30.1 C
Jakarta
BerandaBerita8 Tahun Multigrade Teaching, SDN Wonokerto 2 Sulap Keterbatasan Jadi Sekolah Kreatif

8 Tahun Multigrade Teaching, SDN Wonokerto 2 Sulap Keterbatasan Jadi Sekolah Kreatif

Probolinggo, Mediaistana.com
Penerapan pembelajaran kelas rangkap atau multigrade teaching di SDN Wonokerto 2, Kecamatan Sukapura, terbukti jadi solusi efektif bagi SD di kawasan pegunungan dengan jumlah siswa dan guru terbatas.

Model ini diterapkan sejak 2018 melalui program INOVASI, Kemitraan Indonesia-Australia di bidang pendidikan. SDN Wonokerto 2 ditunjuk sebagai salah satu dari 8 SD pilot project di Kecamatan Sukapura, sebelum ditetapkan resmi lewat SK Bupati Probolinggo Nomor 19 Tahun 2018.

Sebelum jalan, para guru dapat pelatihan dan pendampingan dari fasilitator daerah. Tujuannya agar siap mengelola dua jenjang kelas dalam satu ruang belajar.

Kepala SDN Wonokerto 2 Ahmad Samhaji menyebut keputusan ini lahir dari kondisi nyata. Saat itu jumlah siswa kurang dari 50 orang, ada kelas yang hanya diisi 4-5 siswa sehingga pembelajaran reguler kurang efektif.

Dengan kondisi seperti itu, multigrade teaching jadi pilihan paling tepat. Proses belajar tetap efektif dan siswa bisa belajar kolaboratif, ujarnya.

Pelaksanaannya, dua jenjang kelas digabung dalam satu ruang. Pengelompokan tidak berdasarkan kelas, tapi kemampuan siswa. Kelas 1 yang 5 siswa dan kelas 2 yang 4 siswa bisa digabung jadi 9 siswa lalu dibagi kelompok belajar.

Dampaknya langsung terasa di sisi sosial. Interaksi siswa jadi lebih luas karena terbiasa belajar bersama kakak dan adik kelas. Anak-anak lebih terbuka berdiskusi, kerja sama, dan saling bantu.

Model ini juga menekan budaya senioritas dan perundungan. Rasa senior-junior hampir tidak ada. Anak lebih sering interaksi sehingga potensi bullying sangat minim, tegasnya.

Secara akademik, literasi dan numerasi siswa meningkat lewat tutor sebaya yang berjalan alami. Siswa yang cepat paham membantu teman yang kesulitan. Metode ini efektif mengasah kemampuan dasar.

Dari sisi manajemen, multigrade teaching bikin pengelolaan guru lebih efisien. Cukup 3 guru kelas untuk menangani fase A, B, dan C. Tantangannya guru dituntut lebih kreatif merancang pembelajaran diferensiasi untuk dua tingkat sekaligus.

Efisiensi juga dirasakan di fasilitas. Dengan 3 ruang untuk 3 fase, 3 ruang lain bisa dialihfungsikan jadi ruang guru, ruang Pramuka, dan ruang kreatif berbasis digital. Sekolah tak perlu bangun ruang baru.

Keberhasilan ini dapat dukungan penuh orang tua, komite, dan pemangku kepentingan. Awalnya ragu, kini masyarakat percaya sekolah multigrade mampu melahirkan kualitas pendidikan yang baik.

Kami harap guru yang sudah paham multigrade tidak mudah dimutasi. Kami akan terus belajar dan beradaptasi agar anak-anak yang dititipkan ke kami jadi generasi unggul, pungkasnya.

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!