Ketua DPC Partai Bulan Bintang (PBB) Kabupaten Buru, Ruslan Arif Soamole, mengecam keras pembuat video di platform TikTok yang menuduh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, memperlakukan umat beragama secara berbeda. Menurut Ruslan, konten tersebut tidak hanya sarat fitnah, tetapi juga berpotensi memecah-belah masyarakat yang selama ini hidup rukun dalam keberagaman.
“Video yang beredar itu tidak berdasar, penuh hasutan, dan jelas dibuat oleh provokator yang ingin menciptakan perselisihan antarumat beragama di Maluku,” tegas Ruslan dalam pernyataannya, Kamis (12/3/2026).
Ruslan menjelaskan bahwa tuduhan yang dialamatkan kepada Gubernur Hendrik Lewerissa yang seolah-olah membeda-bedakan perlakuan terhadap umat Islam dan Kristen adalah bohong besar dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Ia menilai narasi provokatif itu telah secara eksplisit menyasar keharmonisan lintas agama yang telah lama menjadi kekuatan sosial di Maluku.
Lebih jauh Ruslan menyatakan, masyarakat Maluku dikenal dengan nilai toleransi tinggi dan saling menghormati antaragama. Ruslan menegaskan bahwa mereka yang memanfaatkan identitas keagamaan untuk menyebarkan kebencian bukanlah bagian dari masyarakat yang menginginkan kedamaian.
“Saya memandang tindakan pembuat video ini sangat berbahaya, karena bukan hanya mencederai nama baik seorang pemimpin daerah, tetapi juga berpotensi menciptakan konflik sosial yang lebih luas,” ujar Ruslan.
Dalam pernyataannya, Ruslan juga mendesak aparat penegak hukum, khususnya Polda Maluku, untuk segera mengambil langkah tegas terhadap para pihak yang membuat konten provokatif tersebut, karena ia menilai narasi fitnah seperti ini jelas melanggar ketentuan hukum terkait ujaran kebencian dan penyebaran konten yang mengancam harmoni sosial.
“Saya berharap Polda Maluku segera menyelidiki kasus ini, mengungkap pelaku secara terang‑terangan, dan menegakkan hukum tanpa tebang pilih agar ada efek jera bagi mereka yang mencoba memperkeruh situasi,” kata Ruslan.
Pernyataan Ruslan ini sekaligus mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dan kritis dalam menanggapi informasi di media sosial. Ia menekankan bahwa tidak semua yang beredar di ruang digital merefleksikan kenyataan, dan masyarakat harus mampu memfilter informasi sebelum mempercayainya.
Kerukunan antarumat beragama di Maluku selama ini telah terjaga dengan baik berkat kerja sama berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat yang menolak segala bentuk provokasi yang berpotensi merusak tatanan sosial. Ruslan pun menyerukan agar semua elemen masyarakat bersatu dalam menolak penyebaran fitnah dan memperkuat semangat persaudaraan yang telah menjadi ciri khas provinsi ini.