Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Wartawan senior pernah bertanya kepada saya “Apakah ada topik hari ini?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam. Sebab dunia memang selalu membutuhkan berita. Manusia juga pada dasarnya adalah makhluk yang suka mendengar cerita, meskipun tidak semua cerita yang didengar itu menyenangkan.
Lalu saya berpikir, apakah saya punya topik?
Setiap hari saya punya topik.Karena hidup sendiri adalah topik yang tak pernah selesai ditulis.
Saya hanya merespons kehidupan. Memantulkan apa yang hadir di depan mata dan rasa. Lalu mesin pikiran bekerja, menyusun kalimat demi kalimat menjadi cerita. Jika yang direspons adalah suasana susah, gelap, dan berbau kemiskinan, maka pikiran mencatat kegagalan, luka, dan perjuangan. Tetapi jika yang datang adalah suasana damai, terang, bahagia, dan tenteram, maka pikiran menulis tentang harapan, keberhasilan, dan syukur.
Semuanya bergantung ke mana topik itu diarahkan.
Karena sesungguhnya, topik tidak pernah habis. Topik hidup di dalam setiap manusia. Ia lahir dari suasana hati, dari lingkungan sekitar, dari pengalaman yang diam-diam disimpan dalam batin. Tanpa disadari, setiap manusia memiliki buku kehidupannya sendiri. Dan ketika semua buku itu berkumpul, dunia ini berubah menjadi perpustakaan besar bernama bumi.
Mungkin karena itulah hidup selalu mengajarkan sesuatu.
Jika kita mampu menyadarinya dengan rahmat dan kejernihan hati, maka kehidupan adalah guru terbaik. Ia mengajar tanpa ruang kelas, menegur tanpa suara, dan mendewasakan tanpa perlu meminta izin kepada siapa pun.
Oleh sebab itu, jangan pernah lupa merapikan catatan hidup di lembaran hati kita masing-masing. Sebab dari sanalah arah cerita kita ditentukan.
Dan kalau dipikir lebih jujur lagi, sebenarnya kita semua adalah wartawan senior di bumi ini. Kita setiap hari meliput kehidupan, merekam peristiwa, menyimpan rasa, lalu menyebarkan cerita melalui kata-kata, sikap, bahkan diam kita sendiri. Sadar ataupun tidak sadar, itulah pekerjaan manusia sejak pertama kali mengenal kehidupan.
Hari ini, misalnya, topik saya sangat sederhana: lapar.
Karena lapar, saya memasak.Karena makanan telah matang, saya makan.Dan setelah kenyang, saya bersyukur kepada Sang Pemilik Cerita.
Sebab mungkin tidak ada kebahagiaan yang lebih jujur di bumi ini selain menyadari bahwa hari ini kita masih bisa makan, masih bisa kenyang, dan masih mampu mengucapkan syukur.
Karena banyak orang makan tetapi lupa arti kenyang.Dan banyak orang lapar tetapi lupa memahami kesusahan orang lain. Maka sesungguhnya, rasa syukur adalah berita paling baik yang bisa ditulis manusia dalam hidupnya hari ini.