26.4 C
Jakarta
BerandaInfoDi Balik Palang, Karcis yang Hilang dan Nurani yang Tertinggal di Pelabuhan...

Di Balik Palang, Karcis yang Hilang dan Nurani yang Tertinggal di Pelabuhan Namlea

Oleh: Drs. Muz Latucosina, MF.

Di Pelabuhan Namlea, sebuah palang berdiri tegak. Ia bukan sekadar besi penghalang, tetapi simbol kewenangan. Sayangnya, di balik palang itu, kewenangan kerap berjalan tanpa jejak—seperti uang masuk yang diterima tanpa karcis, dan aturan yang diberlakukan tanpa kejelasan.

Petugas karcis dan palang seharusnya menjadi penjaga gerbang keteraturan. Namun yang terlihat di lapangan justru sebaliknya: karcis resmi seolah barang langka, hanya mitos yang diceritakan dari mulut ke mulut. Uang berpindah tangan, kendaraan melaju masuk, tetapi bukti administrasi entah ke mana perginya. Barangkali karcis itu terlalu berharga untuk dibagikan, atau mungkin dianggap tidak penting dalam sebuah sistem yang terbiasa berjalan tanpa pertanyaan.

Lebih menarik lagi, palang pelabuhan tampak memiliki “rasa”. Ia bisa terbuka untuk kendaraan tertentu, dan tertutup bagi yang lain, dengan alasan yang terdengar resmi namun mudah runtuh oleh fakta. Katanya, hanya kendaraan yang akan berangkat ke Ambon yang diizinkan masuk. Namun dermaga bercerita lain: kendaraan keluar masuk tanpa pernah berlayar. Palang pun seolah lupa pada alasan yang tadi ia jaga mati-matian.

Di sinilah publik mulai bertanya: apakah pelabuhan dikelola dengan prosedur, atau dengan perasaan? Apakah aturan berlaku untuk semua, atau hanya untuk mereka yang tidak dikenal? Ketika alasan petugas kalah oleh kenyataan di depan mata, kepercayaan publik pun ikut turun palang.

Editorial ini bukan untuk menghakimi, melainkan mengingatkan. Bahwa karcis bukan sekadar kertas kecil, ia adalah simbol transparansi. Bahwa palang bukan sekadar penghalang, ia adalah penanda keadilan. Dan bahwa seragam bukan sekadar atribut, ia adalah amanah.

Sudah saatnya otoritas pelabuhan menoleh ke pintu masuk itu—bukan hanya melihat palangnya terbuka atau tertutup, tetapi memastikan bahwa di sana masih ada aturan yang ditegakkan, administrasi yang dijalankan, dan nurani yang tidak ditinggalkan.

Karena pelabuhan adalah wajah pelayanan publik. Dan wajah itu, hari ini, tampak kusut oleh karcis yang tak pernah sampai ke tangan pemiliknya.(CS)

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!