Kota Bogor, Jawa Barat || Mediaistana.com
Pernyataan pengamat politik Rocky Gerung yang pernah menyebut Istana sebagai “sarang korupsi” kembali menjadi sorotan setelah dirinya kini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Keputusan tersebut memunculkan pertanyaan publik: mengapa seseorang yang dikenal kritis terhadap kekuasaan justru memilih masuk ke lingkaran penasihat presiden? Jumat, 09/10/2026.
Rocky menjelaskan alasannya dalam podcast Akbar Faizal Uncensored, Kamis (08/10/2026). Ia mengaku bersedia bergabung bukan untuk meninggalkan sikap kritisnya, melainkan agar dapat menyampaikan kritik secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Rocky, keberadaannya di lingkungan Istana memberinya kesempatan untuk berbicara langsung “di kuping presiden”, tanpa harus melalui perantara.
Baginya, posisi tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan pandangan dan kritik secara langsung kepada kepala negara. Dengan begitu, pesan yang ingin disampaikan tidak berhenti sebagai komentar di ruang publik, tetapi dapat didengar langsung oleh pemegang kekuasaan.
Rocky juga meyakini Prabowo tidak akan tersinggung dengan sikap kritisnya. Ia menyebut ada kesepakatan sejak awal yang menjadi dasar hubungannya dengan Presiden.
Sebut Istana Sarang Korupsi, Rocky Mengaku Ingin Berantas Praktik Korupsi
Rocky tidak berhenti pada alasan menyampaikan kritik. Ia juga menjelaskan bahwa keberadaannya di Istana ditujukan untuk mengawasi kekuasaan yang dinilainya berpotensi melahirkan praktik korupsi.
“Istana itu sarang korupsi, kekuasaan di situ,” kata Rocky dalam podcast tersebut. Ia menegaskan, dirinya masuk ke lingkungan Istana untuk memberantas pihak-pihak yang diduga melakukan praktik korupsi.
Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana Rocky ingin menempatkan dirinya sebagai pengkritik dari dalam pemerintahan. Ia beranggapan, kritik yang disampaikan langsung kepada Presiden dapat menjadi cara untuk mengingatkan penguasa sebelum suatu persoalan berkembang lebih jauh.
Prabowo Disebut Tak Akan Tersinggung
Rocky juga mengaku memiliki kesepakatan awal dengan Prabowo yang membuatnya yakin tetap bisa berbicara secara terbuka. Karena itu, ia tidak memperkirakan pernyataannya yang keras akan membuat Presiden tersinggung.
Menurut Rocky, posisinya sebagai anggota Wantimpres berbeda dari menteri kabinet. Ia mengklaim memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan kritis kepada Presiden tanpa harus terikat pada kepentingan mempertahankan posisi politik seperti yang ia gambarkan pada jajaran kabinet.
Namun, pernyataan tersebut sekaligus menempatkan Rocky pada tantangan baru: membuktikan bahwa kedekatan dengan kekuasaan tidak menghilangkan independensi yang selama ini menjadi ciri kritiknya.
Publik Menunggu Bukti, Bukan Sekadar Pernyataan
Masuknya Rocky ke Wantimpres menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana ia akan menjalankan peran kritisnya setelah berada di lingkungan Istana. Selama ini, kritik terhadap pemerintah dapat disampaikan secara terbuka dari luar kekuasaan. Kini, Rocky mengklaim memiliki akses untuk menyampaikan keberatan langsung kepada Presiden.
Pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana kritik itu akan diterjemahkan menjadi masukan konkret dan apakah benar-benar berpengaruh terhadap pengambilan kebijakan.
Pernyataan Rocky mengenai Istana sebagai “sarang korupsi” merupakan penilaian yang ia sampaikan, bukan dengan sendirinya bukti bahwa seluruh lingkungan Istana terlibat korupsi. Dugaan tindak pidana tetap harus didukung bukti dan diproses melalui mekanisme hukum.
Pada akhirnya, alasan Rocky masuk Wantimpres sudah ia jelaskan: ia ingin berbicara langsung kepada Presiden dan mengawasi kekuasaan dari dekat. Kini, publik akan menilai konsistensi sikap tersebut melalui kritik, rekomendasi, dan tindakan nyata yang dapat dipertanggungjawabkan.