Oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF.
Di tengah bentangan dataran Desa Savana Jaya, Kecamatan Waiapo, Kabupaten Buru, berdiri sebuah bangunan panjang yang diam-diam menyimpan jejak sejarah yang tak banyak diketahui orang. Bangunan itu bukan sekadar gedung tua—ia adalah saksi bisu dari masa ketika pulau Pulau Buru menjadi tempat berlangsungnya program inrehab tahanan politik (tapol), dengan pembebasan terakhir tercatat pada tahun 1979.
Gedung kesenian itu kini menjadi satu-satunya bangunan yang masih tersisa dari masa tersebut. Dengan panjang hampir 50 meter dan lebar sekitar 10 meter, struktur ini tampak sederhana, namun kokoh. Dindingnya mungkin telah mengalami perubahan, atapnya mungkin sudah diperbaiki berkali-kali, tetapi ruh sejarah yang terkandung di dalamnya tetap utuh—seolah waktu enggan menghapus jejak yang pernah ditinggalkan.
Dahulu, gedung ini digunakan sebagai ruang ekspresi. Para tahanan politik, yang hidup dalam keterbatasan, menjadikan tempat ini sebagai panggung seni. Di sinilah mereka menampilkan pertunjukan—musik, teater, dan berbagai bentuk kesenian lainnya—sebagai cara untuk mempertahankan kemanusiaan di tengah tekanan hidup. Gedung ini bukan hanya ruang hiburan, melainkan juga ruang harapan.
Kini, suasananya telah berubah. Tidak ada lagi pementasan yang lahir dari kegelisahan masa lalu. Namun, gedung ini tetap hidup dalam cara yang berbeda. Masyarakat Desa Savana Jaya memanfaatkannya sebagai tempat berkumpul—untuk rapat desa, kegiatan sosial, hingga acara-acara kebersamaan. Bangunan ini telah bertransformasi dari simbol keterasingan menjadi pusat kehidupan komunitas.
Perjalanan menuju gedung ini pun relatif mudah. Dari Namlea, ibukota Kabupaten Buru, jaraknya sekitar 20 kilometer dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 25 menit. Jalanan yang dilalui membawa pengunjung melewati lanskap pedesaan yang tenang, seakan menjadi pengantar menuju ruang waktu yang berbeda.
Namun, yang membuat gedung ini istimewa bukan hanya usianya atau ukurannya. Ia adalah pengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk monumen megah atau museum resmi. Kadang, ia hidup dalam bangunan sederhana yang tetap digunakan, dirawat, dan dihidupi oleh masyarakat.
Gedung kesenian di Desa Savana Jaya adalah bukti bahwa masa lalu tidak sepenuhnya hilang. Ia beradaptasi, menyatu dengan kehidupan hari ini, dan terus bercerita—bagi siapa saja yang mau berhenti sejenak, melihat, dan mendengarkan.
———
Penulis adalah eks wartawan harian lokal Suara Maluku Ambon dan eks Wartawan harian Nasional Jawa Pos, Surabaya/Jakarta