas pihak pihak yang bermain melakukan manipulasi data, karena itu bentuk kejahatan, bukan hanya merugikan korban yang benar-benar terdampak, akan tetapi menyebabkan kerugian negara, tutup Masri(MN) 

Lawan Rasisme Salman (ASPRI BUPATI), Aliansi Wong Dermayu Siap Demo Gabungan

0

Lawan Rasisme Salman, (ASPRI BUPATI), Aliansi Wong Dermayu Siap Demo Gabungan

INDRAMAYU – mediaIstana.com
Aliansi Wong Dermayu Bersatu (AWDB) yang terdiri dari berbagai unsur masyarakat Indramayu siap turun ke jalan melawan pernyataan rasisme Salman.

Aksi demo gabungan yang terdiri dari LSM, Ormas, aktivis dan masyarakat Indramayu dijadwalkan berlangsung pada Senin lusa, (19/1).

“Kita sudah satu suara, akan turun ke jalan melawan kesombongan Stafsus Bupati Indramayu, Salman yang kami nilai sudah mengarah ke Rasis. Di Indramayu tidak ada tempat untuk manusia Rasis dan tidak beradab,”jelas Kordinator Umum (Kordum) AWDB, Asmawi Day didampingi Korlap demo, Tomi Susanto yang akrab dipanggil Tomsus.

Menurut Tomsus, saat ini AWDB sedang menyiapkan semua pendukung untuk kelancaran aksi Senin lusa, termasuk rapat teknis akhir yang dihadiri sejumlah unsur ketua baik dari LSM, Ormas, aktivis, mahasiswa dan perwakilan masyarakat Indramayu termasuk korban PHK dari pegawai outsorcing Diskominfo, di area Sport Center, Jumat kemarin (16/1).

“Sekarang kita sedang buat surat ijin tertulis atau tembusan demo untuk Polres Indramayu. Intinya, kita lawan kesombongan Salman, dan silahkan Stafsus Bupati Indramayu angkat kaki dari Indramayu,”tegas Tomsus.

Ditegaskan Tomi, dalam aksi nanti, pihaknya juga akan meminta kejelasan pihak vendor dalam hal ini PT BSM (Bintang Service Management) sebagai penyedia tenaga kerja yang dinilai semena-mena dan tidak prosuderal dalam memutus hubungan kerja para karyawannya, seperti yang menimpa pada Wanginah, Komar dan lainnya.

Salah satu korban PHK dari tenaga outsorcing PT BSM yang ditugaskan di Diskominfo, Wanginah (40) akan terus menyuarakan hak-haknya untuk keadilan. Menurutnya, pemutsan kerja sepihak dari penyedia jasa PT BSM dinilai tidak beres, banyak yang janggal dan ada intervensi dari pihak luar, termasuk sudah otoriter. Praktik kotor ini patut diluruskan untuk kebaikan para pekerja outsorcing ke depan.

Sebelumnya diberitakan, Stafsus Bupati Indramayu, Salman, menjadi sorotan publik menyusul pernyataannya yang dinilai rasis.

Kalimat bernada rasis itu Salman lontarkan saat bertemu dengan dua pegawai outsourcing Dinas Kominfo setempat yang dipecat tanpa alasan yang jelas.

Pertemuan berlangsung di pendopo setempat pada malam hari tanggal 10 Januari 2026. Salman tak sendiri, ia didampingi asisten pribadi Bupati Indramayu Lucky Hakim bernama Mansur.

Sedangkan dua tenaga outsourcing yang dipecat itu yakni Wanginah dan Komar.

Kedua mantan tenaga outsourcing itu sengaja datang ke pendopo untuk mengklarifikasi soal pemecatan. Sebab mereka mendengar, pemecatan itu atas pesanan Mansur dan Salman.

“Kami datang untuk meminta penjelasan, sebab kabar yang beredar, Mansur dan Salman menekan pimpinan kami di Diskominfo agar memberhentikan kami,” ungkap Wanginah, Jumat 16 Januari 2026.

Pertemuan berubah memanas ketika Salman dan Mansur membantah tudingan tersebut. Diluar dugaan, Salman malah melontarkan kalimat bernada rasis dihadapan Wanginah dan Komar.

“Saya Salman, berdarah Madura, bertulang putih dan bermata putih tidak akan pernah takut dengan siapapun. Sy tidak akan patuh pada perintah siapapun di Indramayu ini kecuali bupati Indramayu Lucky Hakim. Karena saya orangnya Lucky Hakim bukan orangnya siapapun” jelas Wanginah menirukan pernyataan Salman.

Iyons74

STIKIP Kutacane Wisuda 87 Mahasiswa Angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026.

0

STIKIP Kutacane Wisuda 87 Mahasiswa Angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026.Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan Ke lV Sekolah Tinggi Bahasa indonesia (STIKIP) Kutacane Tahun Akademik 2025/2026 berlangsung di Stikip Usman Sapri Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), Sabtu (17/januari/2026).

Acara Wisuda Sarjana Angkatan Ke lV Sekolah Tinggi Aceh Tenggara Kutacane berlangsung khidmat dan dibuka langsung oleh kepala (ATI ROSMITA S.S M Pd.) KETUA PRODI Stikip Kutacane dan dihadiri Ketua Yayasan Stikip Usman sapri Kutacane jajaran dosen Stikip usman Sapri Kutacane, Setdakab Agara dan mewakili, sebagai orasi ilmiah mewakili asisten satu para Mahasiswa wisuda, orang tua wali wisuda dan tamu undangan lainnya.

Adapun yang di wisudakan Tahun Angkatan lV Sekolah Tinggi Stikip usman sapri Kutacane yaitu 87 mahasiswa di 3 Program Studi, Pendidikan bahasa indonesia dan inggris 87 mahasiswa, Pendidikan bahasa inggris.

Seusai acara ditemui awak media salah satu wisudawan Mediaistana com.Mahasiswa Program Studi Bahasa indonesia angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026 terlihat senang dan bersyukur telah wisuda pada hari ini sabtu 17 januari 2026 mengatakan, “Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan kuliah S1 dan dapat wisuda hari ini terutama terimakasih kepada kedua orangtua saya karna berkat doa beliau saya hingga dapat saat ini dan para Dosen Stikip Kutacane” ungkapnya.

STIKIP Kutacane Wisuda 85 Mahasiswa Angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026

0

STIKIP Kutacane Wisuda 85 Mahasiswa Angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026.

Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan Ke lV Sekolah Tinggi Bahasa indonesia (STIKIP) Kutacane Tahun Akademik 2025/2026 berlangsung di Stikip Usman Sapri Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), Sabtu (17/januari/2026).

Acara Wisuda Sarjana Angkatan Ke lV Sekolah Tinggi Aceh Tenggara Kutacane berlangsung khidmat dan dibuka langsung oleh kepala (ATI ROSMITA S.S M Pd.) KETUA PRODI Stikip Kutacane dan dihadiri Ketua Yayasan Stikip Usman sapri Kutacane jajaran dosen Stikip usman Sapri Kutacane, Setdakab Agara dan mewakili, sebagai orasi ilmiah mewakili asisten satu para Mahasiswa wisuda, orang tua wali wisuda dan tamu undangan lainnya.

Adapun yang di wisudakan Tahun Angkatan lV Sekolah Tinggi Stikip usman sapri Kutacane yaitu 87 mahasiswa di 3 Program Studi, Pendidikan bahasa indonesia dan inggris 87 mahasiswa, Hukum Ekonomi Syariah 87 mahasiswa, Pendidikan bahasa inggris.

Seusai acara ditemui awak media salah satu wisudawan Mediaistana com.Mahasiswa Program Studi Bahasa indonesia angkatan lV Tahun Akademik 2025/2026 terlihat senang dan bersyukur telah wisuda pada hari ini sabtu 17 januari 2026 mengatakan, “Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan kuliah S1 dan dapat wisuda hari ini terutama terimakasih kepada kedua orangtua saya karna berkat doa beliau saya hingga dapat saat ini dan para Dosen Stikip Kutacane” ungkapnya.

Babinsa Koramil Kokonao Jadikan Komsos Sebagai Media Jalin Silaturahmi Bersama Warga Binaan

0

Babinsa Koramil Kokonao Jadikan Komsos Sebagai Media Jalin Silaturahmi Bersama Warga Binaan

Jakarta -MEDIA ISTANA Timika – Guna menciptakan kedekatan bersama warga di wilayah binaan, Babinsa Koramil 1710-01/Kokonao, Kodim 1710/Mimika Sertu Federik Sada melaksanakan Komunikasi Sosial (Komsos) bersama masyarakat di Kp. Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah, Kab. Mimika, Sabtu (17/01/2026).

Sertu Sada menjelaskan kegiatan Komsos adalah salah satu media Babinsa untuk mengenal warganya lebih dekat lagi dan sebagai sarana silaturahmi kepada warga binaannya agar warga menjadi lebih dekat dan akrab dengan Babinsa. Selain itu kegiatan Komsos ini bertujuan untuk mencari informasi dan mengetahui perkembangan situasi di wilayah desa binaan.

“Kegiatan Komsos ini dilakukan karena sudah menjadi tugas pokok sebagai seorang Babinsa yang senantiasa melaksanakan Komsos untuk mencari informasi dan sebagai sarana bersilaturahmi kepada warga supaya lebih dekat dan bisa menjalin kebersamaan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sertu Sada menambahkan bahwa kegiatan Komsos juga dapat mencerminkan Kemanunggalan TNI khususnya Babinsa bersama masyarakat sehingga jika dilaksanakan secara rutin maka akan tercipta suasana yang harmonis dalam setiap pelaksanaan tugas Babinsa di lapangan. (Pendim 1710/Mimika)

Hamdan Bima

Pernikahan Beda Negara di Mandar: Antara Romantika, Kelengahan, dan Ancaman Tersembunyi

0

Pernikahan tak pernah lahir dari ruang hampa. Ia selalu diawali komunikasi, pertemuan, dan relasi yang terbangun secara sadar. Maka ketika data resmi Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat mencatat lonjakan pernikahan antara perempuan lokal Tanah Mandar dengan pria warga negara asing, publik berhak bertanya: apa yang sesungguhnya sedang terjadi?

Fenomena ini terkonsentrasi di wilayah Pambusuang, Bala, dan Campa. Angkanya meningkat dari tahun ke tahun. Anehnya, negara seolah tak merasa perlu bersikap waspada. Aparat pengawasan orang asing tampak memperlakukan fakta ini sebagai hal biasa—sekadar urusan pribadi, bukan isu strategis.

Di tengah euforia sebagian masyarakat yang menganggap pernikahan dengan warga asing sebagai simbol prestise sosial, negara justru berpotensi kehilangan kendali atas ruang sosial, budaya, dan keamanan wilayah.

Tanah Mandar bukan kawasan wisata bebas kontrol. Ia adalah wilayah adat dengan sejarah, nilai, dan struktur sosial yang rapuh bila disentuh oleh arus asing tanpa pengawasan ketat. Kehadiran warga negara asing—apalagi dalam jumlah meningkat—tidak bisa dilepaskan dari risiko kejahatan lintas negara.

Pertanyaannya tajam dan tak bisa dihindari:

Siapa mereka?

Apa aktivitas mereka sebelum dan sesudah pernikahan?

Bagaimana status izin tinggal, sumber penghidupan, dan jejaring sosialnya?

Ketika pengawasan longgar, spekulasi publik tumbuh subur. Bukan tanpa alasan. Sejarah kejahatan narkotika di berbagai daerah menunjukkan pola serupa: wilayah sunyi, pengawasan lemah, masyarakat lengah.

Maka wajar jika publik mempertanyakan: apakah mungkin wilayah Tanah Mandar disusupi aktivitas ilegal seperti penanaman ganja, produksi narkotika sintetis (inex dan ekstasi), atau distribusi lintas wilayah?

Sekali lagi, ini bukan tudingan, melainkan alarm dini atas potensi kejahatan yang kerap luput dari deteksi negara.

Lebih mengkhawatirkan, erosi budaya Mandar kini berjalan beriringan dengan derasnya pengaruh digital global. Tanpa kontrol, generasi muda berisiko kehilangan pijakan nilai, sementara negara terlambat membaca ancaman yang tumbuh perlahan namun sistematis.

Atas dasar itu, Kapolda Sulawesi Barat melalui jajaran Satuan Pengawasan Orang Asing perlu segera:

melakukan pendataan ulang seluruh pernikahan beda negara,

membuka audit administratif dan izin tinggal, serta

menjalankan penyelidikan tertutup berbasis intelijen.

Negara tidak boleh kalah oleh kelengahan sendiri.

Cinta boleh lintas batas. Namun keamanan, budaya, dan kedaulatan tidak boleh dinegosiasikan. Tanah Mandar bukan ruang abu-abu.

Ia bagian sah Republik Indonesia yang wajib dijaga—sebelum terlambat.

OPINI; KETUA GEBRAK SULBAR

 

RSUD Lala: Harapan Besar di Atas Pondasi Kejujuran dan Tanggung Jawab Direktur Baru

0

Oleh: Chairul Syam

Pembangunan Rumah Sakit Daerah Lala di Kecamatan Namlea bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah simbol harapan ribuan masyarakat Buru akan pelayanan kesehatan yang lebih layak, manusiawi, dan bermartabat. Dengan dukungan anggaran APBN yang nilainya lebih dari seratus miliar rupiah, negara sesungguhnya telah menunjukkan keberpihakannya: kesehatan adalah hak dasar yang tidak boleh ditunda.

Peletakan batu pertama oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, didampingi Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dan Bupati Buru Ikram Umasugi, menjadi penanda kuat bahwa proyek ini berada dalam sorotan nasional. Momentum itu mengandung pesan jelas: pembangunan ini harus selesai tepat waktu, tepat mutu, dan tepat guna.

Namun harapan besar sering kali diuji oleh kenyataan di lapangan. Dalam perjalanan proyek, publik dikejutkan oleh fakta bahwa pada masa ketika progres seharusnya telah menyentuh angka 50 persen, realisasi pekerjaan justru baru mencapai 16,24 persen. Angka ini bukan sekadar statistik teknis, melainkan alarm bagi akuntabilitas dan keseriusan semua pihak yang terlibat.

Masyarakat tentu berhak bertanya: bagaimana mungkin proyek strategis dengan pengawasan berlapis dan dana besar bisa tertinggal sejauh itu? Pertanyaan ini penting, bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan agar kesalahan tidak diwariskan, dan kegagalan tidak diulang.

Sejarah telah memberi pelajaran pahit. Rumah Sakit di Tatanggo masih menjadi ingatan kolektif tentang proyek kesehatan yang gagal dan terbengkalai. Banyak pihak meyakini, jika tidak terjadi perubahan arah dan kepemimpinan baru dalam pengelolaan proyek, bukan tidak mungkin Rumah Sakit Lala akan bernasib serupa—terbengkalai, kehilangan makna, dan jauh dari tujuan awalnya.

Di titik inilah publik menaruh harapan pada hadirnya kepemimpinan baru. Penunjukan direktur rumah sakit yang baru dipandang sebagai momentum penting untuk melakukan pembenahan menyeluruh, memperkuat koordinasi, serta memastikan bahwa setiap tahapan pembangunan berjalan sesuai rencana dan standar. Kepemimpinan yang segar diharapkan membawa semangat profesionalisme, keterbukaan, dan keberpihakan yang jelas kepada kepentingan masyarakat.

Pergantian kepemimpinan rumah sakit pada akhirnya membuka jalan bagi perbaikan. Ini membuktikan bahwa pembangunan tidak hanya soal beton dan besi, tetapi juga soal integritas, ketegasan, dan keberanian mengambil keputusan. Tanpa itu, sebesar apa pun anggaran, proyek hanya akan menjadi monumen kegagalan.

Dengan kepemimpinan direktur RSUD yang baru, optimisme itu kini menemukan pijakan yang lebih nyata. Progres pembangunan PHTC yang sebelumnya terhenti pada angka 16,23 persen kini diharapkan dapat digenjot secara signifikan hingga mencapai sekitar 90 persen penyelesaian, membuka jalan bagi Rumah Sakit Lala untuk naik kelas menuju rumah sakit tipe C. Jika komitmen, pengawasan, dan tata kelola dijalankan secara konsisten, rumah sakit ini bukan hanya dapat difungsikan untuk melayani masyarakat Kabupaten Buru, tetapi juga menjadi pusat rujukan bagi kabupaten-kabupaten tetangga.

Kini, masyarakat menaruh harapan baru. Rumah Sakit Lala harus menjadi simbol kebangkitan tata kelola pembangunan di daerah: transparan, profesional, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Publik tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kejujuran dan tanggung jawab.

Karena pada akhirnya, rumah sakit ini bukan milik proyek, bukan milik pejabat, dan bukan milik kontraktor. Ia adalah milik rakyat—tempat di mana nyawa diselamatkan, harapan dipulihkan, dan kehadiran negara benar-benar dirasakan.

Semoga kabupaten buru, dengan kepemimpinan baru yang membawa arah dan harapan, kita belajar bahwa pembangunan yang berhasil selalu dimulai dari niat yang lurus dan diakhiri dengan tanggung jawab yang utuh.

PERMAHI mamuju Kecam Perusahaan Sawit yang di Duga Mencemarkan sungai Barakkang

0

Mamuju Tengah — Jumat malam, 16 Januari 2026, warga Desa Barakkang Kecamatan Budong-Budong menemukan ikan dan udang mati massal di Sungai. Kejadian ini diduga kuat akibat pencemaran limbah yang dibuang ke sungai oleh aktivitas perusahaan sawit.

Sebelum kematian biota sungai terjadi, warga mencium bau menyengat serta melihat perubahan warna air sungai menjadi keruh dan tidak wajar. Peristiwa ini memperkuat dugaan adanya pembuangan atau kebocoran limbah industri ke badan sungai.

Kami mengecam keras perusahaan sawit yang diduga mencemari Sungai Barakkang. Tindakan tersebut merupakan bentuk kejahatan lingkungan dan mencerminkan ketidakpatuhan terhadap hukum serta pengabaian terhadap hak hidup masyarakat dan kelestarian ekosistem.

Kematian ikan dan udang secara massal bukan sekadar kerusakan alam, melainkan ancaman serius terhadap sumber penghidupan dan kesehatan warga. Jika dugaan ini terbukti, maka perusahaan telah melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Kami mendesak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten dan Provinsi untuk:

1. Segera turun ke lokasi kejadian

2. Melakukan uji laboratorium air sungai secara transparan

3. Mengusut dan mengumumkan sumber pencemaran kepada publik

4. Menindak tegas perusahaan tanpa kompromi

Kami menegaskan: sungai bukan tempat pembuangan limbah, dan investasi yang merusak lingkungan adalah kejahatan terhadap rakyat.

Kabiro Media Intelijen Mardani Lubis Bersilaturahmi dengan Ketua DPP Maung Garuda Nusantara

0
oplus_34
oplus_34

Media istana.com Jumat 16 Januari 2026.
Dalam rangka memperkuat sinergi dan komunikasi antar lembaga, Kepala Biro (Kabiro) Media Intelijen Mardani Lubis melaksanakan silaturahmi dengan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Maung Garuda Nusantara. Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, serta dilandasi semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kepentingan bangsa dan negara.

Silaturahmi ini menjadi momentum penting untuk membangun hubungan yang harmonis antara media dan organisasi kemasyarakatan, khususnya dalam mendorong peran strategis media yang profesional, berimbang, dan bertanggung jawab. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga bertukar pandangan terkait kondisi sosial, kebangsaan, serta pentingnya kolaborasi dalam menjaga stabilitas dan persatuan nasional.

Kabiro Media Intelijen Mardani Lubis menegaskan bahwa sinergi antara media dan elemen masyarakat merupakan kunci dalam menghadirkan informasi yang edukatif dan konstruktif bagi publik. Sementara itu, Ketua DPP Maung Garuda Nusantara menyambut baik silaturahmi tersebut dan menyatakan komitmennya untuk membuka ruang kerja sama yang positif dan berkelanjutan.

Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat komunikasi, koordinasi, serta kolaborasi strategis antara Media Intelijen dan Maung Garuda Nusantara demi kepentingan masyarakat luas dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bupati Ikram Umasugi: Menjahit Kepemimpinan dengan Nilai Iman dan Kemanusiaan

0

Langit Jumat, 16 Januari 2026, menjadi saksi langkah khidmat Bupati Buru, Ikram Umasugi, SE., saat menunaikan Sholat Jumat di Masjid Al-Fatah, Kota Ambon. Di tengah denyut aktivitas kota, rumah ibadah itu menjadi ruang perjumpaan antara pemimpin dan rakyatnya dalam kesetaraan yang suci—bersujud bersama, menundukkan hati, dan memohon keberkahan bagi negeri yang dicintai. Kehadiran Bupati Buru bukan sekadar agenda seremonial, melainkan cermin kepemimpinan yang berakar pada nilai iman, keteladanan, dan kebersamaan.

Usai menunaikan ibadah, langkah kepemimpinan itu berlanjut dalam wujud nyata kepedulian. Melalui aksi berbagi kepada masyarakat yang berhak menerima, Bupati Buru menghadirkan pesan bahwa kekuasaan sejati bukan terletak pada jabatan, melainkan pada kepekaan hati. Bantuan yang disalurkan bukan hanya tentang materi, tetapi tentang harapan—bahwa pemerintah hadir, melihat, dan merangkul mereka yang membutuhkan. Inilah bahasa kemanusiaan yang paling jujur: berbagi tanpa jarak, memberi tanpa pamrih.

Editorial ini mencatat sebuah teladan: ketika iman dipadukan dengan tindakan, dan kebijakan disemai oleh empati. Komitmen Pemerintah Kabupaten Buru untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial menemukan momentumnya di hari yang penuh berkah itu. Semoga langkah kecil yang sarat makna ini menjadi cahaya yang terus menyala—menghangatkan persaudaraan, menumbuhkan kepercayaan, dan meneguhkan arah pembangunan yang berpihak pada martabat manusia.(Ahmad)