BALIKPAPAN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak selalu harus dilawan ketika api telah membesar. Justru pertarungan paling penting berlangsung jauh sebelum kobaran api terlihat—di desa, kebun, lahan pertanian, sekolah, hingga lingkungan permukiman.
Kesadaran itulah yang mendorong Tim Penyuluh Pencegahan Karhutla TNI AL turun langsung ke tengah masyarakat di berbagai wilayah Kalimantan Timur.
Selama hampir satu bulan, para prajurit tidak sekadar menyampaikan larangan membakar lahan. Mereka mendatangi masyarakat, berdialog dengan petani dan pekebun, menyambangi sekolah, memeriksa lokasi bekas kebakaran, berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat kewilayahan, hingga memberikan demonstrasi penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).
Pesannya tegas dan sederhana: jangan menyalakan api untuk membuka lahan.
Sebab kebakaran besar hampir selalu bermula dari sesuatu yang dianggap kecil—puntung rokok, pembakaran sampah, tumpukan daun kering, atau api untuk membuka kebun yang kemudian lepas dari kendali.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan, hingga 21 September 2026 tercatat sekitar 1.470 kejadian kebakaran dengan luas lahan terbakar mencapai 6.333 hektare.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa karhutla bukan sekadar persoalan api. Di balik hektare lahan yang terbakar terdapat persoalan lingkungan, kesehatan, aktivitas ekonomi, hingga keselamatan masyarakat.
Karena itu, ketika titik panas kembali meningkat setelah sempat menurun menyusul pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), langkah pencegahan menjadi semakin penting.
TNI AL Datang Bukan Saat Api Membesar
Memasuki minggu keempat September 2026, Tim Penyuluh Karhutla TNI AL terus bergerak dari wilayah ke wilayah.
Di Balikpapan, personel menyambangi petani dan pekebun di Kelurahan Baru Ilir, Margo Mulyo, Kariangau, Tritip, hingga Manggar.
Penyuluhan juga menjangkau sejumlah wilayah di Samarinda. Masyarakat dan pelajar mendapatkan edukasi di SMKN SPP Samarinda, Koramil 0901-01/Samarinda Ulu, Koramil 0901-02/Sungai Pinang, Samarinda Seberang, Palaran, dan Samarinda Utara. Tim bahkan turun meninjau lokasi bekas kebakaran di Kelurahan Sempaja Utara.
Gerakan yang sama berlangsung di Bontang, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, Kutai Barat, Paser, hingga Penajam Paser Utara.
Di Kutai Kartanegara, tim menjangkau Kecamatan Tabang dan lingkungan PT Bayan Resources Tbk serta melakukan pertemuan dengan Bupati Kutai Kartanegara untuk menyampaikan laporan dan evaluasi kegiatan.
Di Kutai Timur, penyuluhan dilakukan bersama BPBD, Damkar dan personel Yonif TP 879/Rangkok Cakti di Sangatta Selatan. Tim juga meninjau lokasi bekas kebakaran di Kampung Kajang dan Kampung Kenyamukan.
Di Berau, edukasi diberikan kepada guru dan siswa SMA Negeri 1 serta SMK Negeri 1 Berau, disertai demonstrasi penggunaan APAR.
Sementara di Paser, sejumlah lokasi bekas kebakaran di Desa Suliliran, Jone, Sungai Tuak, Paser, Sangkuriman, dan Selempu turut ditinjau.
Di Penajam Paser Utara, penyuluhan menyasar siswa SMA Taruna Nusantara IKN, masyarakat Kelurahan Pemaluan dan Desa Telemouw, Kecamatan Sepaku.
Rentang wilayah tersebut memperlihatkan satu hal: pencegahan tidak boleh menunggu api muncul.
Kesadaran Warga Mulai Tumbuh
Ketua Tim Penyuluh Karhutla TNI AL wilayah Kalimantan Timur, Brigjen TNI (Mar) Said Latuconsina, menegaskan bahwa penyuluhan merupakan bagian dari upaya pencegahan yang dimulai dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.
“Tugas kami bersama satuan kewilayahan adalah memberikan penyuluhan dengan mendatangi desa dan kelurahan yang memiliki wilayah hutan dan lahan, kemudian berdialog langsung dengan masyarakat serta berbagai unsur yang ada di wilayah tersebut,” kata Said.
Menurut dia, masyarakat harus memahami bahwa api bukan cara aman untuk membuka lahan pertanian maupun perkebunan.
“Menjaga lingkungan bukan hanya tugas aparat. Masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah terjadinya kebakaran sejak awal,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Laksamana TNI Dian Purnama Sidi.
Menurut Dian, kegiatan penyuluhan yang dilakukan Tim Penyuluh Karhutla TNI telah berjalan selama kurang lebih satu bulan dan menunjukkan hasil yang sangat baik.
Salah satu indikatornya adalah semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk terlibat langsung dalam pencegahan karhutla.
Hal itu terlihat dari bertambahnya relawan di sejumlah kelurahan yang secara aktif ikut mengambil bagian dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
Bahkan, para relawan tidak hanya menyatakan kesediaan membantu. Mereka mulai meminta dukungan berupa peralatan APAR serta pelatihan teknis pemadaman api agar dapat bertindak cepat ketika menemukan sumber kebakaran di wilayah masing-masing.
“Kesadaran masyarakat semakin meningkat. Ini terlihat dari bertambahnya relawan-relawan di tiap kelurahan dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” ujar Dian.
Antusiasme warga juga terlihat dalam setiap kegiatan penyuluhan. Masyarakat tidak hanya hadir mendengarkan materi, tetapi aktif berdiskusi, menyampaikan persoalan di wilayahnya dan mencari solusi bersama untuk mencegah munculnya titik api.
Bagi tim penyuluh, perubahan tersebut menjadi bagian penting dari keberhasilan operasi pencegahan.
Sebab, ketika masyarakat mulai bertanya bagaimana menggunakan APAR, meminta pelatihan pemadaman, membentuk relawan, dan aktif melaporkan potensi kebakaran, maka pencegahan telah bergerak dari sekadar program pemerintah menjadi kesadaran bersama.
Dari Laut, TNI AL Hadir di Darat
Keterlibatan TNI AL dalam pencegahan karhutla menunjukkan bahwa tugas prajurit matra laut tidak berhenti di laut maupun pangkalan.
Kali ini, medan tugas mereka adalah kebun, desa, sekolah, kantor kecamatan, kawasan perusahaan, dan lokasi bekas kebakaran.
Tim Penyuluh Karhutla TNI di Kalimantan Timur terdiri atas personel dari Mabes TNI, Mabes TNI AD, Mabes TNI AL dan Mabes TNI AU.
Dalam pelaksanaannya, tim berada di bawah koordinasi Kodam VI/Mulawarman dan didukung jajaran Kodim, Koramil serta pemerintah daerah. BPBD dan Damkar juga terlibat di sejumlah wilayah.
Sasarannya luas: masyarakat desa, petani, pekebun, pelajar, perangkat kecamatan dan desa/kelurahan, personel Koramil, Polsek, Posal, Potdirga, relawan, kelompok masyarakat binaan hingga perusahaan.
Metodenya pun dibuat praktis: penyuluhan, dialog, diskusi, pemantauan lokasi bekas kebakaran, hingga demonstrasi penggunaan APAR.
Warga Menjadi Mata dan Telinga Pertama
Said Latuconsina meminta masyarakat tidak menunggu kebakaran membesar untuk bertindak.
Warga yang melihat kepulan asap atau titik api diminta segera melaporkannya kepada aparat keamanan maupun pemerintah setempat.
“Kalau mengetahui adanya titik api atau kebakaran lahan, segera laporkan kepada aparat keamanan, baik Koramil, Polsek maupun kelurahan atau desa. Masyarakat juga diminta melapor apabila mengetahui ada orang yang sengaja membakar lahan,” katanya.
Pesan tersebut penting karena masyarakat adalah pihak yang paling dekat dengan sumber potensi kebakaran.
Satu laporan yang masuk ketika api masih kecil dapat berarti jauh lebih besar daripada ratusan personel yang dikerahkan setelah api terlanjur meluas.
Di sinilah relawan memiliki posisi strategis.
Mereka berada di lingkungan masing-masing, mengenal wilayahnya, mengetahui kondisi lahan dan dapat menjadi mata serta telinga pertama ketika muncul asap atau api.
Api Tidak Boleh Menunggu Menjadi Bencana
Helikopter dapat dikerahkan. Pesawat dapat melakukan water bombing. Personel pemadam dapat diturunkan. Sekat bakar dapat dibuat.
Namun semua itu adalah langkah setelah ancaman muncul.
Pencegahan bekerja lebih awal.
Karena itu, keberhasilan paling penting bukanlah seberapa besar api berhasil dipadamkan, melainkan berapa banyak api yang tidak pernah sempat membesar.
Laksamana TNI Dian Purnama Sidi menilai tumbuhnya relawan dan meningkatnya partisipasi masyarakat merupakan perkembangan penting dari rangkaian penyuluhan yang telah berjalan selama satu bulan.
Harapannya, kesadaran itu tidak berhenti ketika tim penyuluh meninggalkan suatu desa atau kelurahan.
Kesadaran harus tinggal.
Relawan harus terus bergerak. Pelaporan harus semakin cepat.
APAR harus tersedia. Pelatihan harus dilakukan. Dan masyarakat harus memahami bahwa mencegah karhutla bukan pekerjaan aparat semata.
Pada akhirnya, garis depan pencegahan bukan hanya berada di kantor pemerintah, posko pemadam atau markas aparat.
Garis depan itu berada di tangan masyarakat—tepat di tempat api pertama kali mungkin dinyalakan.
TNI AL telah turun dari laut ke darat, dari pangkalan ke desa, dari sekadar imbauan menuju pembentukan kesadaran.
Kini tantangannya adalah menjaga agar kesadaran itu menjadi kebiasaan.
Sebab ketika masyarakat memilih untuk tidak menyalakan api secara sembarangan, ketika satu relawan berani bergerak sebelum api membesar, dan ketika satu laporan datang beberapa menit lebih cepat, maka satu kebakaran mungkin tidak pernah menjadi bencana.
Dan kebakaran yang berhasil dicegah memang tidak pernah menjadi berita besar. Tetapi justru di situlah keberhasilan terbesar sebuah operasi pencegahan.