Probolinggo, Mediaistana.com
Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo menggelar pelatihan olahan makanan tradisional dalam kemasan bagi pelaku industri kecil di Pasar Semampir, Selasa (26/5/2026).
Kegiatan ini diikuti 50 pelaku usaha kecil dari Pasar Semampir Kecamatan Kraksaan. Pelatihan dibuka resmi oleh Wakil Ketua II Dekranasda Kabupaten Probolinggo Rita Erik Ugas Irwanto, didampingi Kepala DKUPP Sugeng Wiyanto, Sekretaris Dekranasda Galuh Hudan Syarifuddin, dan narasumber dari Latoel Pizza Kraksaan.
Dalam pelatihan ini, DKUPP juga memfasilitasi legalitas usaha dan produk. Layanan yang diberikan meliputi Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, pendaftaran PIRT, hingga desain kemasan bagi pelaku usaha mikro.
Program ini merupakan bagian dari strategi Pemkab Probolinggo untuk mendorong pelaku UMKM pasar tradisional naik kelas. Fokusnya pada peningkatan keterampilan, akses permodalan, dan penguatan pemasaran digital.
Kepala DKUPP Sugeng Wiyanto mengatakan pemerintah daerah saat ini fokus membina UMKM di pasar tradisional karena memiliki potensi besar untuk berkembang.
Banyak pelaku usaha di pasar sebenarnya sudah mampu memproduksi makanan berkualitas. Mereka hanya butuh penguatan pada inovasi produk, legalitas, dan akses pembiayaan, ujarnya.
Menurut Sugeng, tujuan pelatihan adalah memberdayakan UMKM dari hulu ke hilir. Mulai dari proses pembuatan kue, fasilitasi perizinan, hingga pendampingan akses permodalan.
Kalau skill dan produknya sudah bagus, kami bantu buka akses pembiayaan lewat perbankan. Harapannya pemasaran bisa lebih luas dan usaha semakin besar, jelasnya.
Sugeng menambahkan, UMKM di pasar tradisional menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat. Tahun 2026, pembinaan memang diarahkan ke sektor ini.
Rata-rata mereka sudah bisa produksi. Tinggal kita tingkatkan skill dan permodalannya agar bisa naik kelas, katanya.
Wakil Ketua II Dekranasda Rita Erik Ugas Irwanto mengingatkan pelaku UMKM agar tidak takut bersaing di era digital. Menurutnya, kualitas rasa saja tidak cukup. Inovasi pada produk, kemasan, dan strategi pemasaran juga penting.
Sekarang orang bersaing dari bentuk, warna, rasa, sampai cara jualan. Produk bagus tapi hanya dijual di rumah, yang tahu hanya orang sekitar, ujarnya.
Rita Erik menekankan pentingnya pemasaran digital. Ia mendorong pelaku UMKM aktif mengikuti pelatihan pengemasan dan digital marketing agar produk bisa dikenal lebih luas lewat TikTok dan media sosial lainnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi kualitas. Produk yang dipromosikan di online harus sesuai dengan barang aslinya, baik dari rasa, tekstur, maupun kemasan.
Kalau kuenya sudah enak tapi kemasannya jelek, sayang. Konsumen sekarang lihat tampilan dulu sebelum coba rasanya, tegasnya.
Rita Erik turut menekankan pentingnya legalitas usaha. Dengan izin resmi, produk UMKM bisa masuk program pengadaan pemerintah dan dipasarkan lebih luas.
Melalui pelatihan ini, Pemkab Probolinggo berharap pasar tradisional tidak hanya jadi pusat perdagangan, tetapi juga tempat tumbuhnya UMKM kreatif, inovatif, dan berdaya saing tinggi.