MAMASA Mediaistana.com Kunjungan anggota DPR RI Komisi X bidang pendidikan dari Partai NasDem, Rathi Megasari Singkarru, ke Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, disambut meriah oleh Bupati Mamasa Welem Sambolangi bersama jajaran pemerintah daerah pada Rabu, 29 April 2026.
Kunjungan tersebut turut didampingi sejumlah anggota DPRD dari berbagai kabupaten di Sulawesi Barat, di antaranya DPRD Kabupaten Polewali Mandar, Majene, Mamuju, Mamuju Tengah, Pasangkayu, dan Kabupaten Mamasa yang ikut hadir dalam rangkaian kegiatan di Mamasa. Kehadiran rombongan disambut antusias oleh masyarakat serta berbagai elemen pendidikan di daerah tersebut.

Agenda utama kunjungan Rathi Megasari Singkarru adalah melakukan pengecekan dan evaluasi terhadap pemanfaatan program beasiswa pendidikan di Kabupaten Mamasa. Sebagai anggota DPR RI Komisi X yang membidangi sektor pendidikan, selama ini Rathi dikenal aktif membantu para pelajar dan mahasiswa melalui program beasiswa, khususnya bagi masyarakat kurang mampu.
“Beliau selama ini dikenal banyak membantu anak sekolah terkait program beasiswa, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA sederajat hingga perguruan tinggi,” ungkap salah seorang guru SMP Negeri di Mamasa yang enggan disebutkan namanya.
Menurutnya, bantuan pendidikan tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama bagi siswa dari keluarga kurang mampu yang membutuhkan dukungan untuk melanjutkan pendidikan mereka. Kehadiran program beasiswa dinilai mampu meringankan beban ekonomi orang tua sekaligus memberikan semangat kepada anak-anak untuk terus bersekolah.
Selain agenda pendidikan, Rathi Megasari Singkarru juga meluangkan waktu mengunjungi masyarakat di Dusun Katoing dan Dusun Ambabang, Desa Sepakuan, Kabupaten Mamasa. Dalam kunjungan tersebut, masyarakat menyampaikan keluhan terkait kondisi jembatan gantung yang selama ini menjadi akses utama warga untuk menyeberangi sungai.
Warga mengaku kondisi jembatan gantung tersebut sudah sangat memprihatinkan dan tidak lagi layak digunakan. Namun karena tidak adanya akses alternatif lain, masyarakat tetap terpaksa menggunakan jembatan tersebut demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kami sebenarnya mempertaruhkan nyawa setiap melewati jembatan ini, tetapi kami tidak punya pilihan lain. Sejak dibangun sekitar tahun 1980 sampai sekarang belum pernah ada perhatian serius untuk perbaikan, khususnya dari pemerintah,” ungkap salah seorang warga pengguna jembatan.
Masyarakat juga menyampaikan bahwa sejak Desa Sepakuan terbentuk pada tahun 2000, perbaikan jembatan gantung selalu menjadi harapan utama warga. Namun hingga kini, harapan tersebut belum juga terealisasi.
“Setiap calon kepala desa saat kampanye selalu menjanjikan perbaikan jembatan ini, tetapi setelah terpilih janji itu kembali terabaikan,” ujar warga lainnya.
Mendengar langsung keluhan masyarakat, Rathi Megasari Singkarru berjanji akan memperjuangkan bantuan untuk perbaikan jembatan gantung tersebut. Meski belum dapat memastikan waktu pengalokasian anggaran, ia memastikan akan mengupayakan agar bantuan tersebut dapat direalisasikan di masa mendatang.
“Kami akan berupaya menurunkan bantuan untuk perbaikan jembatan ini. Memang belum bisa dipastikan waktunya, tetapi kami pastikan akan diperjuangkan,” ujar Rathi di hadapan masyarakat.
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi awal perhatian pemerintah terhadap kebutuhan infrastruktur masyarakat pedesaan di Kabupaten Mamasa, khususnya akses jembatan yang menjadi urat nadi aktivitas warga sehari-hari.
(Nurdin)