28.1 C
Jakarta
BerandaBeritaGelombang Penolakan Geolistrik Menggema di Pesanggaran, Petani Siaga Jaga Lahan

Gelombang Penolakan Geolistrik Menggema di Pesanggaran, Petani Siaga Jaga Lahan

MEDIAISTANA.COM | BANYUWANGI – Gelombang penolakan terhadap aktivitas geolistrik kembali menggema di wilayah Salakan, Wonoasih, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Sejumlah petani dan tokoh masyarakat turun langsung menjaga lahan pertanian mereka sebagai bentuk sikap tegas mempertahankan ruang hidup, tanah warisan, serta masa depan anak cucu mereka.


Di tengah hamparan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan warga, terpampang jelas spanduk besar bertuliskan “STOP GEOLISTRIK” dan larangan memasuki area pertanian tanpa izin. Pesan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan bentuk kegelisahan dan perlawanan masyarakat yang merasa keberadaan aktivitas geolistrik berpotensi mengancam keberlangsungan hidup petani kecil.


Tokoh masyarakat Salakan, Bapak Suratin, saat ditemui oleh Bapak Pramono dari tim investigasi media, menyampaikan bahwa masyarakat bukan anti pembangunan, namun menolak jika pembangunan dilakukan dengan mengorbankan rakyat kecil, merusak lahan pertanian, dan mengabaikan suara warga sekitar.


“Kami ini petani. Hidup kami dari tanah ini. Anak cucu kami makan dari hasil sawah dan kebun ini. Kalau tanah rusak, air terganggu, lalu kami harus hidup dari apa? Jangan sampai rakyat kecil dikorbankan demi kepentingan segelintir orang,” tegas Suratin di hadapan warga.


Menurutnya, masyarakat selama ini merasa kurang mendapatkan penjelasan terbuka dan transparan terkait dampak aktivitas geolistrik yang dilakukan di kawasan tersebut. Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Mereka takut aktivitas eksplorasi akan membuka jalan terhadap kerusakan lingkungan, terganggunya sumber mata air, hingga ancaman hilangnya lahan produktif yang selama puluhan tahun menjadi penopang ekonomi masyarakat desa.


Penolakan warga Pesanggaran terhadap aktivitas eksplorasi maupun tambang sendiri bukan hal baru. Berbagai aksi serupa sebelumnya pernah terjadi di kawasan Tumpang Pitu dan sekitarnya akibat kekhawatiran masyarakat terhadap dampak lingkungan dan hilangnya ruang hidup petani maupun nelayan.


Dalam spanduk yang dipasang warga juga tertulis peringatan keras agar pihak luar tidak memasuki lahan pertanian tanpa izin. Warga menilai, etika dan penghormatan terhadap hak pemilik lahan harus dijunjung tinggi, apalagi tanah tersebut merupakan sumber kehidupan masyarakat.


Suratin menambahkan, masyarakat kini semakin solid menjaga wilayah pertanian mereka. Menurutnya, warga sudah lelah melihat berbagai persoalan yang muncul akibat aktivitas eksplorasi maupun kepentingan industri yang dianggap lebih berpihak kepada investasi dibanding keselamatan rakyat kecil.


“Kami tidak ingin kejadian buruk datang ketika semuanya sudah terlambat. Hari ini kami masih bisa bertani, masih bisa menikmati hasil bumi. Jangan sampai nanti tanah rusak, air hilang, petani sengsara baru semua menyesal,” ujarnya.


Di lokasi yang sama, suasana kebersamaan antarpetani terlihat kuat. Mereka berdiri bersama di depan papan penolakan sambil terus mengawasi aktivitas keluar masuk orang asing di kawasan pertanian. Sikap itu menjadi simbol bahwa masyarakat bawah mulai sadar menjaga hak atas tanah dan lingkungan mereka sendiri.


Bapak Pramono dari tim investigasi media yang turun langsung ke lokasi juga melihat bagaimana keresahan masyarakat begitu nyata. Menurut keterangan warga, penolakan dilakukan secara damai namun tegas sebagai bentuk perlindungan terhadap wilayah pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.


Warga berharap pemerintah, pihak terkait, maupun perusahaan benar-benar mendengar suara rakyat kecil sebelum mengambil langkah apa pun di kawasan Salakan dan sekitarnya. Mereka meminta agar keselamatan lingkungan, keberlangsungan pertanian, serta hak hidup masyarakat dijadikan prioritas utama.


Bagi warga Salakan dan Pesanggaran, tanah bukan sekadar hamparan lahan. Tanah adalah kehidupan, kehormatan, dan masa depan yang tidak bisa digantikan oleh janji maupun kompensasi apa pun.

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!