Catatan pinggir Muz Latuconsina
(Senin 23 Februari 2023)
Di lereng terjal Gunung Botak, hidup para ojek gunung berjalan di antara keberanian dan risiko. Jalanan yang mereka lalui bukanlah aspal mulus kota, tapi jalur berliku yang dipenuhi bebatuan, tanah licin, dan jurang yang menganga seolah menunggu langkah salah. Setiap turunan dan tanjakan bukan hanya soal tenaga dan keseimbangan, tapi soal nyawa yang selalu dipertaruhkan.
Motor-motor mereka, hasil rakitan khusus, membawa beban yang tidak ringan—lima hingga enam karung matrel, masing-masing dihargai lima puluh ribu rupiah. Dari gunung ke Wamsait, di sebuah dusun di lereng, mereka menyalurkan kebutuhan pokok yang menjadi nadi kehidupan masyarakat. Setiap karung yang diangkut adalah hasil kerja keras yang dibayar murah, tapi risikonya mahal.
Tak hanya menuruni gunung, perjalanan balik pun tidak kalah berat. Dalam jarak lima kilometer dari bawah ke lereng, mereka membawa papan, balok, dan bahan-bahan lain. Tubuh lelah, tangan memegang setang, mata menatap jalan penuh lubang dan jurang—itulah rutinitas yang setiap hari harus mereka lalui, di tengah hawa dingin, hujan, dan panas terik.
Semua itu mereka lakukan demi anak dan istri yang menunggu dengan sabar di rumah. Setiap tetes keringat dan setiap napas berat adalah bentuk cinta yang tak terlihat, pengorbanan yang tak ternilai, demi menatap senyum kecil anak-anak dan ketenangan keluarga di rumah.
Kisah ojek Gunung Botak adalah kisah ketahanan manusia yang sering tak terlihat. Di balik senyum sederhana mereka, tersimpan keberanian yang jarang dihargai, jerih payah yang jauh dari gemerlap kota, dan nyawa yang setiap hari digadaikan demi sesuap rezeki. Jalanan terjal itu bukan hanya medan fisik, tapi simbol kehidupan keras yang mereka jalani—tanpa pilihan, tapi penuh tanggung jawab dan cinta.
Mereka adalah pahlawan sunyi di lereng Gunung Botak, menuruni bahaya demi kehidupan, dan kembali menanjak dengan beban, seolah menyatukan keberanian, keputusasaan, dan cinta untuk keluarga dalam satu tarikan napas.