Mamasa, Mediaistana.com — Kondisi sarana dan prasarana pendidikan di SMP 3 SATAP Sumarorong, Desa Batangnguru Timur, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat, menjadi sorotan. Dinas Pendidikan Kabupaten Mamasa diduga kurang memberikan perhatian terhadap kondisi sekolah, khususnya mobiler berupa bangku dan meja belajar siswa yang kini banyak mengalami kerusakan dan tidak lagi layak digunakan, Kamis (07/05/2026).
Berdasarkan pantauan Mediaistana.com di lokasi sekolah, sejumlah bangku dan meja terlihat dalam kondisi reok, rusak, dan sebagian sudah tidak layak pakai. Namun karena keterbatasan fasilitas, para siswa tetap terpaksa menggunakannya untuk mengikuti proses belajar mengajar sehari-hari.

Saat dikunjungi awak media, pihak sekolah yang ditemui adalah Wakil Kepala Sekolah, Elma Langi’ Siande, karena kepala sekolah disebut baru saja pulang dari luar sekolah.
Dalam keterangannya kepada media ini, Elma Langi’ Siande menjelaskan bahwa kondisi mobiler di sekolah tersebut memang sudah sangat memprihatinkan. Selain banyak yang rusak, jumlah bangku dan meja juga tidak lagi mencukupi kebutuhan siswa.
“Mobiler di sekolah ini sebagian besar sudah rusak dan tidak layak pakai. Tetapi karena tidak ada lagi pengganti, siswa tetap menggunakannya. Bahkan yang seharusnya satu bangku untuk satu siswa, sekarang terpaksa dipakai dua siswa dalam satu bangku,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pada tahun 2019 lalu terdapat rehabilitasi empat ruang kelas di sekolah tersebut. Namun, seluruh perabot lama yang sebelumnya masih layak digunakan, termasuk meja dan bangku, diangkut oleh pihak pemborong dengan alasan akan dilelang.
“Waktu rehab empat ruang kelas tahun 2019, semua perabot yang dibongkar seperti atap, dinding, termasuk mobiler yang sebenarnya masih layak dipakai, semuanya diangkut oleh pihak pemborong dengan alasan akan dilelang,” katanya.
Saat ini jumlah siswa di SMP 3 SATAP Sumarorong mencapai 66 orang. Dari empat ruang kelas yang direhabilitasi, masing-masing hanya dilengkapi sekitar 10 pasang meja dan bangku baru, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh siswa.
Akibat keterbatasan tersebut, para siswa kerap harus duduk berdempetan saat mengikuti pelajaran. Bahkan ketika pelaksanaan ulangan atau ujian berlangsung, pihak sekolah terpaksa meminjam kursi plastik dari kantor sekolah agar siswa bisa lebih nyaman dan fokus saat mengerjakan ujian.
“Kalau ujian, kami ambilkan kursi plastik dari kantor supaya siswa tidak terlalu berdempetan. Karena kalau dua siswa satu bangku saat ujian tentu mengganggu konsentrasi mereka,” tambahnya.
Pihak sekolah juga mengaku telah berupaya membuat bangku dan meja secara manual menggunakan Dana BOS. Namun jumlahnya masih sangat terbatas dan belum mampu menggantikan seluruh mobiler yang sudah rusak.
Kondisi ini diharapkan menjadi perhatian serius bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Mamasa agar segera mengambil langkah konkret demi mendukung kenyamanan dan kualitas proses belajar mengajar di sekolah tersebut.
(Nurdin P.)