Medidiaistana.com || Kota Bogor, Jabar
Industri properti kembali menghadapi tantangan serius. Sejumlah developer dilaporkan mengalami kondisi “mati suri” akibat tingginya biaya investasi yang tidak diimbangi dengan penjualan. Mulai dari pembebasan lahan, pengurusan perizinan, hingga tahap pembangunan telah menguras modal besar, namun produk hunian tak kunjung terserap pasar. Kamis,09/04/2026.
Dalam praktiknya, biaya awal yang dikeluarkan developer tidaklah kecil. Pembebasan lahan kerap memakan waktu panjang dan dana besar, ditambah dengan proses perizinan yang kompleks. Setelah itu, pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan lingkungan, saluran air, dan unit rumah membutuhkan tambahan biaya operasional yang terus berjalan.
Namun ironisnya, saat proyek siap dipasarkan, banyak tim sales yang dinilai tidak mampu mengkonversi minat pasar menjadi transaksi nyata. Kondisi ini membuat arus kas perusahaan terganggu, bahkan terhenti.
“Developer itu sudah ‘all in’ di awal. Uang sudah keluar besar, tapi kalau penjualan macet, efeknya langsung terasa. Cashflow tersendat, proyek berhenti, akhirnya mati suri,” ujar salah satu praktisi pemasaran properti di Bogor.
Analisa permasalahan beberapa faktor utama yang menyebabkan lemahnya penjualan di antaranya:
1. Kualitas dan produktivitas sales rendah : Banyak tenaga penjualan tidak memiliki skill closing, hanya sebatas posting tanpa strategi.
2. Minimnya aktivitas pemasaran aktif : Tidak ada konsistensi dalam promosi digital seperti media sosial, marketplace, hingga live selling.
3. Tidak memahami target market : Produk yang bagus tidak diimbangi dengan segmentasi pasar yang tepat.
4. Kurangnya sistem dan kontrol manajemen : Tidak ada KPI yang jelas, monitoring lemah, dan tidak ada evaluasi rutin.
Strategi marketing tidak adaptif masih mengandalkan cara lama di tengah perubahan perilaku konsumen yang serba digital. Dampak yang ditimbulkan kondisi ini membawa dampak serius bagi developer, antara lain: Cashflow terganggu bahkan berhenti, Proyek mangkrak atau tertunda, Kepercayaan konsumen menurun, Biaya operasional terus membengkak, Risiko gagal bayar ke kontraktor atau pihak ketiga.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat merusak reputasi developer dan menghambat pertumbuhan bisnis properti di daerah. Para praktisi menilai, kunci utama ada pada pembenahan divisi pemasaran. Sales tidak lagi bisa bekerja secara konvensional, melainkan harus adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Sales hari ini harus agresif, konsisten, dan paham digital marketing. Minimal posting setiap hari, aktif di beberapa platform, dan rutin melakukan live selling. Kalau tidak, akan tertinggal,” tambah praktisi tersebut.
Selain itu, developer juga disarankan untuk Menerapkan sistem KPI yang terukur, Memberikan pelatihan intensif kepada tim sales, Mengoptimalkan iklan berbayar (ads), Membuat program promo yang menarik dan relevan, Memanfaatkan konten video pendek untuk meningkatkan engagement
Industri properti bukan hanya soal membangun, tetapi juga menjual. Ketika ujung tombak pemasaran tidak tajam, maka investasi besar yang sudah dikeluarkan menjadi sia-sia. Jika tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin semakin banyak developer yang terjebak dalam kondisi “mati suri”.
Momentum ini menjadi peringatan keras bahwa keberhasilan proyek properti sangat ditentukan oleh kekuatan strategi pemasaran dan kualitas tim penjualan di lapangan.